LIMAPULUH KOTA,KLIKSIAR – Pagi di Situjuah biasanya berjalan tenang. Jalan kampung masih dilalui warga yang saling menyapa, surau berdiri di sudut-sudut nagari, dan rumah-rumah gadang menjadi penanda kuatnya adat yang diwariskan turun-temurun.
Namun ketenangan itu belakangan seperti terusik oleh kabar yang mengguncang nurani masyarakat Limapuluh Kota.
Dua kasus kekerasan dalam lingkup keluarga yang terungkap di wilayah ini tidak hanya mengejutkan warga, tetapi juga menyisakan luka sosial yang dalam. Peristiwa itu menjadi perbincangan luas di Sumatera Barat, karena terjadi di ruang yang selama ini dipercaya sebagai tempat paling aman bagi seorang anak: rumah.
Di Kecamatan Situjuah, aparat kepolisian mengungkap dua perkara yang melibatkan ayah kandung sebagai terduga pelaku terhadap anaknya sendiri. Satu orang telah diamankan untuk proses hukum, sementara satu lainnya ditemukan meninggal dunia setelah sempat menghilang beberapa hari.
Kasus pertama terungkap setelah seorang ibu mengetahui kondisi anaknya yang memerlukan pendampingan medis dan psikologis. Dari situlah, laporan kemudian disampaikan kepada pihak Kepolisian.
Kasus kedua terbuka setelah keluarga dekat korban mulai melihat perubahan sikap yang tidak biasa. Korban disebut semakin jarang pulang dan tampak menyimpan ketakutan yang sulit diungkapkan. Ketika akhirnya cerita itu keluar, keluarga segera mengambil langkah hukum.
Di tengah suasana yang penuh duka, perhatian publik juga tertuju pada kondisi psikologis para korban. Pendampingan dari keluarga, tenaga medis, dan psikolog menjadi kebutuhan mendesak agar mereka dapat melalui masa pemulihan.
Anggota DPRD Limapuluh Kota, Benni Okva Della, mengaku terpukul menerima kabar tersebut.
“Awak dampingi korban, baok ka psikolog,” kata Ben Maharadjo, sapaan Benni diberbagai kalangan pada Sabtu, (11/4/2026).
Pernyataan itu menggambarkan bahwa luka yang ditinggalkan peristiwa ini bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga kemanusiaan.
Di nagari yang dikenal kuat memegang adat dan nilai agama, peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar tentang kondisi sosial yang tengah dihadapi masyarakat.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi ruang yang menyisakan trauma. Bagi banyak orang, inilah bagian yang paling menyakitkan.
Peristiwa di Situjuah seakan menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap anak sering kali tersembunyi di balik dinding rumah, tertutup oleh rasa takut, malu, dan relasi kuasa yang timpang.
Karena itu, masyarakat berharap kasus ini tidak berhenti sebagai berita sesaat, melainkan menjadi momentum bersama untuk memperkuat perlindungan anak, menghidupkan kembali peran keluarga, ninik mamak, serta lembaga adat dalam menjaga generasi muda.
Sebab ketika luka itu terjadi di rumah sendiri, yang tersisa bukan hanya duka bagi korban, tetapi juga kegelisahan bagi seluruh nagari. (***)








