Dorong Petani Aur Malintang Olah Kaliandra Jadi Pakan Ternak dan Ikan, PT Semen Padang Serahkan Mesin Pencacah dan Pembuat Pelet 

oleh -27 Dilihat
oleh

PADANG PARIAMAN, KLIKSIAR — PT Semen Padang terus memperkuat komitmennya dalam mendorong kemandirian dan peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Salah satunya diwujudkan melalui pelatihan pemanfaatan produk turunan daun kaliandra menjadi pakan ternak dan pakan ikan bagi masyarakat di Nagari III Koto Aur Malintang Selatan, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Kabupaten Padang Pariaman.

Pelatihan yang digelar di Amal Plaza pada 10-11 September 2026 tersebut, menjadi bagian dari upaya PT Semen Padang dalam mengembangkan potensi sumber daya lokal agar tidak hanya dimanfaatkan dalam bentuk bahan baku energi terbarukan pengganti batu bara, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan berpotensi mendukung kegiatan ekonomi produktif masyarakat.

Kegiatan dibuka Kepala Unit CSR PT Semen Padang Hernes. Hadir dalam kesempatan tersebut Manajer Koperasi Amal Sejahtera Mandiri Pudirman, Perwakilan Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Padang Pariaman Syafruddin, Perwakilan Camat IV Koto Aur Malintang Sumardi, serta para peserta pelatihan yang berasal dari Kelompok Tani Kaliandra.

PT Semen Padang juga menghadirkan dua narasumber dari Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP), yakni Prof. Ramaiyulis yang memberikan materi terkait pemanfaatan kaliandra untuk pakan ternak serta Auzia Asman yang menyampaikan materi mengenai pengolahan kaliandra sebagai bahan pakan ikan.

Tidak hanya memberikan peningkatan kapasitas melalui pelatihan, pada kesempatan tersebut PT Semen Padang turut menyerahkan bantuan sarana produksi,, berupa satu unit mesin pencacah, mesin pembuat pelet, serta 10 unit stup up madu galo-galo.

Kepala Unit CSR PT Semen Padang Hernes mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program TJSL perusahaan yang diarahkan untuk mendorong peningkatan kapasitas masyarakat sekaligus mengembangkan potensi ekonomi lokal.

Menurutnya, pelaksanaan program dilakukan melalui kolaborasi dengan PPNP sebagai institusi pendidikan yang memiliki kompetensi dalam pengembangan teknologi pertanian dan peternakan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang aplikatif kepada masyarakat, khususnya petani kaliandra dan kelompok masyarakat yang memiliki potensi mengembangkan usaha berbasis komoditas lokal.

“Melalui kegiatan ini kami ingin mendorong masyarakat agar potensi kaliandra yang ada dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Hernes.

Ia menjelaskan, pemanfaatan kaliandra menjadi pakan ternak dan pakan ikan merupakan salah satu bentuk inovasi dalam mengembangkan komoditas lokal. Tanaman kaliandra yang selama ini dikenal sebagai energi terbarukan pengganti batu bara dan juga lebih banyak dimanfaatkan sebagai sumber hijauan, memiliki peluang untuk diolah lebih lanjut sehingga dapat menjadi bagian dari bahan baku pakan.

Karena itu, lanjut Hernes, pendekatan pemberdayaan yang dilakukan PT Semen Padang tidak berhenti pada pemberian bantuan sarana dan prasarana. Perusahaan juga memberikan perhatian terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat agar bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Program TJSL PT Semen Padang tidak hanya diarahkan pada pemberian bantuan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat. Karena itu, pelatihan dan pendampingan menjadi bagian penting dalam memastikan program pemberdayaan dapat memberikan dampak berkelanjutan,” ujarnya.

Hernes berharap, peserta yang mengikuti pelatihan dapat mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan sehari-hari. Dengan dukungan mesin pencacah dan mesin pembuat pelet, masyarakat juga diharapkan memiliki sarana untuk mulai mengembangkan pengolahan kaliandra secara lebih efektif dan produktif.

“Harapannya, setelah mengikuti pelatihan ini masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengolah kaliandra menjadi pakan ternak maupun pakan ikan. Ke depan tentu diharapkan dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif. Apalagi didukung dengan bantuan alat pencacah dan pembuat pelet,” katanya.

Ia menambahkan, Kabupaten Padang Pariaman, termasuk kawasan Aur Malintang, memiliki berbagai potensi sumber daya lokal yang dapat dikembangkan. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan pengetahuan, teknologi pengolahan dan penguatan kelembagaan agar mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

“Potensi lokal yang dimiliki masyarakat tentu perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas dan pemanfaatan teknologi yang tepat. Dengan begitu, sumber daya yang tersedia tidak hanya memiliki nilai guna, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah secara ekonomi,” tuturnya.

Sementara itu, Manajer Koperasi Amal Sejahtera Mandiri Purdiman Pirang menyampaikan apresiasi kepada PT Semen Padang yang telah memfasilitasi pelaksanaan pelatihan sekaligus memberikan bantuan sarana produksi bagi masyarakat.

Menurutnya, dukungan tersebut menjadi hal penting bagi petani kaliandra karena selain mendapatkan pengetahuan baru, masyarakat juga memperoleh peralatan yang dapat menunjang proses pengolahan produk turunan kaliandra.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PT Semen Padang yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Semoga bantuan ini bermanfaat sehingga dapat diterapkan untuk kesejahteraan masyarakat. Selamat mengikuti pelatihan kepada seluruh peserta,” katanya.

Ia berharap pelatihan dan bantuan peralatan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sehingga memberikan dampak terhadap peningkatan produktivitas dan kesejahteraan, khususnya bagi para petani kaliandra.

Apresiasi serupa disampaikan Perwakilan Camat IV Koto Aur Malintang, Sumardi. Ia menyampaikan terima kasih kepada PT Semen Padang atas perhatian dan dukungan yang diberikan kepada masyarakat melalui kegiatan peningkatan kapasitas tersebut.

Menurutnya, pelatihan seperti ini memberikan peluang bagi masyarakat untuk melihat komoditas yang selama ini tersedia di lingkungan mereka dari perspektif yang berbeda, terutama dari sisi pengembangan ekonomi.

Pada sesi pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teoritis, tetapi juga diajak mengikuti praktik pengolahan kaliandra menjadi pakan ternak dan pakan ikan.

Prof. Ramaiyulis menjelaskan bahwa daun kaliandra memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pakan ternak, terutama untuk sapi, kambing dan kerbau. Dalam praktiknya, peserta diperkenalkan dengan teknologi pengolahan berupa silase dan pelet.

Salah satu metode yang diperkenalkan adalah pembuatan silase dengan memanfaatkan daun kaliandra yang dikombinasikan dengan bahan hijauan lainnya. Bahan tersebut dapat berupa batang jagung, rumput gajah maupun jerami padi.

Dalam praktik pembuatan silase berbahan batang jagung dan daun kaliandra, komposisinya dapat menggunakan sekitar 70 persen batang jagung dan 30 persen daun kaliandra. Campuran tersebut kemudian ditambahkan dedak sebagai bagian dari proses fermentasi sebelum dimasukkan ke dalam wadah untuk disimpan selama kurang lebih satu minggu.

Prof. Ramaiyulis menggambarkan peran bahan tersebut secara sederhana. Batang jagung menjadi sumber bahan utama, sementara daun kaliandra berperan sebagai sumber nutrisi tambahan dalam formulasi pakan.

“Potensi kaliandra ini bisa untuk membuat produk makanan ternak, terutama sapi dan kambing,” jelasnya.

Selain silase, peserta juga diperkenalkan dengan pembuatan pakan ternak dalam bentuk pelet. Dalam proses tersebut, daun kaliandra tidak digunakan sebagai satu-satunya bahan, tetapi dikombinasikan dengan bahan hijauan lain seperti serat rumput, batang jagung dan jerami.

Campuran tersebut kemudian dapat dilengkapi dengan konsentrat dan suplemen yang mengandung nutrisi esensial untuk mendukung pertumbuhan mikroba rumen. Selanjutnya, bahan diolah dan dibentuk menjadi pelet agar lebih mudah dalam penanganan dan pemberian pakan.

Sementara itu, narasumber dari PPNP Auzia Asman memberikan materi mengenai pemanfaatan tepung kaliandra sebagai salah satu bahan dalam formulasi pakan ikan.

Dalam praktik pembuatan pelet ikan, tepung kaliandra dapat dikombinasikan dengan sejumlah bahan lain, di antaranya tepung ikan, tepung jagung, tepung tapioka, minyak ikan serta vitamin dan mineral. Komposisi bahan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi pakan yang akan diproduksi.

Melalui pelatihan tersebut, peserta mendapatkan gambaran bahwa kaliandra tidak hanya dapat dipandang sebagai tanaman hijauan, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk turunan yang memiliki nilai ekonomi.

Pengembangan tersebut sekaligus membuka perspektif baru bagi petani untuk mengoptimalkan potensi komoditas lokal melalui penerapan teknologi sederhana yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.

Bagi PT Semen Padang, pelaksanaan program tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menghadirkan program TJSL yang tidak semata berorientasi pada bantuan, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar mampu tumbuh secara mandiri.

Kolaborasi antara perusahaan, perguruan tinggi, pemerintah daerah, kelembagaan ekonomi masyarakat dan kelompok tani menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan pengembangan potensi lokal dapat berjalan secara berkelanjutan.

Melalui sinergi tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan akses terhadap pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memperoleh dukungan sarana yang dapat digunakan untuk mengembangkan kegiatan produktif.

Pengembangan produk turunan kaliandra di Aur Malintang diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Lebih jauh, program tersebut diharapkan dapat menjadi embrio pengembangan usaha masyarakat berbasis komoditas lokal, baik untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak dan ikan secara mandiri maupun membuka peluang ekonomi baru.

Dengan adanya peningkatan kapasitas, dukungan teknologi pengolahan dan penguatan kelembagaan, potensi kaliandra diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus mendukung tumbuhnya aktivitas ekonomi produktif di wilayah Aur Malintang. (L)