PADANG, KLIKSIAR — Hujan deras yang mengguyur Kota Padang pada Rabu malam (19/8/2026) kembali menimbulkan kekhawatiran dan trauma bagi masyarakat di Kelurahan Tarantang dan Kelurahan Baringin, Kecamatan Lubuk Kilangan. Tingginya debit air Sungai Batang Idas membuat aliran sungai kembali meluas, sementara sedimentasi yang semakin menumpuk dinilai mempersempit dan menghambat aliran sungai.
Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya pengikisan pada bagian pinggir sungai yang semakin mengancam lahan pertanian, perkebunan, hingga permukiman warga yang berada di sepanjang aliran Batang Idas.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Baringin, Jamal Febrianto, SH, mengungkapkan bahwa persoalan normalisasi Batang Idas bukanlah persoalan baru. Menurutnya, usulan penanganan sungai tersebut telah disampaikan sejak terjadinya banjir bandang pada tahun 2018 yang mengakibatkan robohnya jembatan penghubung antarkawasan.
“Sejak 2018 pasca banjir bandang yang mengakibatkan robohnya jembatan penghubung, normalisasi sungai ini sudah kami usulkan. Bersamaan dengan itu, kami juga berharap pembangunan kembali jembatan permanen segera direalisasikan. Namun sampai hari ini belum ada tindak lanjut yang nyata,” ungkap Jamal.
Ia menjelaskan, secara administratif pihak kelurahan bersama pengurus LPM juga telah menyampaikan surat kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V terkait persoalan normalisasi Batang Idas. Namun hingga saat ini, menurutnya, belum terlihat tindakan penanganan yang mampu memberikan solusi terhadap persoalan sedimentasi dan perubahan alur sungai tersebut.
Kondisi ini, lanjut Jamal, bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi sudah menyangkut rasa aman masyarakat dan keberlangsungan kehidupan warga.
Pasalnya, sejumlah lahan sawah, pertanian dan perkebunan masyarakat telah mengalami kerusakan bahkan sebagian tergerus akibat kuatnya aliran sungai. Ditambah lagi, persoalan pintu irigasi yang belum tertangani secara optimal turut memberikan dampak terhadap aktivitas pertanian masyarakat.
“Warga sudah banyak yang trauma. Setiap hujan deras turun, muncul kekhawatiran akan terjadinya banjir dan semakin meluasnya pengikisan tebing sungai. Kita tidak ingin menunggu sampai terjadi korban jiwa atau kerusakan yang lebih besar baru dilakukan penanganan,” tegasnya.
Jamal berharap pemerintah dan instansi terkait dapat memberikan perhatian serius serta segera mengambil langkah konkret terhadap kondisi Batang Idas, terutama normalisasi aliran sungai, pengendalian sedimentasi, penguatan tebing yang rawan tergerus, penanganan pintu irigasi serta percepatan pembangunan kembali jembatan permanen yang menjadi kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, penanganan sungai harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, bukan hanya ketika bencana telah terjadi.
“Semoga ke depan persoalan ini benar-benar mendapat perhatian dan tindakan yang berpihak kepada kepentingan serta asas hidup orang banyak. Masyarakat hanya ingin merasa aman dan bisa kembali menjalankan aktivitas pertanian tanpa dihantui rasa takut setiap kali hujan deras turun,” tutup Ketua LPM Baringin yang juga dikenal sebagai salah seorang tokoh muda Lubuk Kilangan tersebut.(*)








