IKM Merajut Ranah dan Rantau

oleh -63 Dilihat
oleh

Oleh: Two Efly

Wartawan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026, ada nuansa berbeda di Gedung DPR RI. Gedung wakil rakyat di jantung Jakarta itu dipenuhi ribuan urang awak dari berbagai penjuru perantauan. Anak-anak rantau berkumpul, bersilaturahmi, dan menggelar hajatan besar yang sarat makna.

Agenda utamanya adalah pengukuhan dan pelantikan Dewan Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM). Sejumlah tokoh masyarakat dari ranah dan rantau tampak hadir menyaksikan momentum tersebut. Kepala daerah dari Sumatera Barat ikut meramaikan. Tokoh-tokoh perantau pun meluangkan waktu untuk datang. Bahkan menantu urang awak yang kini menjadi Utusan Khusus Presiden, Raffi Ahmad, didapuk untuk melantik pengurus DPP IKM.

Bagi masyarakat Sumatera Barat, IKM bukan sekadar organisasi paguyuban biasa. Kehadirannya jauh melampaui fungsi sebagai wadah berkumpul. Organisasi yang dipimpin Andre Rosiade itu telah menjalankan berbagai kegiatan nyata untuk merajut kembali hubungan ranah dan rantau. Mulai dari kegiatan ekonomi dengan memperkenalkan produk khas Sumatera Barat ke mancanegara, hingga hadir di tengah masyarakat saat bencana melanda kampung halaman.

Dalam catatan penulis, banyak hal telah dilakukan IKM. Mulai dari festival budaya dan promosi produk daerah di Tokyo, Jepang, hingga berbagai kegiatan domestik di dalam negeri. Sebut saja fasilitasi berbagai agenda warga perantau, termasuk program mudik bersama yang kini menjadi agenda tahunan.

Program mudik bersama itu benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Saat “sayok senteang” dan rasa rindu memuncak untuk menjumpai keluarga di kampung halaman, IKM hadir memfasilitasi. Puluhan bus disediakan. Ratusan, bahkan ribuan perantau telah diantar pulang ke ranah.

Begitu pula ketika bencana datang silih berganti menerpa Sumatera Barat. IKM hadir bak “sitawa jo sidingin” bagi tubuh yang sedang lemah. Bantuan moril dan materil disalurkan. Dukungan diberikan agar masyarakat yang tertimpa musibah dapat bangkit dan pulih kembali.

Wadah Sosial, dan Budaya

Sebagai sebuah organisasi, IKM memiliki visi dan misi yang jelas. Ia lahir dari rasa kepedulian terhadap sesama anak rantau sekaligus panggilan moral untuk membantu kampung halaman.

Bagi masyarakat Minangkabau, ranah dan rantau ibarat “aua jo tabiang” (dua unsur yang saling menguatkan).

Tabiang indak ka runtuh salagi aua tagak mancukam jo ureknyo. Aua indak ka rabah karano tanah tagak manjago tampek tumbuahnyo. Walau terpaut jarak, setinggi tinggi batang aua, nan pucuak tatap mambungkuak mancaliak jo manyilau tanah tampek tumbuah.

Begitulah filosofi hubungan ranah dan rantau dalam budaya Minang: saling menopang, saling menguatkan, saling menjaga.

Bagi anak Minang, sejauh apa pun merantau, tak akan pernah lupa pada kampung halamannya. Tanah kelahiran tetap terpatri di lubuk hati paling dalam. Pulang kampung dan mudik selalu menjadi impian setiap tahunnya. Gema takbir yang berkumandang di ujung ramadhan menjadi panggilan wajib untuk pulang.

Seperti petuah lama: Karatau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di kampuang paguno balun. Merantau adalah sekolah kehidupan. Tempat menimba pengalaman, menempa diri, dan mengasah kemampuan. Ketika misi selesai, maka panggilan untuk kembali membangun kampung halaman menjadi keniscayaan.

Dalam konteks itulah IKM hadir. IKM bukan sekadar tempat berkumpul. Ia adalah wadah pemersatu, penggerak potensi, sekaligus jembatan penghubung antara ranah dan rantau. Potensi ekonomi perantau dapat dialirkan ke kampung halaman. Sebaliknya, potensi ranah dapat dipromosikan melalui jejaring rantau.

Lebih dari itu, IKM juga berperan dalam pelestarian sosial dan budaya. Organisasi ini dapat menjadi ruang belajar bagi anak kemenakan di perantauan untuk memahami adat, nilai, dan falsafah Minangkabau.

IKM dapat menjadi “kampus kehidupan” bagi generasi Minang di rantau—tempat mereka belajar tentang identitas, budaya, dan akar leluhurnya.

Ranah Hari Ini

Hari ini, salah satu persoalan besar yang dihadapi Sumatera Barat adalah mulai “mengaburnya” jembatan emosional antara ranah dan rantau. Dua kekuatan besar Minangkabau ini perlahan terpisah oleh kesibukan dan dinamika kehidupan masing-masing.

Ranah sibuk bergelut dengan keterbatasan ekonomi. Bencana datang pula silih berganti. Belum selesai penanganan banjir lahar dingin Gunung Marapi tahun 2024, datang lagi bencana hidrometeorologi di penghujung 2025. Kedua bencana itu menimbulkan korban jiwa serta kerugian dan kerusakan yang sangat besar.

Di saat bersamaan, kapasitas fiskal daerah juga menurun. APBD provinsi maupun kabupaten/kota tergerus. Padahal kebutuhan dana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana sangat besar.

Ranah hari ini ibarat anak gadis jelita yang sedang tertimpa musibah. Wajahnya masih cantik, potensinya luar biasa, tetapi tubuhnya penuh luka dan membutuhkan uluran tangan.

Dalam kondisi seperti itu, organisasi-organisasi perantau (IKM, Gebu Minang, Indo Jalito, dan lainnya) tak ubahnya mamak badaging taba yang berkewajiban hadir menolong kemenakannya yang sedang dirudung susah.

Ranah membutuhkan bantuan. Membutuhkan energi baru. Membutuhkan suntikan ekonomi.

Potensi rantau harus kembali disalurkan untuk membangun kampung halaman.

Produk-produk pertanian dan UMKM Sumatera Barat membutuhkan hilirisasi. Produk lokal memerlukan inovasi agar memiliki daya saing. Ranah membutuhkan akses pasar, jejaring, investasi, dan transfer pengetahuan.

Di sinilah rantau memegang peran penting.

Ranah tidak lagi cukup hanya dipandang dari kejauhan. Ranah membutuhkan kebersamaan. Membutuhkan gotong royong agar tabangkik batang tarandam.

Kamanakan Ba Mamak Rami

Tidak ada yang lebih beruntung daripada kemenakan yang memiliki banyak mamak.

Begitu pula Sumatera Barat hari ini. Kehadiran IKM bukan untuk meniadakan organisasi perantau lainnya. Bukan untuk menyaingi Gebu Minang, Indo Jalito, ataupun organisasi paguyuban lain yang telah lebih dahulu hadir.

IKM datang untuk melengkapi. Setiap organisasi tentu memiliki segmen, kekuatan, dan fokus masing-masing. Jika Gebu Minang dimasa lalu dikenal sebagai motor penggerak ekonomi rantau ke ranah, dan Indo Jalito sebagai kanal kepedulian sosial, maka IKM hadir melengkapi ruang-ruang yang belum terisi.

Semakin banyak mamak yang peduli kepada kemenakannya, semakin aman dan sejahtera pula kemenakannya di ranah.

Jika selama ini ranah menjadi tanggung jawab bersama masyarakat di kampung halaman, maka kehadiran IKM adalah energi baru—“gizi tambahan” bagi pembangunan ranah.

Selamat untuk IKM.

Teruslah berbuat nyata, baik untuk ranah maupun anak kemenakan di perantauan.

Mari berjalan bersama.

Saciok bak ayam, sadanciang bak basi.

Ta tungkuik samo makan tanah, ta tilantang samo minum aia.

Besarnya Potensi Rantau

Inilah pembeda antara rantau cina dengan rantau Minang. Rantau Minang, dimanapun, sejauh apapun jarak antara ranah dan rantau hatinya tetap bersatu dalam qalbu untuk kampung halaman.

Setiap insan Minang di perantauan pastilah memendam rasa rindu kampung halaman. Seberat berat kehidupan anak rantau, pastilah berupaya keras menyisihkan sebagian rejeki untuk anak kemenakan dan saudara di kampung halaman.

Secara populasi, etnis Minangkabau adalah etnis yang besar. Betul, yang bertahan hidup di ranah lebih kurang 6 juta jiwa namun hampir tiga kali lipat dari itu insan Minang berada di perantauan.

Anak Minang adalah anak petarung. Anak Minang akan datang dan meneruka dimanapun kehidupan berada. Andailah di bulan dan planet bumi lain ada kehidupan sudah dipastikan anak Minang akan hadir disana untuk meneruka.

Perantau adalah potensi besar yang belum termaksimalkan. Perantau tak ubahnya “harta karun” besar yang belum kita pergunakan ditengah sulit dan beratnya lilitan kehidupan.

Sangat banyak sekali anak rantau kita yang sukses dan berhasil dalam kehidupan. Baik dalam dunia bisnis, pendidikan , teknologi, birokrasi hingga ke politisi.

Inilah potensi besar yang harus kita kelola dan maksimalkan. Para pebisnis rangkul dan ajaklah mereka pulang berinvestasi. Selain uang dari kantong pribadi ajak dan libatkan jugalah networking bisnis untuk memaksimalkan potensi ranah. Kalau dijajaran birokrasi gunakanlah peluang yang ada untuk membantu ranah. Baik dalam bentuk program kerja maupun dalam bentuk networking birokrasinya. Begitu juga dengan politisi dikancah nasional, gunakanlah “pisau tajam” itu untuk meraut APBN agar mengalir ke ranah.

Ranahpun juga harus berbenah. Kita harus menjemput bola. Para perantau kita tidaklah memiliki waktu yang lapang dan panjang memikirkan ranah. Berat dan padatnya aktivitas kehidupan di perantauan membuat waktu dan pikirannya tersita. Boleh di katakan, setiap waktu mereka sudah tersita untuk menjalankan tugas dan profesi di tanah rantau.

Meskipun begitu, sepadat padat waktu, se sempit sempitnya kehidupan ada hati yang tertambat untuk ranah. Inilah peluang kita di ranah. Benahi diri, rubah paradigma. Bersiaplah dengan perubahan. Jangalah manungkai kawan sa iring, hilangkan tradisi manangguak di aia karuah.

Ranah dengan segenap penghuninya haruslah berhijrah sikap. Stigma tak ramah investasi harus dikikis habis. Sikap hidup salamaik an diri masing masing harus dibuang jauh. Pandangan ranah tanggungjawab ranah dan rantau tanggungjawab rantau mustilah dikis habis.

Fakta menunjukan bahwa ranah tak ubahnya mata kanan dan mata kiri. Jika satu tak berfungsi atau tersakiti seluruh tubuh merasakannya. Berbenahlah dan marilah kita bangkit bersama. Selamat atas pelantikannya DPP IKM. Dari ranah kami tunggu lakek tangannya. ***