Guru Berperan Strategis Dorong Setiap Anak Menjadi Pemimpin

oleh -3 Dilihat

YOGYAKARTA—Guru memiliki peran strategis dalam mendidik dan membantu setiap siswa agar bisa menjadi pemimpin dalam berbagai bidang di masa depan. Untuk itu agar guru mengetahui potensi semua anak didiknya.

Demikian disampaikan Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana pada Sharing Komunikasi dan Motivasi bertajuk “Menjadi Pendidik Bahagia dan Membahagiakan” di hadapan sekitar 100 orang guru PAUD, TK, SD, dan SMP serta pegawai Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Al Khairaat Yogyakarta di Hotel Burza Jogokariyan Yogyakarta pada Jumat (26/11/2021).

“Dorongan guru memotivasi para siswa untuk mengambil peran kepemimpinan dan aktif di masyarakat sangat penting. Diperlukan komitmen kuat dan keikhlasan guru dalam memainkan peran besar pengembangan kapasitas kepemimpinan anak didik di kemudian hari,” ungkap Dr Aqua.

Untuk mewujudkan semua itu, lanjut pria santun yang rendah hati tersebut, para guru perlu lebih fokus dan serius melihat potensi setiap anak didiknya. Kemudian dengan penuh kesabaran membimbing mereka.

Para guru menurut Dr Aqua harus meyakini bahwa setiap siswa memiliki kelebihan masing-masing dibandingkan teman-temannya. Semua itu bisa dikembangkan sejak pendidikan dini.

Jika para guru jeli mengamati anak didiknya termasuk potensi yang dimiliki tiap-tiap anak, menurut Dr Aqua, akan lebih mudah untuk mengembangkannya. Asal konsisten melaksanakannya.

Para guru harus berusaha agar semua siswa percaya padanya. Dengan timbulnya kepercayaan itu maka akan gmpang dalam berkomunikasi dan bisa intens. Selanjutnya bersama-sama mengoptimalkan potensi siswa-siswanya.

*Senang Dapat Amanah*
Lebih lanjut Dr Aqua mengingatkan para guru agar jangan pernah menganggap siswa-siswa yang pintar sebagai saingan mereka. Justru yang terbaik adalah menjadikannya sebagai mitra.

“Jadikanlah siswa-siswa yang pintar sebagai asisten guru. Beri kesempatan kepada mereka untuk mengajari teman-teman sekelasnya. Mereka pasti senang mendapat amanah tersebut,” ujar Dr Aqua.

Di samping itu, lanjut alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Muhammadiyah Malang itu agar para guru selalu menghargai pendapat para siswa dengan melaksanakan MAK. Sehingga semuanya senang berkomunikasi dengan gurunya.

MAK adalah singkatan dari Menyimak, Apresiasi, dan Konfirmasi. Dengan melakukan tiga hal itu maka akan terjadi komunikasi yang sehat dan seimbang di kelas.

“Sebagai guru jangan ragu-ragu menyimak semua yang disampaikan para siswa. Kemudian mengapresiasinya agar murid yang menyampaikan pendapatnya senang. Setelah itu melakukan konfirmasi atas seluruh hal yang disampaikannya sehingga pesan yang disampaikan jelas dan dapat dipertanggungjawabkan,” lanjut Dr Aqua.

Motivator ulung ini menambahkan guru sejati adalah figur yang bisa membuat murid percaya akan kemampuannya sendiri dan bersyukur melihat perkembangan muridnya, sekecil apa pun. Mereka yang ikhlas, tulus, dan rela membagi pengetahuannya. Dari guru, kita semua  bisa belajar banyak tentang perilaku agar sabar dan rendah hati serta segudang kebaikan lainnya.

Dr Aqua menyatakan terkait dengan itu setiap guru harus yakin dengan semua kemampuan yang dimilikinya. Sehingga saat mengajar di kelas melakukannya dengan penuh percaya diri.

“Cintailah dengan sepenuh hati pekerjaan sebagai guru. Apalagi jika menyadari sepenuhnya bahwa profesi ini sangat mulia. Dengan begitu maka akan totalitas menjalaninya. Sama sekali tidak ada beban,” tegas Dr Aqua.

Dosen luar biasa Bidang Komunikasi di semua Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI serta Sekolah Staf Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri ini melanjutkan, jika dapat dengan sepenuh hati melaksanakan profesi mulia sebagai guru maka menjalaninya tidak pernah merasa lelah. Bahkan selalu bahagia.

Sikap itu menurut Dr Aqua secara signifikan berpengaruh pada lingkungan sekolah. Terutama saat berinteraksi dengan semua siswa, sesama guru, dan para pegawai di sekolah.

Pasti saat berinteraksi dengan mereka dan pihak lain termasuk orang tua siswa, ujar bapak dari Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana ini, komunikasinya enak, nyaman, dan menyenangkan. Sehingga hasilnya positif dan bermanfaat bagi seluruh orang yang berkomunikasi.

Dengan mencintai profesi guru sepenuh hati, tambah Dr Aqua, pengaruh positifnya besar sekali pada semua siswanya. Saat mengajar melakukannya dengan sepenuh hati dan totalitas.

“Semua siswa yang mendapatkan pelajaran dari guru yang mengajar dengan sepenuh hati pasti senang sekali. Mereka merasa dekat dengan gurunya dan menjadi sangat percaya diri pada kemampuannya. Juga tidak ragu-ragu bertanya jika ada hal-hal yang perlu ditanyakan,” ujar Dr Aqua.

Salah satu kesuksesan seorang guru, kata doktor Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran ini adalah dekat dengan seluruh siswanya. Komunikasinya tidak ada jarak. Dengan begitu setiap siswa dapat setiap saat bicara dengan gurunya tanpa ada perasaan khawatir apalagi takut.

Hal itu bisa terwujud, ungkap Dr Aqua jika setiap guru menganggap semua siswa seperti anaknya sendiri. Sehingga setiap berkomunikasi seperti orangtua dan anaknya.

Dengan kedekatan secara emosional, papar Dr Aqua maka hubungan antara guru dan semua siswanya harmonis sekali. Saat berkomunikasi sama sekali tidak ada jarak.

Hal itu secara positif membuat guru mengetahui plus minus masing-masing siswanya. Kemudian membantu mereka mengoptimalkan potensi dirinya. Dengan begitu setiap siswa lebih percaya diri.

“Kedekatan antara guru dengan semua siswanya penting sekali. Dengan komunikasi yang tidak ada jarak membuat guru mengetahui plus minus masing-masing siswanya. Kemudian berusaha membantu agar mereka dapat mengoptimalkannya sebagai nilai tambah pada setiap siswa,” tutur Dr Aqua.

*Secara Universal*
Untuk mewujudkan semua itu, setiap guru harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan efektif. Para guru bisa mempelajari dan mendalaminya. Dasarnya adalah selalu berkomunikasi dengan hati dan hati-hati.

Kemudian secara konsisten melaksanakan
REACH Plus A+C di mana saja berada. Jadi tidak hanya dengan para siswa tetapi pada semua orang. Hal ini berlaku secara universal di mana saja berada.

Aspek pertama adalah sikap menghargai orang lain tanpa kecuali yang diwakili dengan kata “Respect”. Penulis buku “super best seller” trilogi The Power of Silaturahim ini menegaskan di mana pun kita berada, jangan pernah menganggap remeh siapa pun. Hormati dan hargai semua orang termasuk para siswa.

“Salah satu contohnya saya paling respect sama sopir yang  mengemudikan mobil saya selama di Yogyakarta. Namanya Pak
Dicky Pontjowanto. Kenapa, karena ketika saya di mobil, maka keselamatan dan “nyawa” saya dalam perjalanan ada di tangan sopir,” terang Dr Aqua.

Kedua adalah sikap “empathy” (empati). Para guru harus bisa merasakan yang dirasakan orang lain termasuk para siswa. Dengan begitu semuanya merasa nyaman. Apalagi kalau kemudian dapat membantu mengatasi kesulitan mereka.

“Berempatilah pada setiap orang terutama yang ada kaitan dengan aktivitas kita. Hal itu dapat membuat komunikasinya jadi nyaman dan lancar,” tutur Dr Aqua.

Ketiga adalah “audible” atau dapat dipahami dan dimengerti. Berusahalah agar semua yang disampaikan kepada orang lain termasuk para siswa pesannya dapat mereka terima.

“Pesan yang kita sampaikan diupayakan secara maksimal dapat dipahami oleh penerima pesan. Ini sangat penting agar mereka tidak salah memahaminya sehingga umpan baliknya sesuai dengan yang diharapkan,” ungkap penulis buku “super best seller” yang berjudul “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi” ini.

Dr Aqua kemudian menjelaskan tentang elemen penting dalam proses komunikasi agar efektif dan mencapai sasaran. Sambil bercanda pria yang berasal dari Kota Padang, Sumatera Barat itu, mengatakan hal ini sedikit teoritis untuk menunjukkan yang bicara adalah doktor Komunikasi.

“Ini agak teoritis sedikit. Agar semua peserta yakin bahwa yang bicara adalah doktor Komunikasi. Jadi tidak sekedar ngomong saja,” guyon Dr Aqua yang disambut tertawa oleh para peserta.

Menurutnya dalam suatu proses komunikasi ada beberapa elemen penting. Hal ini sangat menentukan keberhasilan berkomunikasi.

Hal tersebut adalah Pengirim informasi (Sender), Simbol/Isyarat (Encoding), Saluran (Channel),  Mengartikan Simbol/Isyarat (Decoding), Penerima (Receiver), Umpan Balik (Feedback) dan Pesan (Message) itu sendiri.

Pertama adalah Pengirim (Sender) atau disebut dengan Komunikator. Biasanya telah menyiapkan berbagai pesan yang akan disampaikan.

“Saat ini saya menjadi komunikator. Menyampaikan banyak pesan kepada seluruh peserta Sharing Komunikasi dan Motivasi,” jelas Dr Aqua.

Kedua adalah Pesan (Message). Merupakan proses menyampaikan berbagai pemikiran termasuk ide, gagasan, pedoman, instruksi, perintah, dan lainnya. Ketika melakukan ini terkadang ada gangguan (noise). Upayakan untuk meminimalisirnya agar semua pesan tersampaikan dengan baik.

Ketiga adalah mengkonversikan pesan ke bentuk simbolis (encoding). Ini adalah proses mengubah semua pesan yang akan disampaikan menjadi simbol, kalimat, tindakan, gerakan tubuh, diagram, gambar-gambar dan lainnya.

“Penerima pesan harus bisa memahami seluruh pesan yang disampaikan. Untuk itu dibutuhkan kepiawaian pengirim pesan agar semua yang disampaikannya mudah dipahami,” kata Dr Aqua.

Keempat, saluran komunikasi (channel). Dalam menyampaikan pesan, pengirim pesan harus menggunakan saluran komunikasi yang tepat. Ini sangat penting agar semua yang disampaikan dapat diterima secara efektif dan penerima pesan menafsirkannya secara benar.

Selain saluran komunikasi harus tepat, juga terkait erat dengan hubungan interpersonal antara pengirim dan penerima pesan. Termasuk urgensi pesan yang akan dikirim.

Kelima adalah pengertian ulang simbolis (Decoding). Pada proses ini penerima berusaha untuk menafsirkan semua  pesan yang disampaikan pengirim kepadanya dan mencoba memahaminya dengan sebaik mungkin.

“Komunikasi yang efektif hanya terjadi jika penerima pesan memahami sama persis dengan yang dimaksudkan pengirim pesan. Untuk itu sebaiknya menyampaikannya dengan kalimat sederhana yang mudah dipahami,” ujar Dr Aqua.

Keenam adalah penerima pesan (Receiver). Biasa juga disebut dengan komunikan. Harus berusaha secara maksimal memahami semua pesan yang diterima.

Komunikasinya efektif jika semua pesan yang dikirimkan dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Kemudian memahaminya sesuai dengan maksud pengirim pesan.

Ketujuh adalah umpan balik (feedback). Merupakan langkah terakhir dari proses komunikasi. Ini sekaligus buat  memastikan penerima telah menerima pesan dengan baik dan menafsirkannya secara benar sesuai dengan yang dimaksudkan oleh orang yang mengirimkan pesan.

“Umpan balik menunjukkan bahwa komunikasinya dua arah. Tanggapan penerima pesan wujudnya bisa verbal dan non verbal. Hal ini sangat penting bagi pengirim pesan untuk mengetahui efektif atau tidak pesan yang disampaikannya,” jelas Dr Aqua.

Aspek selanjutnya dari REACH ungkap penulis banyak buku “super best seller” ini adalah “clarity” atau kejelasan dari semua pesan yang disampaikan. Jangan sampai menimbulkan multi interpretasi atau tafsir yang akhirnya tujuan berkomunikasi tidak tercapai.

“Clarity” bisa juga diartikan sebagai upaya melakukan transparansi dalam berkomunikasi. Perlu membiasakan hal ini, tanpa menutup-nutupi informasi, agar penerima pesan menjadi percaya.

Apapun pesan komunikasi yang disampaikan harus dapat dipahami oleh pihak lain, dengan penyampaian yang sederhana dan apa adanya.

“Semua pesan yang disampaikan harus jelas agar tidak terjadi multi interpretasi atau penafsiran yang berbeda dari penerima pesan. Jika itu terjadi dampaknya bisa fatal,” tegas Dr Aqua.

Terakhir adalah “humble” atau rendah hati. Jangan pernah tinggi hati dan sombong karena itulah awal dari keterpurukan kita sebagai manusia.

“Contohnya adalah jabatan seseorang. Itu ibarat kapas di ujung telunjuk. Begitu ditiup bisa langsung hilang. Sebagai manusia tidak ada yang perlu kita sombongkan. Semuanya milik Tuhan. Kita hanya dititipkan saja. Setiap saat yang kita miliki bisa diambil pemilikNya dan kita diminta pertanggungjawabannya,” terang Dr Aqua yang sangat rendah hati.

“REACH” menurut laki-laki yang hobi silaturahim ini tidak ada artinya jika tidak dilengkapi dengan huruf ‘A’ dan ‘C’ yakni Action dan Consistency atau Tindakan nyata dan cepat serta Konsistensi dalam pelaksanaannya. Jadi yang paling penting adalah implementasi pelaksanaannya secara terus-menerus.

Komunikasi itu lanjut Dr Aqua kelihatannnya sederhana. Bahkan ada orang yang menyepelekannya. Apalagi merasa sejak lahir setiap hari telah berkomunikasi.

“Padahal komunikasi itu vital sekali. Jika tidak hati-hati dalam berkomunikasi dampaknya bisa fatal. Telah banyak contoh mengenai hal ini,” ungkap Dr Aqua yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Pusat.

Kemudian Dr Aqua menyebutkan setiap guru dalam aktivitas sehari-hari biasanya melaksanakan komunikasi internal dan eksternal. Keduanya sama pentingnya dan saling terkait.

Agar komunikasi eksternalnya bagus maka komunikasi di internalnya harus baik. Sesama guru dan pegawai di Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Al Khairaat harus berkomunikasi secara baik. Apalagi sebagai sesama saudara.

“Sesama pegawai di sini jangan ada yang merasa sebagai pesaing. Salah besar jika ada yang beranggapan seperti itu. Saingannya adalah para guru dan sekolah-sekolah lainnya yang bukan milik Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Al Khairaat. Upaya maksimal yang perlu dilakukan berusaha menjadi yang terbaik sehingga mengalahkan semua kompetitor,” ujar Dr Aqua.

*Tidak Sekedar Ucapan*
Di awal pemaparannya pria kelahiran Pematang Siantar, 23 Januari 1970 itu menyampaikan selamat kepada semua guru yang sehari sebelumnya, Kamis (25/11/2021) memperingati Hari Guru Nasional. Betapa mulianya profesi ini sehingga rutin diperingati setiap tahun.

“Para guru berjasa kepada semua orang termasuk ke saya. Gurulah yang membuat seseorang bisa cerdas hatinya, cerdas komunikasinya, dan cerdas otaknya. Tanpa guru semua itu tidak dapat terwujud,” ungkap pria yang memiliki jejaring yang luas ini.

Terkait dengan itu, Dr Aqua mengatakan sangat menghormati semua guru yang telah menekuni profesi mulia tersebut. Penghormatan itu tidak sekedar ucapan namun berusaha membantu sesuai kemampuannya.

Anak bungsu dari lima bersaudara itu yang melaksanakan pendidikan mulai dari dasar hingga SMA di Pematang Siantar, setiap datang ke kota tersebut berusaha menemui guru-gurunya. Saat ketemu mencium tangan mereka sebagai rasa hormatnya kepada para guru yang pernah mendidiknya.

Biasanya guru-guru yang ditemui Dr Aqua kaget. Sama sekali tidak menyangka ada siswanya yang masih berkenan menemui mereka. Kemudian memeluknya dan menangis terharu.

Begitu mulianya pekerjaan para guru terutama mencerdaskan banyak orang, sehingga mereka yang menekuni profesi ini kata Dr Aqua merupakan ahli surga. Insya Allah masuk surga.

“Profesi guru mulia sekali. Insya Allah para guru termasuk yang hadir di acara Sharing Komunikasi dan Motivasi ini masuk surga. Asal meniatkan semua pekerjaannya sebagai ibadah. Ikhlas melakukan seluruh aktivitasnya, bukan terpaksa,” tegas Dr Aqua.

Pria yang hobi membaca ini mengingatkan seluruh yang hadir untuk menekuni pekerjaannya secara sungguh-sungguh dan serius agar hasilnya optimal. Jangan setengah-setengah apalagi merasa terpaksa, karena akan merugikan diri sendiri.

*Harus Dihormati*
Dr Aqua melanjutkan filosofi hidupnya adalah semua orang yang berkomunikasi dengannya baik secara langsung maupun tidak langsung adalah guru. Mereka harus dihormati tanpa melihat latar belakangnya.

“Filosofi hidup saya yaitu semua orang yang  saya temui adalah guru. Siapa pun dia dan apa pun latar belakangnya, harus saya hormati. Penghormatan kepada setiap orang sama dan universal,” ungkap penulis buku-buku laris ini.

Staf Ahli Ketua Umum KONI Pusat Bidang Komunikasi Publik ini menambahkan, sebagai guru, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat menjadi pelajaran hidup bagi sesama. Sehingga di mana pun dan kapanpun  selalu berupaya mengambil hikmah dan pelajaran dari siapapun. Dengan demikian hidup kita akan senantiasa terasa berkah.

Dr Aqua belajar dari semua kelebihan setiap orang yang berkomunikasi dengannya. Juga selalu mengambil hikmah dari kekurangan-kekurangan mereka.

Jadi dari setiap orang yang berinteraksi dengan dirinya, mantan Humas Semen Cibinong (sekarang Solusi Bangun Indonesia-red) selalu mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman berharga. Hal itu dapat memperkaya dirinya terutama dari sisi hati dan pikiran.

Dalam menjalankan peran profesional sebagai pendidik, menurut anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Pusat itu, setiap guru harus dapat melaksanakan 3K. Hal itu merupakan kunci sukses dalam melakukan semua aktivitas.

‘K’ yang pertama adalah Kredibilitas. Sebagai guru, harus selalu berusaha untuk menjadi orang yang dipercaya. Guru harus jadi teladan bagi setiap siswa.

Sementara, ‘K’ yang kedua adalah Komitmen. Sebagai pendidik, menurut motivator ulung yang telah memotivasi ratusan ribu orang ini di 34 provinsi dan puluhan negara ini, guru harus selalu melaksanakan janji. Tepati, jangan sampai mengingkarinya. Sehingga para siswa selalu mempercayainya.

Terakhir, ‘K’ yang ketiga adalah Konsisten. Lakukan semua aktivitas terutama dalam bekerja secara konsisten. Ini sangat penting karena erat kaitan dengan kredibilitas sebagai guru.

*Biaya Terjangkau*
Sementara Ketua Bidang Manajemen Pendidikan Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Al Khairaat Yogyakarta Budi Wiyarno dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Dr Aqua atas kesediaannya memberikan Sharing Komunikasi dan Motivasi. Merupakan rezeki yang luar biasa buat semua peserta.

“Kita sangat bersyukur dan beruntung sekali karena di tengah-tengah jadwalnya yang padat, Pak Aqua berkenan meluangkan waktu untuk Sharing Komunikasi dan Motivasi kepada kita. Untuk itu mari kehadiran beliau, kita optimalkan,” ajak Budi.

Dia melanjutkan, Dr Aqua hadir di acara Sharing Komunikasi dan Motivasi tanpa dibayar alias gratis. Jika harus membayar, tentunya tidak mampu karena mahal.

Budi kemudian menjelaskan tentang Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Al Khairaat. Salah satu tujuannya adalah mewujudkan pendidikan Islam Terpadu dengan biaya yang terjangkau.

Selama ini menurutnya kesan yang muncul sekolah Islam Terpadu biayanya mahal. Hanya orang-orang kaya saja yang bisa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah tersebut.

Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Al Khairaat hadir untuk membuktikan bahwa kesan itu tidak benar. Siapa saja bisa bisa mendapatkan pendidikan di sekolah Islam Terpadu meski bukan orang kaya.

“Alhamdulillah kehadiran semua sekolah milik Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Al Khairaat mendapat sambutan dari masyarakat. Terbukti sampai sekarang kami masih bertahan bahkan makin maju,” pungkas Budi.

Dr Aqua menegaskan, menjadi guru itu tidak mudah. Terbukti banyak orang tua yang kewalahan mengajari anak-anaknya di rumah akibat pandemi COVID-19. Oleh karena itu, orang tua perlu menyadari besarnya peran guru dalam mendidik anak-anak mereka. “Orang tua juga sepatutnya menghormati guru, bukannya malah marah-marah ke guru. Saya meyakini para guru akan masuk surga dengan catatan mereka melakukannya dengan keikhlasan, tanpa pamrih,” ucap Dr Aqua.

Dewan Pakar Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi (ISKI) Pusat itu juga menegaskan bahwa dalam bekerja, setiap orang termasuk kalangan guru hendaknya memperhatikan rumus empat “as” yang akan melahirkan “as” yang kelima. “Kunci dalam bekerja adalah sikap ikhlas, inilah energi utama dalam bekerja dan melakukan aktivitas apapun. Serahkan semua hal kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Kedua bekerja dengan cerdas yakni beraktivitas dengan efektif dan efisien dan kalau bisa lakukan multitasking dengan penekanan skala prioritas,” ungkap Aqua Dwipayana.
Kemudian, bekerjalah dengan keras karena menunjukkan konsistensi. “Setelah bekerja keras, jalankanlah dengan tuntas. Jangan setengah-setengah. Bila perlu menginap di kantor ketika menyelesaikan sebuah tugas penting karena hal ini terkait dengan kredibilitas kita. Ketika kita menjalankan keempatnya dengan baik, maka semua aktivitas dan pekerjaan kita akan berkualitas. Lakukanlah hal ini secara konsisten dan terus-menerus,” katanya menguraikan.
Lebih jauh disampaikan, Dr Aqua menguraikan ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar kalangan guru selalu merasa bahagia. “Jalanilah profesi ini dengan ikhlas dan diniatkan dengan lurus, kurangi beban administari. Kemudian, miliki waktu untuk menyenangkan diri misalnya dengan menjalani hobi dan aktivitas menyenangkan sebagai selingan di tengah beban profesi kita,” ungkap pria yang sudah mengumrahkan gratis lebih dari 150 orang dari royalti penjualan buku-buku super best seller yang ditulisanya dan dihimpun dalam Trilogi The Power of Silaturahim.
Ia juga mendorong para guru untuk selalu adaptif serta memiliki budaya inovatif dari pengalaman belajar. “Kemudian mampu berintegrasi dengan teknologi dan meningkatkan skill atau keterampilan,” ucapnya.
Pria yang sudah berniat mewakafkan 90 persen sisa hidupnya untuk aktivitas silaturahim dan sosial itu mengungkapkan untuk bisa menggapai keberhasilan dalam kehidupan, seseorang tidak hanya bisa hanya mengandalkan pada kecerdasan berpikir. “Keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup hanya bisa diperoleh lewat kecerdasan komunikasi dan kecerdasan hati. Oleh karena itu, kita dituntut  mengasah kemampuan komunikasi secara komprehensif tanpa harus belajar secara formal. Apalagi kalangan guru,” kata Dr Aqua Dwipayana.
Untuk mencapai efektivitas komunikasi, menurut Dr Aqua yang semakin padat jadwal kegiatannya di masa pandemi Covid-19 ini, kita harus dapat menjalankan rumus REACH Plus AC. Hal ini mengacu pada lima aspek yakni “Respect” atau perhatian yaitu di mana saja, kapan pun, kepada siapa pun selalu menghormati, jangan pernah meremehkan. Kemudian, “Empathy” atau bisa menempatkan diri yaitu bagaimana merasakan apa yang dirasakan orang lain. Melayani dengan optimal dan standar, tidak ada perbedaaan atau diskriminasi
“Selanjutnya “Audible” atau mudah dimengerti yaitu semua yang disampaikan gampang dipahami. “Clarity” atau kejelasan pesan yang diutarakan dengan mengutamakan etika komunikasi sehingga mudah  dimengerti. Terakhir, “Humble” atau rendah hati, tidak ada yang perlu disombongkan oleh setiap manusia. Semua itu perlu dilengkapi dengan huruf “AC” yakni “Action” atau Tindakan nyata dan cepat serta “Consistency” atau Konsistensi yang dilakukan secara terus-menerus,” ucapnya
Jadwal Aqua Dwipayana sangat padat. Banyak undangan Sharing Komunikasi dan Motivasi yang diterimanya. Meski masih suasana pandemi Covid-19, namun tidak menyurutkan aktivitasnya. Bahkan sebaliknya makin meningkat. Hingga akhir tahun ini sebagian besar agendanya sudah penuh.
Selama pandemi Covid-19 motivator laris tersebut merasakan waktu yang ada terasa kurang. Itu terjadi karena banyaknya undangan Sharing Komunikasi dan Motivasi serta melaksanakan silaturahim di berbagai kota di Indonesia.
“Hikmah pandemi Covid-19 buat saya adalah bertubi-tubinya undangan Sharing Komunikasi dan Motivasi. Banyak orang yang demotivasi sehingga perlu ‘disentuh’ hatinya untuk disemangati. Saya sangat bersyukur atas semua amanah tersebut,” ungkap Dr Aqua. ***