Urang Awak di Ruang Mesin Republik

oleh -22 Dilihat
oleh

Oleh: Gilang Gardhiolla Gusvero, Wartawan

Nama Dony Oskaria tidak disebut paling awal dalam pidato Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026. Namun jejak pekerjaannya terasa hampir di setiap bagian ketika Presiden berbicara tentang kebangkitan perusahaan-perusahaan milik negara.

PT Timah. Pupuk Indonesia. Semen Indonesia. Pertamina. Pelindo. BTN. Bank Mandiri.

Satu per satu nama BUMN itu disebut sebagai contoh perusahaan yang menunjukkan perbaikan kinerja dan pertumbuhan laba. Di hadapan para anggota parlemen dan seluruh rakyat Indonesia, Presiden menyampaikan apresiasi atas transformasi yang sedang berlangsung di tubuh perusahaan negara.

Publik melihat hasilnya dalam bentuk angka. Laba meningkat. Kinerja membaik. Tata kelola yang semakin kuat.

Namun di balik angka-angka itu, ada pekerjaan panjang yang tidak banyak terlihat. Ada rapat yang berlangsung hingga larut malam. Ada evaluasi terhadap ratusan anak dan cucu usaha. Ada keputusan-keputusan sulit yang tidak selalu populer. Ada keberanian membongkar persoalan lama yang bertahun-tahun tersimpan di balik laporan keuangan perusahaan negara.

Salah satu orang yang berada di pusat pekerjaan itu adalah Dony Oskaria.

Putra Tanjung Alam, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, itu kini memegang dua amanah besar sekaligus. Ia dipercaya memimpin Badan Pengelola BUMN dan menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

Jabatan itu, bukan hanya posisi administratif. Di pundaknya melekat tanggung jawab mengawal transformasi ratusan perusahaan negara yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Ketika Presiden Prabowo memberikan kepercayaan tersebut pada Oktober 2025, kondisi yang dihadapi tidak sederhana.

BUMN memiliki jaringan perusahaan yang sangat besar. Banyak entitas berdiri sendiri dengan arah bisnis yang saling tumpang tindih. Sejumlah perusahaan menghadapi persoalan efisiensi. Sebagian lainnya dibebani struktur organisasi yang terlalu gemuk. Di sektor konstruksi, beberapa BUMN Karya menghadapi tekanan finansial akibat proyek-proyek besar dan beban utang yang terus meningkat.

Di tengah situasi itu, Dony memilih memulai dari fondasi.

Ia terlebih dahulu memperkuat struktur internal BP BUMN melalui pelantikan pejabat Eselon I dan II. Organisasi dibangun agar memiliki kepemimpinan yang solid sebelum agenda perubahan dijalankan lebih jauh.

Setelah itu, pekerjaan besar dimulai.

Bersama Danantara, Dony menyusun peta jalan transformasi lima tahun untuk mengintegrasikan pengelolaan perusahaan-perusahaan negara. Tujuannya bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi menciptakan ekosistem BUMN yang lebih sehat, efisien, dan mampu bersaing di tingkat global.

Salah satu langkah paling ambisius adalah program streamlining atau perampingan korporasi.

Selama bertahun-tahun, banyak BUMN berkembang dengan jaringan anak usaha hingga cucu usaha yang sangat luas. Tidak sedikit yang bergerak di bidang serupa sehingga menimbulkan tumpang tindih fungsi dan pemborosan sumber daya.

Melalui program tersebut, jumlah entitas perusahaan negara ditargetkan menyusut menjadi sekitar 250 perusahaan inti yang lebih fokus dan produktif. Hingga pertengahan 2026, sebanyak 274 entitas telah berhasil ditata ulang sebagai bagian dari reformasi besar itu.

Di saat bersamaan, Dony memimpin evaluasi terhadap berbagai anak dan cucu usaha yang dinilai tidak lagi sejalan dengan bisnis utama perusahaan induk. Bersama Danantara Asset Management, proses penataan dilakukan untuk mengembalikan fokus operasional setiap BUMN kepada bidang usaha inti mereka.

Pengawasan juga diperketat.

Monitoring terhadap sejumlah perusahaan dilakukan secara berkala. Tata kelola diperbaiki. Transparansi diperkuat. Praktik-praktik yang berpotensi merusak kesehatan korporasi, termasuk rekayasa keuangan, menjadi perhatian serius.

Langkah paling menantang mungkin terjadi di sektor infrastruktur.

Selama bertahun-tahun, persoalan keuangan BUMN Karya menjadi salah satu isu yang paling sering dibicarakan. Banyak proyek besar berjalan dengan pembiayaan yang agresif. Beban utang meningkat. Sebagian proyek bahkan menghadapi persoalan penyelesaian.

Dony memilih pendekatan yang tidak biasa.

Alih-alih menutupi masalah, ia mendorong pembukaan data secara transparan. Audit terhadap proyek bermasalah dilakukan. Model bisnis yang terlalu bergantung pada utang mulai dievaluasi dan ditata ulang.

Langkah itu tidak selalu nyaman. Namun perubahan besar memang jarang lahir dari zona aman.

Perlahan hasilnya mulai terlihat.

Sejumlah perusahaan negara mencatatkan peningkatan kinerja yang signifikan. PT Timah menjadi salah satu contoh yang paling menonjol. Setelah melalui berbagai proses pembenahan, perusahaan tersebut berhasil membukukan lonjakan laba yang mendapat perhatian langsung dari Presiden.

Perusahaan-perusahaan lain juga menunjukkan perkembangan positif. Pupuk Indonesia, Semen Indonesia, Pertamina, Pelindo, BTN, hingga Bank Mandiri menjadi bagian dari daftar BUMN yang diapresiasi pemerintah atas capaian kinerjanya.

Bagi Indonesia, keberhasilan itu menunjukkan bahwa transformasi BUMN bukan sekadar slogan.

Namun bagi urang awak di ranah Minang, cerita ini memiliki makna yang lebih dalam.

Di tengah agenda besar penataan ekonomi nasional, seorang anak nagari dari Tanjung Alam dipercaya berada di ruang kendali perubahan. Ia tidak lahir dari pusat kekuasaan. Ia tumbuh di ranah Minang dengan nilai kerja keras, semangat belajar, dan tradisi marantau yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya.

Perjalanannya menjadi pengingat bahwa talenta-talenta terbaik bangsa tidak hanya lahir dari kota-kota besar. Banyak di antaranya tumbuh dari nagari, dari kampuang-kampuang kecil, dari keluarga sederhana yang percaya bahwa pendidikan dan kerja keras dapat mengubah masa depan.

Karena itu, kisah Dony Oskaria sesungguhnya bukan hanya tentang seorang pejabat atau profesional yang berhasil mencapai posisi tinggi. Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang anak nagari mengambil bagian dalam pekerjaan besar negara.

Di usia kemerdekaan yang ke-81, Indonesia membutuhkan lebih banyak cerita seperti ini. Cerita tentang orang-orang yang tidak hanya menikmati hasil pembangunan, tetapi ikut membangunnya.

Dan ketika perusahaan-perusahaan negara mulai bangkit, ketika tata kelola terus diperbaiki, serta ketika aset-aset nasional semakin produktif, ada jejak seorang anak nagari dari ranah Minang di dalam proses panjang tersebut.

Urang awak mengenalnya sebagai Dony Oskaria. Indonesia mengenalnya sebagai salah satu penggerak transformasi BUMN nasional.

Barangkali itulah makna paling sederhana dari sebuah perjalanan marantau. Berangkat dari Tanjung Alam sebagai anak nagari biasa, lalu ikut mengambil bagian dalam pekerjaan besar yang menentukan arah masa depan bangsa. Dari ranah Minang, jejak itu kini sampai ke ruang-ruang tempat masa depan ekonomi Indonesia dirancang. (***)