PADANG,KLIKSIAR – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, memenuhi undangan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KM Universitas Andalas (Unand) dalam diskusi publik bertema “Menguliti Narasi Keberhasilan Pemerintah Pusat di Tengah Krisis Daerah”, Kamis (9/4). Kehadiran Andre menjadi sorotan karena datang di tengah derasnya kritik mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.
Andre menegaskan, kehadirannya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan komitmen untuk mendengar langsung aspirasi mahasiswa. “Saya dulu juga Presiden Mahasiswa. Kritiklah dengan data dan fakta, jangan hanya narasi tanpa dasar. Diplomasi dan data jauh lebih kuat daripada sekadar teriakan,” ujarnya.
Sejak pagi, Andre meninjau proyek pembangunan di kawasan Unand, termasuk gedung serbaguna senilai hampir Rp9 miliar dari CSR Pertamina yang ditargetkan rampung Juni 2026, serta rencana jogging track di area kampus. Ia juga menyoroti persoalan Kartu Indonesia Pintar (KIP) mahasiswa yang nonaktif saat masuk perguruan tinggi. “Saya sudah telepon Menteri Pendidikan di depan Pak Rektor. Insyaallah tanggal 26 atau 27 nanti kita bawa perwakilan Unand bertemu langsung,” katanya.
Sorotan Program MBG dan Infrastruktur
Menjawab kritik mahasiswa terhadap program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Andre menegaskan program itu penting untuk menekan angka stunting di Sumbar sekaligus menggerakkan ekonomi daerah. “Perputaran uang dari MBG di Sumbar mencapai Rp10–12 triliun. Sekitar 86 persen dinikmati masyarakat sekitar sekolah dan pelaku UMKM,” jelasnya.
Di sektor infrastruktur, Andre menyebut rencana pembangunan jalan tol Sicincin–Bukittinggi yang ditargetkan mulai Oktober 2026, serta upaya mengaktifkan kembali jalur kereta api. Ia juga menyinggung percepatan pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak bencana di Batang Anai, Padang Pariaman. “Ini soal kemanusiaan yang harus jadi prioritas,” tegasnya.
Mahasiswa Minta Evaluasi
Presiden Mahasiswa KM Unand, Shabbarin Syakur, menegaskan kritik mahasiswa merupakan hasil kajian lapangan. “Kami tidak menolak MBG, tapi implementasinya perlu evaluasi agar sesuai kebutuhan daerah. Transparansi rantai pasok harus dijaga agar petani dan pelaku usaha lokal benar-benar merasakan manfaat,” ujarnya. Mahasiswa juga berkomitmen mengawal penyelesaian persoalan KIP.
Apresiasi Dosen
Dosen FISIP Unand, Dr. Indah Adi Putri, menilai MBG sebagai investasi jangka panjang, namun menekankan pentingnya pengawasan higienitas dan transparansi. Dr. Malse Yulivestra menyoroti keterlibatan petani dan peternak lokal, sementara Dr. Hary Efendi Iskandar mengapresiasi kehadiran Andre. “Beliau bisa saja tidak datang, tapi justru hadir berdiskusi bersama mahasiswa. Ini perlu diapresiasi,” katanya.
Diskusi berlangsung hangat, memperlihatkan dinamika kritik mahasiswa sebagai bagian dari tradisi intelektual kampus. Ruang dialog seperti ini dinilai penting untuk terus dijaga. (*)







