Ike Revita dan Delapan Janji untuk FIB: Ketika Amanah Dirasakan Seperti Ibadah

oleh -237 Dilihat
oleh

PADANG,KLIKSIAR— Pada akhirnya, suara terbanyak bukan hanya soal angka. Di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas, suara itu menjelma menjadi kepercayaan. Dan kepercayaan itu kini dipikul oleh seorang perempuan yang tak asing di koridor kampus Limau Manis Ike Revita.

Pemilihan dekan FIB yang digelar 2 Juni lalu menyisakan satu nama di puncak. Dari empat kandidat yang masuk bursa, suara mayoritas senat jatuh ke pundak Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. Sebuah amanah yang akan ia emban untuk periode 2025–2030. Pelantikannya dijadwalkan berlangsung pada Juli mendatang, tapi denyutnya sudah terasa sejak sekarang.

“Ini bukan sekadar jabatan. Ini ladang ibadah,” ujar Ike lirih, mengingat empat tahun pengabdiannya sebagai Wakil Dekan I. Dari posisi itu, katanya, ia menyaksikan betapa satu keputusan administratif bisa mengubah air mata menjadi senyuman. “Saya merasakannya sendiri,” lanjutnya, “bagaimana tanda tangan yang saya bubuhkan bisa membawa kemudahan bagi orang lain.”

Kini, dengan tongkat kepemimpinan yang sudah di depan mata, Ike ingin menjadikan FIB bukan sekadar institusi pendidikan, tapi rumah bagi keberagaman pemikiran, kepekaan budaya, dan keberanian intelektual. Ia menyebutnya sebagai upaya “bapucuak ka ateh baurek ka bawah” berakar di bumi, tapi menjulang ke cakrawala global.

Dengan semboyan Latin radicati in loco, potentes in mundo, Ike menjanjikan arah baru. Ia tak ingin hanya membesarkan FIB dari sisi akademik, tapi juga menjadikannya responsif terhadap isu-isu sosial, budaya, hingga digitalisasi. “Kita butuh pemimpin yang bukan hanya administratif,” ujarnya tegas, “tapi juga inspiratif dan solutif.”

Delapan program unggulan disiapkannya. Mulai dari pengembalian prodi ke departemen sebagai basis penguatan keilmuan, transformasi kurikulum yang lebih adaptif, riset dan hilirisasi yang terarah, hingga pengabdian masyarakat berbasis lokalitas dan teknologi.

Ia juga memancang misi besar memperkuat jejaring alumni dan internasionalisasi, membangun tata kelola digital yang efisien, menciptakan skema pendanaan berkelanjutan, dan terakhir yang tak kalah penting memberdayakan mahasiswa lewat program bertajuk BERDAYA. Akronim dari beragam inisiatif mulai dari sertifikasi digital, penguatan soft skills, hingga kesempatan riset dan mobilitas internasional.

Dalam perjalanan baru ini, Ike Revita tak berjalan sendiri. Ia membawa semangat kolektif, memori jabatan sebelumnya, dan mimpi yang disulam dari rasa, bukan sekadar rasio. Sebuah dekan, yang sebelum duduk di kursi kekuasaan, sudah lebih dulu menyatu dengan denyut kampus tempat ia akan melayani. (***)