Reaktivasi Kereta Api

oleh -32 Dilihat
oleh

Oleh: Two Efly

Wartawan Ekonomi

**

Minggu pagi (27/9), sebuah informasi penting dan menarik muncul di WhatsApp Group Top 100. Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, menginformasikan rencana reaktivasi jalur kereta api Sumatera Barat.

Informasi itu langsung memantik respons anggota grup. Mayoritas mengapresiasi. Bahkan, “tukang kipeh” pun sepertinya berubah menjadi rasional dan ikut memberikan dukungan. Untuk urusan kereta api, sepertinya hampir semua sepakat.

Mengapa? Karena kereta api bukan barang baru bagi masyarakat Sumatera Barat. Justru sebaliknya. Kereta api merupakan salah satu moda transportasi darat tertua di Ranah Minang.

Sejarahnya panjang. Ketika batu bara Ombilin ditemukan dan kemudian dikembangkan di Sawahlunto, pemerintah kolonial membangun jaringan kereta api untuk mengangkut batu bara dari kawasan tambang menuju Pelabuhan Emmahaven, yang kini dikenal sebagai Teluk Bayur.

Pembangunan jaringan itu kemudian berkembang. Rel menjalar dari Padang menuju Padang Panjang, Bukittinggi, Solok, Muaro Kalaban dan Sawahlunto. Jaringan juga berkembang ke Pariaman hingga Sungai Limau.

Pada zamannya, kereta api menjadi urat nadi transportasi Sumatera Barat. Jalur Padang–Padang Panjang dan Padang Panjang–Bukittinggi mulai beroperasi pada 1891. Jalur Padang Panjang–Solok dan Solok–Muaro Kalaban menyusul pada 1892. Muaro Kalaban–Sawahlunto kemudian tersambung pada 1894, sementara jalur Bukittinggi–Payakumbuh selesai pada 1896. Artinya, lebih dari satu abad lalu masyarakat Sumatera Barat sudah mengenal konektivitas antarkawasan dengan kereta api.

Kereta api bukan sekadar mengangkut orang. Ia mengangkut ekonomi. Batu bara bergerak. Hasil bumi bergerak. Orang bergerak. Kota-kota tumbuh di sepanjang lintasan rel.

****

Ombilin, Pembuka dan Penutup

Ada satu bab penting dalam sejarah perkeretaapian Sumatera Barat: batu bara Ombilin.

Penemuan dan pengembangan tambang batu bara Sawahlunto menjadi salah satu alasan utama dibangunnya jaringan rel di Sumatera Barat. Rel menjadi penghubung antara tambang dengan pelabuhan.

Dari Sawahlunto, batu bara diangkut menggunakan kereta api menuju Emmahaven atau Teluk Bayur untuk kemudian dikirim ke berbagai tujuan. Pada masa itu, kereta api benar-benar menjadi tulang punggung ekonomi. Namun, sejarah kemudian berubah.

Produksi batu bara Ombilin terus menurun. Akhirnya, angkutan batu bara melalui jalur Sawahlunto–Muaro Kalaban–Solok–Padang ikut berhenti. Operasional angkutan batu bara Ombilin berakhir pada 2003.

Rel yang dahulu sibuk perlahan menjadi sepi. Dari sepi, akhirnya berhenti. Sementara itu, jalur-jalur menuju kawasan Darek juga mengalami nasib yang hampir sama. Jalur Padang Panjang–Bukittinggi–Payakumbuh–Limbanang tidak lagi menjadi tulang punggung transportasi masyarakat.

Semak dan belukar mulai mengambil alih. Di sejumlah tempat, badan jalan rel bahkan berubah menjadi kawasan permukiman. Rumah, toko, kedai dan berbagai bangunan tumbuh di atas atau di sekitar bekas jalur kereta api. Jalur yang dahulu menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lainnya perlahan kehilangan fungsinya.

Kereta Api “Come Back”

Kini, kereta api akan kembali. kereta api ternyata tidak benar-benar mati di Sumatera Barat. Pelan-pelan ia hidup kembali. Jalur Padang–Pariaman menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat masih membutuhkan kereta api. Kemudian berkembang layanan menuju Kayu Tanam dan layanan kereta bandara.

Menariknya, respons masyarakat juga semakin positif. Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, misalnya, mencatat adanya peningkatan minat terhadap layanan kereta api rute Padang–Kayu Tanam. Dalam paparan Dinas Perhubungan Sumatera Barat pada Februari 2026 disebutkan jumlah penumpang rute tersebut meningkat dari sekitar 9.000 orang pada Januari 2025 menjadi sekitar 24.000 orang pada Januari 2026.

Lihatlah fenomena penumpang kereta api “manjunjiang” kantong belanja Suzuya dan produk mall lainnya. Dari Pariaman mereka belanja sambil nyuci mata ke Kota Padang. Itu pulalah dasarnya kenapa Suzuya hadir di Plaza Stasiun KA Simpang Haru.

Ini jelaslah sebuah sinyal. Masyarakat sebenarnya tidak meninggalkan kereta api. Masyarakat hanya membutuhkan kereta api yang hadir dengan jadwal yang tepat, tarif yang terjangkau, stasiun yang mudah dijangkau dan tujuan yang memang dibutuhkan.

Bukan Sekadar Menghidupkan Rel

Sebagai jurnalis ekonomi, saya melihat rencana reaktivasi jalur Kayu Tanam menuju kawasan Darek harus dilihat lebih jauh.

Ini bukan sekadar proyek menghidupkan kembali rel tua. Ini adalah upaya menghidupkan kembali konektivitas.

Dalam rencana yang disampaikan Andre Rosiade, jaringan yang masuk program reaktivasi mencapai 248,5 kilometer. Rinciannya: Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbangan: 162 km. Padang Panjang–Batu Tabal: 18 km. Batu Tabal–Solok: 34 km. Solok–Muaro Kalaban: 24 km. Muaro Kalaban–Sawahlunto: 4 km. Naras–Sungai Limau: 6,5 km.

Lima ruas pertama berjumlah 242 kilometer, sedangkan jika ditambah ruas Naras–Sungai Limau sepanjang 6,5 kilometer, total rencana reaktivasi menjadi 248,5 kilometer.

Bayangkan jika jaringan sepanjang itu kembali hidup. Padang terhubung dengan Kayu Tanam. Kayu Tanam terhubung dengan Padang Panjang. Padang Panjang kembali memiliki hubungan rel dengan Bukittinggi. Dari sisi lain, Padang Panjang terhubung dengan Solok, kemudian Muaro Kalaban hingga Sawahlunto. Artinya, yang dihidupkan bukan sekadar rel. Yang dihidupkan adalah jaringan ekonomi.

Belajar dari Ibu Kota

Mampukah kereta api menjemput kembali kejayaannya?

Sangat mungkin. Kita bisa belajar dari Jakarta. Commuter Line Jabodetabek sepanjang 2025 melayani 349,31 juta pengguna, atau rata-rata sekitar 957 ribu perjalanan pengguna per hari. Angka tersebut menunjukkan bagaimana kereta api dapat menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat perkotaan.

Sumatera Barat tentu tidak membutuhkan angka sebesar Jakarta. Konteksnya berbeda. Namun, prinsipnya sama. Kereta api dapat menjadi transportasi massal yang murah, terjadwal dan mampu mengangkut masyarakat dalam jumlah besar.

Data BPS juga memperlihatkan bahwa permintaan terhadap kereta api terus ada. Pada 2026, jumlah penumpang kereta api Sumatera Barat tercatat sekitar 198.650 orang pada Mei, 226.910 pada Juni dan 217.280 pada Juli. Kalau jalur Padang–Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi kembali tersambung, tentu basis pasarnya akan jauh lebih luas.

Apalagi kawasan yang dilayani bukan kawasan kosong.

Di sana ada pusat pendidikan. Ada pusat perdagangan. Ada kawasan wisata. Ada sentra pertanian. Ada pasar. Ada perkantoran. Ada masyarakat yang setiap hari bergerak dari satu kota ke kota lainnya.

Tidak Sebatas Penumpang

Menurut saya, kesalahan kita selama ini adalah melihat kereta api hanya dari jumlah penumpang.

Padahal manfaatnya jauh lebih besar. Ada penghematan waktu. Ada penghematan biaya perjalanan. Ada pengurangan penggunaan BBM. Ada pengurangan kendaraan di jalan raya. Ada pengurangan beban jalan. Ada potensi pengembangan kawasan di sekitar stasiun.

Benefit yang tak kalah adalah efisiensi logistik. Bayangkan barang dari Darek menuju Padang tidak semuanya harus dibawa menggunakan truk. Bayangkan hasil pertanian dari Tanah Datar, Agam dan kawasan sekitarnya bisa memiliki pilihan moda transportasi lain menuju pusat perdagangan. Bayangkan semen, bahan pangan, hasil perkebunan dan berbagai komoditas dapat diangkut dengan kereta api dalam jumlah besar.

Disejumlah negara maju dan KAI sendiri menyebut konektivitas rel dengan kawasan industri dan pelabuhan dapat membuat distribusi lebih efisien. Kenapa? Karena barang dapat bergerak dalam volume besar dengan pola operasi yang lebih stabil dan biaya mobilisasi logistik bisa ditekan hingga 40 persen sehingga produk menjadi kian kompetitif.

Sekali lagi, jangan hanya menghitung berapa orang yang naik kereta. Hitung juga berapa biaya ekonomi yang bisa dihemat.

Mengurai Kemacetan

Ada manfaat lain yang tidak kalah penting: mengurai kemacetan. Saat ini jalan raya menjadi tumpuan hampir semua jenis mobilitas.

Mobil pribadi. Bus. Travel. Truk. Angkutan barang. Semuanya berada di jalan yang sama. Truk dengan muatan berat tentu membutuhkan ruang lebih besar. Kecepatan kendaraan juga lebih rendah. Ketika jumlahnya semakin banyak, arus lalu lintas ikut terpengaruh.

Pada saat yang sama, kendaraan bertonase berat juga memberikan beban lebih besar terhadap konstruksi jalan. Jalan cepat rusak. APBN dan APBD menjadi terkuras, beban subsidi BBM (BBM penusagan menjadi membengkak). Artinya, semakin banyak kendaraan berat yang menggunakan jalan, semakin besar pula kebutuhan pemeliharaan jalan dan makin besar pula pemborosan APBN dan APBD.

Di sinilah kereta api memiliki keunggulan. Satu rangkaian kereta bisa mengangkut penumpang atau barang dalam jumlah besar dalam satu perjalanan. Jalan raya menjadi lebih ringan. Kemacetan bisa ditekan. Konsumsi BBM bisa dikurangi. Pemerintah tidak harus terus-menerus mengejar pertumbuhan jalan raya untuk mengimbangi pertumbuhan kendaraan.

Ada Pasarnya

Kita tidak perlu terlalu jauh melihat Jakarta. Lihat saja pengalaman Sumatera Barat sendiri. Kereta Sibinuang telah menjadi pilihan masyarakat Padang dan Pariaman. Salah satu alasannya sederhana: murah, relatif nyaman dan jadwalnya lebih pasti.

Ada pula keuntungan lain. Stasiun berada dekat dengan pusat aktivitas masyarakat. Itulah yang membuat kereta api memiliki daya tarik. Masyarakat tidak hanya membeli tiket. Mereka membeli kepastian perjalanan.

Ini penting. Saya sendiri termasuk salah satu pengguna transportasi yang sudah beralih ke kereta api. Ketika ada tugas ke Jakarta, dahulu saya lebih sering menggunakan taksi. Kemudian beralih ke Damri. Sekarang, kalau memungkinkan, saya memilih kereta api.

Dari Bandara Soekarno-Hatta menuju kawasan BNI City, misalnya, perjalanan kereta bandara memberikan kepastian waktu yang sulit diperoleh ketika kendaraan harus berhadapan dengan kemacetan jalan raya.

Bagi saya, ini bukan semata soal harga tiket. Ini soal kepastian. Berangkat kapan. Tiba kapan. Itulah salah satu nilai jual terbesar kereta api.

Mimpi Besar Itu Harus Dimulai

Reaktivasi jalur kereta api Sumatera Barat bukan pekerjaan sederhana. Ada persoalan jalur yang sudah berubah fungsi. Ada persoalan aset. Ada persoalan pembebasan atau penertiban lahan. Ada persoalan kondisi jembatan, terowongan, stasiun dan konstruksi rel.

Ada pula persoalan investasi. Tetapi justru karena itulah proyek ini harus dilihat sebagai proyek jangka panjang.

Reaktivasi Kereta Api, bukan sekadar proyek transportasi. Melainkan proyek ekonomi.

Rencana reaktivasi hingga 248,5 kilometer menunjukkan bahwa yang sedang dibicarakan bukan satu stasiun atau satu jalur pendek. Ini adalah upaya menghidupkan kembali sebagian jaringan lama Sumatera Barat dan menyambungkannya dengan kebutuhan transportasi masa kini.

Jujur, kalau kita bicara tentang masa depan Sumatera Barat, konektivitas adalah salah satu kuncinya.

Kereta api bisa membawa orang. Kereta api bisa membawa barang. Kereta api bisa membawa wisatawan. Kereta api bisa membawa investasi. Kereta api bisa membawa pertumbuhan ekonomi dari satu daerah ke daerah lainnya.

Merajut Pantai Barat dan Pantai Timur

Beberapa bulan yang lalu saya menulis dengan judul, “Pantai Barat: Kartu Mati atau Kartu Kunci”. Dalam tulisan itu saya meyakini bahwa pantai Barat tidaklah benar benar kartu mati.

Dimata saya, pantai barat adalah kartu kunci. Banyak potensi yang dapat dikembangkan dengan basis produksi dan distribusi melalui pantai barat. Selain mudah dan gampang mengakses antar provinsi di wilayah barat Sumatra, pantai barat adalah gerbang terdekat ke timur tengah.

Saya berharap melalui Danantara, diamsa mendatang koneksasi antara Pantai Barat dengan Pantai Timur dapat diwujudkan. Teluk bayur dan pelabuhan Dumai harus terkoneksasi. Lanjutkanlah blue print jalur kereta api yang sudah disiapkan Belanda dan Jepang. Sambungkanlah jantung ekonomi masa depan itu. Ini adalah terbosan besar untuk membuat Sumatra Barat mencatatkan lompatan besar.

Saya haqqul yakin, jika benar-benar diwujudkan dengan perencanaan yang matang, reaktivasi kereta api Sumatera Barat bukan sekadar menghidupkan kembali rel yang sudah lama mati.

Ini adalah upaya menghidupkan kembali urat nadi ekonomi Ranah Minang. Semoga saja mimpi besar itu tidak terlalu lama menjadi mimpi. Semoga rel yang selama puluhan tahun diam, kembali mendengar suara roda besi. Cukup sudah rel itu berkarat. Kini saatnya kereta api kembali berjalan. ***