Di KBRI Singapura, Bundo Kanduang DKI Tegaskan: Kami Tetap Indonesia

oleh -29 Dilihat
oleh

SINGAPURA, KLIKSIAR – Jika biasanya Bundo Kanduang identik dengan rumah gadang, dengan tungku yang mengepul dan petatah-petitih yang menyejukkan, hari ini mereka melangkah jauh lebih jauh.

Dari Jakarta, para bundo terbang menyeberangi Selat Malaka, menuju Singapura. Bukan untuk berdagang atau berlibur, melainkan untuk satu panggilan jiwa: Upacara Bendera.

Pada 17 Agustus 2026, di halaman Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura, di bawah kibaran Merah Putih yang gagah, akan ada sekelompok perempuan berjiwa tangguh. Mereka adalah Perkumpulan Bundo Kanduang Minangkabau (PBKM) Provinsi DKI Jakarta.

Mereka datang dengan tema yang sederhana namun menghujam: “Bundo Kanduang untuk Indonesia”.

Tidak ada panggung megah. Hanya sebuah upacara. Namun di sanalah makna kemerdekaan menemukan wujudnya yang paling jujur.

Di tengah hiruk pikuk Singapura dengan gedung pencakar langit Marina Bay Sands di kejauhan, siluet Rumah Gadang dalam poster mereka menjadi pengingat yang manis – bahwa modernitas tak pernah bisa mencabut akar.

“Dari Ranah Minang, Jakarta hingga Singapura, semangat Merah Putih tetap menyatukan kita.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan. Itu adalah sumpah perantau.

Dipimpin langsung oleh Ketua PBKM DKI Jakarta, Dr. Rosita Media, M.M., bersama Sekretaris Erni Abbas dan Bendahara Denny Susanti, Wakil Sekretaris, Diah Fitriani Bakri beserta jajaran dan seluruh anggota PBKM Provinsi DKI Jakarta.

Bagi seorang Bundo Kanduang, menjaga Indonesia bukan hanya tugas tentara atau pejabat. Menjaga Indonesia adalah menjaga adab, menjaga bahasa, menjaga anak cucu agar tidak lupa dari mana mereka berasal, dan tetap bangga menjadi Indonesia di negeri orang.

Di hari ketika Indonesia genap 81 tahun merdeka, mereka memilih untuk berdiri tegak di tanah orang, menyanyikan Indonesia Raya dengan air mata yang mungkin tertahan di pelupuk mata. Karena bagi perantau, lagu kebangsaan selalu terdengar lebih syahdu.

Inilah esensi dari Berbudaya, Bersatu, Bergerak untuk Indonesia.

Berbudaya karena mereka tetap Minang. Bersatu karena mereka tetap Indonesia. Dan bergerak bersama karena mereka tahu, Indonesia tidak dibangun oleh satu suku, satu kota, melainkan oleh semua yang hatinya masih merah putih.

Dan seperti yang diungkapkan Ketua PBKM DKI Jakarta, Dr Rosita Medina yang begitu dalam,”Di mana pun berada, Merah Putih tetap di dada.” pungkasnya.(Agusmardi)