Puisi di Tengah Pabrik: Semen Padang Rayakan Kemerdekaan Lewat Kata-kata

oleh -661 Dilihat
oleh

PADANG, KLIKSIAR— Di tengah deru mesin dan aroma semen yang pekat, PT Semen Padang memilih cara berbeda untuk merayakan HUT ke-80 Republik Indonesia: bukan dengan barisan militer atau parade bendera, tapi dengan barisan kata-kata. Lomba Baca Puisi digelar di Club House, outdoor, di bawah langit Padang yang cerah—sebuah panggung kecil untuk suara-suara besar.

Pesertanya bukan penyair profesional. Mereka adalah karyawan, tenaga outsourcing, anak-anak mereka, dan siswa dari Yayasan Igasar Semen Padang. Dari dunia industri, mereka melangkah ke dunia imajinasi. Dari seragam kerja, mereka berganti dengan ekspresi jiwa.

Direktur Keuangan PT Semen Padang, Iskandar Z Lubis, tak sekadar membuka acara. Ia membuka makna. “Kemerdekaan bukan hanya soal sejarah 17 Agustus 1945. Ia adalah semangat yang harus terus dihidupkan. Dan hari ini, kita hidupkan lewat puisi,” ujarnya Jumat, (15/8).

Karya-karya Taufik Ismail dipilih sebagai bahan bacaan. Bukan tanpa alasan. Taufik adalah penyair yang tak hanya menulis, tapi menggugah. “Sastra bisa membentuk karakter dan menumbuhkan cinta tanah air,” kata Iskandar, yang tampak lebih seperti kurator seni daripada direktur keuangan sore itu.

Freddo Syukri, Ketua Forum Komunikasi Karyawan Semen Padang Group, mencatat antusiasme luar biasa. “80 peserta kirim video seleksi, 30 tampil langsung. Ini bukan sekadar lomba. Ini bibit komunitas sastra di lingkungan perusahaan,” ujarnya.

Feri Febrizon, PIC lomba, menyebut penjurian berlangsung ketat. Tapi hasilnya jelas:

*Kategori Anak:*

– Juara I: Shauqia Almaira

– Juara II: Lidiesia Syakira Ma’ruf

– Juara III: M Atharauf Farzan

– Favorit: Rafif Akhtar Alfarizqi

*Kategori Remaja:*

– Juara I: Suci Khairunnisa

– Juara II: Aziva Putri Yuditia

– Juara III: Rahman Raifa Putra

– Favorit: Neta Tri Rahma

*Kategori Karyawan:*

– Juara I: Vischa Dipama

– Juara II: Jhon Indra

– Juara III: Dewi Sasrina

– Favorit: Suhatman

Di tengah semangat Asta Cita ke-8—mewujudkan kebudayaan nasional yang maju dan berkepribadian—PT Semen Padang membuktikan bahwa seni dan industri bukan dua dunia yang bertabrakan. Mereka bisa berjalan beriringan. Bahkan saling menguatkan.

Dan di hari itu, puisi menjadi alat. Bukan untuk melawan, tapi untuk mengenang. Bukan untuk berteriak, tapi untuk merayakan. Di Semen Padang, kemerdekaan dirayakan bukan dengan gegap gempita, tapi dengan suara lirih yang menyentuh. (***)