PADANG,KLIKSIAR – Momen Dies Natalis ke 53 ITP menghadirkan Orasi Ilmiah oleh Hendri Nofrianto dihadapan tamu yang hadir.
Dosen Institut Teknologi Padang (ITP) ini dalam orasi ilmiah nya menilai belum semua perguruan tinggi berempati masalah kebencanaan, hanya beberapa perguruan tinggi saja turun ke lapangan. Sementara, Sumatera Barat dikelilingi dan hampir selalu terjadi bencana. Entah itu di sisi jalan maupun sungai.
Pernyataan itu disampaikannya, ketika orasi ilmiah Dies Natalis ke-53 ITP, bertemakan MBG ‘Melesat Berdampak Global’, di Aula Gedung D Lantai 2 Kampus I, Rabu (8/4).
Melalui orasi ilmiah ‘Dari Bencana Menuju Ketangguhan’, ayah dari komika pras teguh ini mengimbau agar para dosen bergerak keluar beraplikasi mengajak mahasiswanya belajar ke proyek – proyek rehabilitasi bencana.
“Ayo buk rektor, ajak anak-anak ke Malalak, mau magang silahkan masukkan surat, karena banyak ilmu baru yang dipelajari mahasiswa. Mulai penguatan tebing, real amademen maupun jembatan,” ucap Hendri Nofrianto, Konsultan Proyek Perbaikan Jalan Malalak.
Poin penting dari orasi Hendri Nofrianto adalah agar ITP hadir nyata di masyarakat melalui pusat kajian infrastruktur bencana.
Ia berkomitmen memberikan ilmu baru kepada mahasiswa, mengingat kondisi sekarang, teknologi begitu berkembang canggih. “Yang dibutuhkan mahasiswa hanya ilmu dasar, pengembangan bibit di mahasiswa. Sebab seluruhnya ada di software, mulai dari analisa geologi hingga menjadi gambar. Semangat itu di bawa dengan berkolaborasi diluar. Jangan hanya belajar di dalam, tapi langsung ke lapangan,” Imbau Hendri Nofrianto.
Imbauan ini sejalan dengan yang disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Teknologi Padang (YPTP) Ampri Satyawan.
“Kami ingin ITP lebih maju dengan cepat lagi. Melalui tagline ‘MBG’, segenap civitas akademika ITP mendorong bersama-sama. Di lapangan para alumni ini banyak terpakai ilmunya. Salah satunya, Kepala BPN Sumbar Teddi Supriadi. Kemudian, untuk kebencanaan, dosen ITP menjadi konsultan proyek di Malalak, Hendri Nofrianto bersama Wilton Wahab,” ucap Ampri Satyawan yang begitu yakin ITP mampu menghasilkan lulusan yang inovatif dan bermanfaat untuk masyarakat ke depan.
Hal serupa pun diharapkan Rektor ITP Maidiawati. “Perjalanan ITP lahir dari kepedulian. Di mulai dari sebuah lembaga kursus Ahli Teknik, tumbuh menjadi Akademi Teknik Padang, berkembang menjadi Sekolah Tinggi Teknik Padang, hingga akhirnya berdiri sebagai Institut Teknologi Padang,” jelasnya.
ITP melahirkan banyak lulusan ahli teknik yang hari ini tersebar di berbagai sektor, berkontribusi nyata, dan menjadi bagian dari pembangunan bangsa.
“Program studi kita terus bertumbuh dengan memperluas akses dan kualitas pendidikan. Didukung 78 dosen tetap dan 46 tenaga kependidikan, kita menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi dengan komitmen yang kuat,” tegasnya.
ITP hadir tidak hanya sebagai institusi akademik, tetapi sebagai bagian dari solusi
“Kita masih mengingat bencana banjir besar di Sumatera Barat bebrapa bulan lalu. Melalui tim ‘ITP Peduli’, kita hadir membantu masyarakat. Bahkan, melalui inovasi para dosen hadir sebagai tenaga ahli profesional yang membantu pemerintah dalam pembangunan daerah Sumatera Barat. Mahasiswa kita pun ikut berkontribusi. Melalui program ‘Mahasiswa Berdampak’.
“Ke depan, kami terus berkomitmen meningkatkan mutu akademik dan akreditasi, memperkuat riset dan luaran inovasi, mengembangkan kualitas sumber daya manusia serta memperluas jejaring kerja sama di tingkat nasional dan internasional. Kita tidak hanya ingin menjadi institusi yang baik. Kita ingin menjadi institusi yang berdampak,” tegas Rektor berusia 53 tahun ini. (adh).







