Mohammad Dawam Sebut PBNU Butuh Pemimpin Visioner, Humanis dan Adaptif di Era Baru

oleh -82 Dilihat
oleh

JAKARTA,KLIKSIAR — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada Agustus 2026 dinilai menjadi momentum penting bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu untuk melakukan evaluasi sekaligus memperkuat arah perjuangan memasuki abad kedua masa khidmahnya.

Anggota Kompolnas periode 2020-2024 sekaligus mantan Anggota Komisi Informasi DKI Jakarta dua periode, Mohammad Dawam, menilai calon Ketua Umum PBNU mendatang perlu belajar dari pola kepemimpinan empat ketua umum sebelumnya.

“Empat generasi kepemimpinan PBNU telah meninggalkan karakter dan warisan besar pada zamannya masing-masing. Itu bisa menjadi semacam miqat atau arah kebijakan bagi kepemimpinan NU ke depan,” tulis Dawam dalam opini yang diterima wartawan, Kamis (28/5/2026).

Menurut Dawam, kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi simbol kedekatan PBNU dengan akar rumput. Gus Dur dinilai mampu membangun komunikasi langsung dengan warga NU hingga lapisan terbawah.

“Gus Dur tidak sekadar mengkritik pemerintah ketika kebijakan tidak berpihak kepada rakyat kecil, tetapi beliau juga rutin turun ke masyarakat, menghadiri pengajian kampung dan ziarah ke tokoh-tokoh NU,” tulisnya.

Dawam menyebut pendekatan humanis Gus Dur membuat warga NU merasa dihormati dan memiliki hubungan batin yang kuat dengan PBNU.

Sementara itu, model kepemimpinan KH Hasyim Muzadi dinilai lebih menonjol dalam aspek manajemen organisasi dan diplomasi kebangsaan.

“KH Hasyim Muzadi berhasil membangun hubungan harmonis, baik di internal NU maupun lintas organisasi dan lintas agama. Pada masa itu, sinergi NU dan Muhammadiyah sangat terasa,” katanya.

Ia juga menilai kiprah internasional NU melalui ICIS (International Conference of Islamic Scholars) menjadi salah satu warisan penting yang perlu diperkuat kembali.

“Peran NU sebagai juru damai dunia sangat relevan, terutama di tengah konflik global yang terus memanas,” ujar Dawam.

Sedangkan pada era KH Said Aqil Siroj, Dawam melihat NU lebih fokus pada pembangunan sumber daya manusia dan penguatan pendidikan.

“Era KH Said Aqil ditandai dengan tumbuhnya kampus-kampus NU, pengembangan rumah sakit NU, hingga program beasiswa kader ke luar negeri,” katanya.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi investasi jangka panjang bagi penguatan peradaban NU dan peningkatan kualitas kader.

Adapun kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya disebut membawa pembaruan dalam tata kelola organisasi melalui sistem administrasi satu pintu.

“Manajemen satu pintu membuat tata kelola organisasi lebih tertib, terkontrol dan akuntabel,” ujar Dawam.

Meski dinilai lebih ketat dan birokratis, ia menilai sistem tersebut penting untuk menjaga profesionalisme kelembagaan NU.

Dawam menegaskan, kepemimpinan PBNU ke depan harus mampu menggabungkan seluruh nilai positif dari empat model kepemimpinan tersebut.

“NU harus tetap memegang prinsip Al-Muhafadhatu ‘Alal Qadiimish-Sholih Wal Akhdzu Bil Jadiidil Ashlah, menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik,” katanya.

Ia juga mendorong PBNU memperkuat kerja sama strategis dengan pemerintah, masyarakat sipil dan dunia internasional dalam membangun kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Menurutnya, kader-kader terbaik NU perlu didorong mengisi berbagai posisi strategis negara, tidak hanya di BUMN tetapi juga pada sektor pengambilan kebijakan nasional lainnya.

“NU harus hadir memberikan kontribusi nyata bagi bangsa melalui kader-kader terbaiknya yang memiliki kapasitas, integritas dan meritokrasi,” tutup Dawam dalam tulisannya. (***)