Sam Salam; Turbulance Story Bencana “menghantam sebahagian Sumbar” ; banjir, longsor, dll.

oleh -443 Dilihat
oleh

Ketika suatu pesawat udara dihantam turbulance, semua do’a keluar dan bahkan ada yang teriak; ketakutan. Hebatnya setelah pesawat mendarat, bisa jadi semua yang mereka “ikrarkan” di udara menjadi lupa.

Sewaktu bencana datang menimpa masyarakat, hebatnya para pemimpin turun ke lokasi langsung, bahkan waktu banjir, berani basah kuyup pakaiannya dan dalam memberi pertolongan kepada masyarakat yang dapat ditonton oleh siapa saja melalui medsos; dianggap “pengabdian”. Apalagi saat pemilu/pilkada; berpacu kebaikan agar “terlihat baik”. Terlihat Serius dan Focus pada penyelamatan masyarakat

Para pemimpin tentu mengenal konsep “mitigasi”; *prevention is better than cure*; _”pencegahan lebih baik dari pada mengobati”_.

Logically, yang dibutuhkan masyarakat dari para pelayan publik adalah “pencegahan” sebelum bencana datang menimpa mereka. “Mandat” yang diamanahkan masyarakat sebagai pembuat kebijakan untuk kenyamanan dan keamanan masyarakat, seharusnya mengantisipasi sebelum bencana hadir.

Diyakini, setelah kejadian bencana di Sumatera Barat ini menimpa, agar tak terulang, sangat perlu para pembuat keputusan yang masih sehat berlomba-lomba untuk menjalankan konsep Mitigasi yang handal sebagai antisipasi, agar masyarakat terhindar dari bencana. Lagian akan mengurangi kesibukan para pembuat kebijakan dalam menjalankan pelayanan publik, agar tidak sampai ikut basah kuyup. Tul nggak, kata CipotongAlay sesuai dengan pengalamannya ketika ditimpa turbulance alias bencana.

#CipotongAlay