Muhidi di HUT ke-80 RI: “Kemerdekaan Tak Butuh Seragam, Tapi Butuh Peran Nyata”

oleh -772 Dilihat
oleh

PADANG, KLIKSIAR — Di halaman Kantor Gubernur Sumatera Barat, bendera merah putih berkibar gagah. Upacara peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia berlangsung khidmat. Tapi pidato Ketua DPRD Sumbar, Muhidi, tak sekadar seremonial. Ia mengajak masyarakat untuk berhenti menjadi penonton sejarah.

“Apapun peran kita—guru, petani, pedagang, ibu rumah tangga, pelajar, ASN—jalani dengan sebaik mungkin. Karena kemerdekaan bukan hanya soal masa lalu, tapi soal bagaimana kita mengisi hari ini,” tegas Muhidi, usai membacakan teks proklamasi, Minggu Pagi (17/8).

Ia tak bicara soal pembangunan fisik atau angka pertumbuhan ekonomi. Ia bicara tentang sikap. Tentang budi pekerti. Tentang disiplin belajar. Tentang keikhlasan profesi. “Bahkan cara kita bersikap sehari-hari bisa jadi sumbangsih terbaik untuk bangsa,” ujarnya.

Muhidi mencontohkan Bidan Dona—sosok yang viral karena berenang menyeberangi sungai demi mengobati pasien. “Itu bukan sekadar aksi. Itu adalah wujud kemerdekaan dalam bentuk paling murni: pengabdian,” katanya.

Ia berharap Bidan Dona menjadi cermin bagi masyarakat. Bahwa peran sekecil apapun, jika dijalani dengan sungguh-sungguh, bisa menjadi bagian dari perjuangan bangsa.

Muhidi juga menyoroti pentingnya kebersamaan. Bukan hanya antar warga, tapi antar lembaga, antar pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, antar tokoh adat, ulama, akademisi, dan pengusaha. “Kalau kita saling mendukung, saling percaya, saling bekerja sama, maka Sumbar akan lebih cepat maju. Indonesia pun akan lebih mudah mencapai cita-cita emas 2045,” ujarnya.

Ia menutup dengan seruan yang tak biasa: “Para pahlawan dulu berjuang dengan darah. Kita hari ini cukup dengan ketulusan dan kerja nyata. Jangan sia-siakan kemerdekaan hanya karena kita enggan menjalani peran kita.” (***)