Tim Elektro PNP Terapkan Teknologi Otomasi, Produktivitas Hidroponik Sahabat Sayur Ditingkatkan

oleh -22 Dilihat
oleh

PADANG,KLIKSIAR – Kelompok Tani Sahabat Sayur di Kelurahan Koto Luar, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mendapat sentuhan teknologi dari tim dosen dan mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Padang (PNP). Melalui penerapan alat pengisi nutrisi AB mix otomatis, budidaya hidroponik yang dikelola kelompok tani tersebut diharapkan semakin produktif, efisien dan berkelanjutan.

Penerapan teknologi itu dilakukan Kamis (5/11), melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Penerapan Iptek Masyarakat (PIM). Selain memasang perangkat pengendali nutrisi otomatis, tim PNP juga melakukan pembenahan instalasi hidroponik, memperbaiki sistem sirkulasi air serta memberikan pendampingan teknis kepada anggota kelompok tani.

Kegiatan tersebut diketuai Sahid Ridho, S.T., M.T., bersama Yustini, S.ST., M.T., dengan melibatkan tiga mahasiswa Program Studi DIII Teknik Telekomunikasi, yakni Fathur Rahman, Andika Syaputra dan Akhdan Nabil.

Sahid Ridho mengatakan, penerapan teknologi tersebut merupakan kelanjutan dari pendampingan sebelumnya, ketika tim membantu mitra membangun instalasi hidroponik menggunakan metode Nutrient Film Technique (NFT).

Menurutnya, salah satu persoalan yang dihadapi petani hidroponik adalah menjaga ketersediaan dan kepekatan nutrisi agar tetap sesuai dengan kebutuhan tanaman. Karena itu, diperlukan sistem yang mampu mengatur pemberian nutrisi secara otomatis sekaligus mencatat aktivitas budidaya.

“Kami melihat persoalan petani hidroponik dari sisi rekayasa, bagaimana nutrisi diberikan secara tepat dan konsisten, bagaimana data budidaya tercatat, serta bagaimana instalasi bekerja efisien dari segi aliran air dan energi. Teknologi yang kami terapkan dibuat sederhana agar bisa dioperasikan dan dirawat sendiri oleh petani,” ujarnya.

NUTRISI DIKENDALIKAN OTOMATIS

Teknologi utama yang diterapkan tim adalah alat pengisi nutrisi AB mix otomatis berbasis mikrokontroler ESP32. Perangkat ini dilengkapi sensor TDS untuk mengukur tingkat kepekatan nutrisi, sensor pH untuk memantau tingkat keasaman larutan, serta dua sensor water level switch untuk mengontrol ketinggian air dalam bak penampungan.

Sistem tersebut juga dilengkapi modul pengatur waktu RTC DS3231, LCD I2C 20×4, keypad 4×4, buzzer dan sejumlah relay yang mengendalikan pompa air baku serta pompa nutrisi A dan B.

Cara kerjanya, ketika volume air dalam bak berada di bawah batas minimum, sistem secara otomatis mengaktifkan pompa air baku. Setelah ketinggian air mencapai batas yang ditentukan, pompa akan berhenti bekerja.

Selanjutnya, pompa nutrisi A dan B bekerja secara bergantian untuk memasukkan larutan nutrisi. Sensor TDS kemudian membaca nilai kepekatan dalam satuan ppm dan membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan sesuai kebutuhan tanaman.

Apabila nilai ppm belum mencapai target, pompa nutrisi kembali bekerja hingga diperoleh tingkat kepekatan yang sesuai. Dengan sistem kendali umpan balik (closed loop) tersebut, petani tidak lagi harus mencampur dan mengukur nutrisi secara manual setiap kali melakukan pengisian.

Menariknya, ESP32 juga difungsikan sebagai server lokal yang memancarkan jaringan WiFi sendiri. Petani cukup menghubungkan telepon seluler atau laptop ke jaringan perangkat, kemudian membuka antarmuka melalui alamat IP yang tersedia.

Sistem ini tidak membutuhkan koneksi internet. Data budidaya dapat diakses dan disimpan secara lokal melalui perangkat tersebut.

Melalui antarmuka itu, petani bisa mengatur standar ppm berdasarkan jenis dan umur tanaman, mencatat masa tanam, mengatur jadwal semai, pindah tanam hingga perkiraan panen, serta mencatat penggunaan nutrisi pada setiap siklus produksi.

SIKLUS TANAM BISA LEBIH OPTIMAL

Penerapan sistem pencatatan dan penjadwalan tersebut menjadi salah satu upaya tim PNP meningkatkan efisiensi pengelolaan kebun hidroponik.

Sebelumnya, proses budidaya cenderung berjalan satu kali dalam satu siklus, mulai dari pembibitan hingga panen. Dengan adanya talang pembibitan dan peremajaan serta pengaturan jadwal tanam, pola produksi kini dapat dioptimalkan menjadi dua hingga tiga siklus penanaman.

Dengan demikian, ketersediaan tanaman pada lubang instalasi utama dapat lebih terjaga dan waktu panen bisa diatur secara bergiliran.

Tidak hanya menghadirkan teknologi otomasi, tim juga melakukan evaluasi terhadap tata letak instalasi. Salah satu persoalan yang ditemukan adalah pertumbuhan tanaman pada instalasi dua tingkat yang kurang optimal. Tanaman di bagian bawah cenderung kurus, tinggi dan lambat tumbuh akibat keterbatasan paparan cahaya matahari.

Tim sempat mengkaji penggunaan lampu grow light sebagai pencahayaan tambahan. Namun, kebutuhan daya listrik yang cukup besar dinilai dapat menambah beban biaya operasional kelompok tani.

Sebagai alternatif, instalasi utama kemudian ditata menjadi satu tingkat agar seluruh tanaman memperoleh cahaya matahari alami secara maksimal. Sementara itu, rangka bagian atas dimanfaatkan untuk talang pembibitan dan peremajaan yang memiliki jumlah lubang tanam lebih sedikit.

SIRKULASI AIR DAN PERLINDUNGAN TANAMAN DIBENAHI

Pembenahan juga dilakukan terhadap sistem hidrolik instalasi hidroponik. Pada sistem NFT, aliran nutrisi harus berlangsung stabil agar kebutuhan tanaman terpenuhi secara merata.

Pada instalasi awal, penggunaan pipa dan kran berukuran setengah inci menyebabkan debit aliran air terlalu kecil. Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim mengganti jalur pipa menjadi satu inci dengan kran setengah inci. Kran yang mengalami kerusakan juga diganti sehingga sirkulasi nutrisi menjadi lebih lancar.

Persoalan serangan hama turut menjadi perhatian. Sebelumnya, belalang, kumbang, kutu daun dan bercak putih pada daun menyebabkan kerusakan hingga dua pertiga tanaman.

Untuk mengurangi risiko tersebut, tim memasang jaring serangga atau insect net sebagai pelindung fisik tanaman. Selain itu, dibuat pula perangkap perekat kuning dengan memanfaatkan botol air mineral bekas yang dicat kuning, dibungkus plastik dan dilapisi lem perekat.

Langkah tersebut menjadi alternatif pengendalian hama secara fisik tanpa bergantung pada penggunaan pestisida.

PETANI DILIBATKAN LANGSUNG

Dalam kegiatan tersebut, anggota Kelompok Tani Sahabat Sayur tidak hanya menerima penjelasan mengenai teknologi yang diterapkan, tetapi juga dilibatkan dalam praktik langsung.

Didampingi mahasiswa PNP, anggota kelompok tani mencoba membuat perangkap perekat kuning serta memindahkan bibit dari tray semai ke instalasi hidroponik.

Perwakilan Kelompok Tani Sahabat Sayur mengapresiasi pendampingan yang diberikan tim Teknik Elektro PNP. Bantuan tersebut dinilai memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang selama ini dihadapi dalam pengelolaan budidaya hidroponik.

“Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan dan solusi yang telah diberikan terkait permasalahan yang kami hadapi. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami,” ungkapnya.

Tim PNP selanjutnya akan melaksanakan pendampingan penggunaan alat, monitoring dan evaluasi hingga berakhirnya periode kegiatan pada November 2026.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut dibiayai melalui dana DIPA Politeknik Negeri Padang. Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada PNP atas dukungan pendanaan serta Kelompok Tani Sahabat Sayur atas kerja sama dan partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. (FT)