BUKITTINGGI, KETIKA PEREMPUAN MENEMBUS SERAGAM DAN SEJARAH Dari Ranah Minang, Enam Srikandi Membuka Jalan Polisi Wanita Indonesia

oleh -22 Dilihat
oleh

ESEI RESONANSI

Oleh : IRDAM IMRAN

Senayan, 2 September 2026

 

Ada kota yang dikenang karena jamnya.

Ada kota yang dikenang karena alamnya.

Ada kota yang dikenang karena tokoh-tokohnya.

Tetapi ada pula kota yang menyimpan sejarah jauh lebih besar daripada yang terlihat oleh mata.

Bukittinggi adalah salah satunya.

Jam Gadang memang menjadi penanda waktu. Tetapi jauh sebelum kita sibuk menghitung waktu dengan jarum jam, Bukittinggi telah menjadi saksi bagaimana sebuah bangsa mempertahankan kemerdekaannya.

Dan di kota yang sama, sebuah sejarah lain dimulai.

Pada 1 September 1948, perempuan Indonesia mulai memasuki dunia kepolisian secara resmi.

Enam perempuan mengikuti pendidikan kepolisian di Sekolah Polisi Negara Bukittinggi. Mereka kemudian dikenal sebagai perintis Polisi Wanita Indonesia.

Enam nama itu adalah Mariana Saanin Mufti, Nelly Pauna Situmorang, Rosmalina Pramono, Dahniar Sukotjo, Djasmainar Husein, dan Rosnalia Taher.

Enam perempuan.

Satu kota.

Satu momentum.

Kemudian menjadi sejarah nasional.

Ketika Republik masih mempertaruhkan kemerdekaan

Tahun 1948 bukanlah tahun yang tenang.

Republik Indonesia baru berusia tiga tahun.

Kemerdekaan telah diproklamasikan, tetapi perang mempertahankan kemerdekaan belum berakhir.

Belanda masih berusaha kembali menguasai Indonesia. Di berbagai daerah, rakyat dan aparat Republik berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian.

Bukittinggi menjadi salah satu pusat penting perjuangan Republik di Sumatera.

Dalam suasana itulah pendidikan calon Polisi Wanita dimulai.

Kelahiran Polwan tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan nyata di lapangan.

Polisi menghadapi situasi yang membutuhkan keterlibatan perempuan: pemeriksaan terhadap perempuan, perlindungan perempuan dan anak, serta berbagai persoalan sosial yang tidak selalu dapat ditangani secara optimal oleh polisi laki-laki.

Tetapi kebutuhan itu sekaligus melahirkan perubahan sosial.

Perempuan yang mengenakan seragam polisi berarti perempuan memasuki ruang publik dengan kewenangan negara.

Sebuah ruang yang pada masa itu masih sangat kuat didominasi laki-laki.

Karena itu, enam perempuan tersebut sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti pendidikan kepolisian.

Mereka sedang menembus batas zaman.

Enam Srikandi dari Bukittinggi

Mereka menjalani pendidikan dalam situasi yang jauh dari kata mudah.

Agresi Militer Belanda II pada akhir 1948 mengganggu proses pendidikan. Perjuangan bersenjata kembali menjadi kenyataan.

Dalam keadaan seperti itu, sejarah awal Polwan justru bersentuhan langsung dengan sejarah perjuangan kemerdekaan.

Mereka bukan generasi yang belajar menjadi polisi ketika Republik telah mapan.

Mereka belajar menjadi polisi ketika Republik sendiri sedang mempertahankan eksistensinya.

Karena itu, makna seragam mereka berbeda.

Seragam itu bukan sekadar tanda jabatan.

Ia adalah simbol keberanian.

Simbol pengabdian.

Dan simbol kehadiran perempuan dalam perjuangan mempertahankan Republik.

Pendidikan kemudian berlanjut setelah situasi memungkinkan.

Pada 1 Mei 1951, keenam perintis tersebut menyelesaikan pendidikan dan dilantik sebagai Inspektur Polisi Wanita pertama Indonesia.

Dari sanalah sejarah Polwan bergerak menuju perjalanan panjangnya.

Mengapa Bukittinggi?

Pertanyaan ini menarik.

Mengapa sejarah Polwan justru dimulai di Bukittinggi?

Jawabannya tidak sederhana.

Bukittinggi pada masa revolusi merupakan salah satu pusat penting kehidupan politik, pemerintahan dan perjuangan Republik di Sumatera.

Kota ini memiliki lingkungan pendidikan yang berkembang dan tradisi masyarakat yang relatif terbuka terhadap pendidikan perempuan.

Di sisi lain, kita tidak dapat melepaskan Bukittinggi dari kebudayaan Minangkabau.

Ranah Minang memiliki sejarah panjang dalam melahirkan perempuan yang berani memasuki ruang publik.

Nama Rohana Kudus adalah salah satu contohnya.

Melalui pendidikan dan jurnalistik, Rohana membuka ruang bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Kemudian ada Rasuna Said, yang memperlihatkan keberanian perempuan Minangkabau dalam perjuangan politik dan kebangsaan.

Mereka tidak menjadi polisi.

Tetapi semangat mereka mempunyai persamaan:

perempuan tidak harus menunggu sejarah berubah. Perempuan dapat ikut mengubah sejarah.

Dan pada 1948, enam perempuan melanjutkan semangat itu melalui jalan yang berbeda.

Mereka memilih kepolisian.

Dari perempuan Minang kepada perempuan Indonesia

Kita harus berhati-hati agar tidak menyederhanakan sejarah.

Tidak semua enam perintis Polwan berasal dari Minangkabau.

Namun pendidikan pertama mereka berlangsung di Bukittinggi, di tengah lingkungan sosial dan sejarah Sumatera Barat yang sangat kuat.

Karena itu, Bukittinggi mempunyai tempat khusus dalam sejarah Polwan Indonesia.

Di sinilah pertemuan antara perempuan, pendidikan, perjuangan Republik dan institusi negara menemukan bentuk yang konkret.

Dan dari kota inilah sebuah pesan dikirim kepada Indonesia:

bahwa perempuan mampu memikul tanggung jawab negara.

Polwan dan wajah negara hukum

Delapan puluh tahun kemudian, dunia sudah berubah.

Polwan bukan lagi sesuatu yang dianggap aneh.

Perempuan polisi hadir dalam berbagai bidang kepolisian.

Mereka berada dalam pelayanan masyarakat, penyidikan, lalu lintas, pendidikan, penanganan perempuan dan anak, hingga berbagai posisi strategis.

Tetapi justru karena institusi semakin besar, warisan sejarah enam Srikandi itu menjadi semakin penting untuk direnungkan.

Sebab kekuasaan negara bukanlah kekuasaan yang bebas.

Seragam bukan lisensi untuk bertindak sewenang-wenang.

Pangkat bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada masyarakat.

Kewenangan harus selalu berjalan bersama tanggung jawab.

Dan tanggung jawab harus tunduk kepada hukum.

Di sinilah sejarah Polwan mempunyai relevansi dengan kehidupan demokrasi Indonesia hari ini.

Polisi yang profesional bukan hanya polisi yang kuat.

Polisi yang profesional adalah polisi yang berintegritas, menghormati hukum, melindungi masyarakat dan berdiri di atas kepentingan politik praktis.

Nilai-nilai tersebut seharusnya menjadi roh pengabdian setiap anggota Polri—laki-laki maupun perempuan.

Jangan hanya memperingati, tetapi menghayati

Setiap 1 September, Hari Jadi Polwan diperingati.

Ada upacara.

Ada penghargaan.

Ada berbagai kegiatan.

Semua itu baik.

Tetapi sejarah tidak boleh berhenti sebagai seremoni.

Peringatan sejarah seharusnya menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi.

Apakah perempuan dalam institusi negara telah memperoleh ruang yang adil?

Apakah kewenangan telah digunakan dengan penuh tanggung jawab?

Apakah masyarakat merasa aman ketika berhadapan dengan aparat?

Dan apakah hukum benar-benar ditempatkan di atas kepentingan kekuasaan?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk merendahkan institusi.

Justru sebaliknya.

Institusi yang besar harus berani bercermin kepada sejarahnya sendiri.

Dan sejarah Polwan memberikan cermin yang sangat jelas:

institusi itu dibangun oleh keberanian, pengabdian dan tanggung jawab.

Tugu Polwan dan ingatan kolektif

Bukittinggi kemudian mengabadikan sejarah tersebut melalui Tugu Polwan.

Monumen itu penting bukan karena bentuk fisiknya semata.

Ia penting karena mengingatkan kita bahwa sejarah nasional sering kali memiliki titik awal yang sederhana.

Enam perempuan.

Sebuah sekolah kepolisian.

Sebuah kota di Sumatera Barat.

Dan sebuah negara yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaannya.

Dari sana lahir sejarah yang kemudian berkembang ke seluruh Indonesia.

Tugu itu seolah berkata kepada generasi berikutnya:

Jangan pernah meremehkan keberanian orang-orang yang memulai sesuatu ketika zamannya belum siap menerima mereka.

Bukittinggi bukan hanya Jam Gadang

Barangkali sudah waktunya kita membaca Bukittinggi dengan cara yang lebih lengkap.Bukittinggi memang Jam Gadang.Bukittinggi memang Ngarai Sianok.Bukittinggi memang Bung Hatta.

Bukittinggi memang bagian penting dari sejarah PDRI dan perjuangan Republik.

Tetapi Bukittinggi juga mempunyai sejarah perempuan.

Sejarah tentang pendidikan.

Sejarah tentang keberanian.

Dan sejarah tentang enam perempuan yang pada 1948 memasuki dunia kepolisian.

Karena itu, setiap kali Jam Gadang berdentang, sesungguhnya ada satu sejarah yang layak ikut kita dengarkan.

Sejarah tentang perempuan yang menolak menjadi penonton.

 

Warisan enam Srikandi

 

Hari ini kita mungkin tidak lagi merasakan beratnya keputusan yang mereka ambil.

 

Menjadi Polwan sudah menjadi sesuatu yang biasa.

 

Tetapi sesuatu yang sekarang dianggap biasa sering kali dahulu dimulai dengan keberanian luar biasa.

 

Enam perempuan itu membuka jalan.

 

Perempuan-perempuan sesudah mereka berjalan di jalan yang telah dibuka.

 

Generasi berikutnya memperlebar jalan itu.

 

Dan hari ini, Polwan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Kepolisian Negara Republik Indonesia.

 

Maka penghormatan terbesar kepada para perintis bukanlah sekadar menyebut nama mereka.

 

Penghormatan terbesar adalah memastikan bahwa nilai yang mereka bawa tidak hilang:

 

keberanian tanpa kesewenang-wenangan, kewenangan tanpa kesombongan, dan pengabdian tanpa pamrih.

 

 

 

Dari Bukittinggi untuk Indonesia

 

Sejarah sering kali ditulis dengan nama-nama besar.

 

Tetapi sejarah juga dibangun oleh orang-orang yang pada awalnya hanya melakukan apa yang mereka yakini benar.

 

Enam perempuan di Bukittinggi pada 1948 mungkin tidak pernah membayangkan bahwa nama mereka akan menjadi bagian dari sejarah nasional.

 

Namun waktu membuktikannya.

 

Mereka datang ketika Republik sedang membutuhkan tenaga.

 

Mereka belajar ketika zaman sedang bergolak.

Mereka bertahan ketika keadaan tidak mudah.

Dan akhirnya mereka menjadi pelopor.

Mariana Saanin Mufti.

Nelly Pauna Situmorang.

Rosmalina Pramono.

Dahniar Sukotjo.

Djasmainar Husein.

Rosnalia Taher.

Enam nama yang pantas terus disebut.

Sebab dari enam perempuan itu, lahirlah sebuah jalan panjang bagi perempuan Indonesia dalam Kepolisian.

Dan jalan itu bermula di Bukittinggi.

Maka, ketika kita melihat Jam Gadang, jangan hanya melihat waktu.

Lihatlah sejarah yang bergerak bersamanya.

Ketika kita menyebut Bukittinggi, jangan hanya mengingat kota wisata.

Ingatlah kota perjuangan.

Dan ketika kita memperingati Hari Jadi Polwan, jangan hanya mengingat seragam dan institusinya.Ingatlah enam perempuan yang pertama kali berani mengenakan seragam itu.

Sebab mereka telah memberikan pelajaran sederhana tetapi mendalam:

Sejarah tidak selalu dimulai dari mereka yang jumlahnya banyak.

Kadang-kadang sejarah dimulai dari enam orang yang berani melangkah ketika yang lain masih ragu.

Dari Bukittinggi.

Dari Ranah Minang.

Dari enam Srikandi.

Perempuan Indonesia menembus seragam.

Dan dari seragam itu, mereka menulis sejarah.

Tolong buatkan cover tulisan diatas dengan format landscape. Tidak usah banyak tulisan cukup judul dan nama penulis, buat desain seakan membangkitkan sejarah masa lalu dengan desain penuh harmoni.