Dony Oskaria Pulang Kampung, Kenang Pohon Beringin dan Sekolah Lama

oleh -304 Dilihat
oleh

NAGARI TANJUNG ALAM, TANAH DATAR — Lama tak pulang kampung, langkah Dony Oskaria akhirnya kembali menjejak tanah kelahirannya. Setibanya di rumah masa kecil, matanya tertuju pada sebatang pohon beringin tua yang telah berusia ratusan tahun, berdiri kokoh di samping rumah orang tuanya. Dengan senyum yang penuh kenangan, ia berucap kepada rombongan, “Di pohon ini saya sering bermain dahulu.” Raut wajahnya tampak hangat, seolah masa kecil yang sederhana kembali hadir di hadapannya.

Tak hanya pohon beringin itu, tepat di depan rumah orang tuanya berdiri sebuah bangunan tua yang kini terabaikan, ditutupi semak belukar. Bangunan itu adalah bekas sekolah dasar tempat Dony menimba ilmu. Ia menunjuk ke arah bangunan tersebut sambil berkata, “Lihat, saya dulu sekolah SD di sini. Dulu dindingnya penuh bekas tembakan peristiwa PRRI. Sekarang bangunannya terbiar, tapi di sinilah saya pernah belajar.” Bangunan itu kini menjadi saksi bisu perjalanan seorang anak kampung yang tumbuh besar hingga dipercaya memimpin di tingkat nasional.

Bagi masyarakat Nagari Tanjung Alam, kehadiran Dony Oskaria bukan sekadar kunjungan seorang pejabat. Ia adalah putra daerah yang pernah berlari di bawah rindang beringin, pernah duduk di bangku sekolah sederhana, dan kini kembali dengan membawa cerita keberhasilan.

Is (56), seorang tukang jahit, mengenang masa kecil Dony. “Nagari Tanjung Alam ini memang kampung kelahiran Dony. Dari kecil dia tinggal di sini sampai sekolah dasar. Setelah itu baru besar dan melanjutkan hidup di Padang,” ujarnya. Meski jarang pulang, hubungan keluarga Dony dengan masyarakat tetap terjaga. “Kalau Dony sendiri jarang pulang, tapi adiknya cukup sering. Mereka ramah, suka menyapa warga. Biasanya setahun sekali pulang ke kampung,” tambahnya.

Rasa bangga warga semakin besar ketika melihat Dony dipercaya mengemban amanah di tingkat pusat. “Kami bangga. Orang kampung kami sekarang bisa menjabat di pusat. Secara tidak langsung, kami berharap pembangunan di kampung ini juga bisa lebih cepat dibantu,” kata Is.

Bagi warga, kebanggaan itu bukan hanya soal jabatan, melainkan karena Dony tidak melupakan asal-usulnya. Kenangan yang ia ungkapkan di bawah pohon beringin dan di depan sekolah lamanya menjadi pengingat bahwa akar perjuangan selalu kembali ke tanah kelahiran. Sosoknya kini menjadi motivasi bagi generasi muda Tanjung Alam untuk terus berusaha dan berprestasi, dengan keyakinan bahwa dari kampung sederhana pun lahir pemimpin besar. (Grp)