KONEKTIVITAS

oleh -17 Dilihat
oleh

Oleh: Two Efly

Wartawan Ekonomi

Ada sejarah yang ditulis untuk pertama kali. Ada pula sejarah lama yang ditulis ulang dengan tinta dan semangat zaman yang berbeda. Di Sumatera Barat, sejarah itu sedang bergerak. Sejumlah infrastruktur yang menjadi simpul konektivitas ekonomi sedang dipacu. Anak rantau Minang yang berada di lingkaran pengambilan kebijakan nasional bergandengan tangan dengan anak nagari untuk membangun kampung halamannya.

Selasa, 27 Oktober 2026, menjadi salah satu penanda penting. Tiga putra Minang—Dony Oskaria, Andre Rosiade, dan Bobby Rasyidin—berada dalam satu irama untuk mendorong pembangunan Sumatera Barat. Dony Oskaria sebagai Kepala Badan Pengaturan BUMN, Andre Rosiade sebagai Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, dan Bobby Rasyidin sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), masing-masing membawa peran dan kewenangan yang berbeda.

Mereka tidak bekerja sendirian. Ada pemerintah pusat, kementerian teknis, BUMN, pemerintah daerah, dan anak nagari yang ikut mengambil bagian. Kolaborasi itulah yang diharapkan menjadi tenaga pendorong agar Ranah Minang tidak berlama lama berjalan di tempat. Harapannya sederhana, ranah ini mampu mengejar ketertinggalan dan memperbesar daya saing ekonominya.

Sejumlah proyek mercusuar mulai dibangun. Dari stadion di pusat Kota Padang, jalan layang di Sitinjau Lauik, hingga jalur kereta api yang hendak dihidupkan kembali. Bentuknya berbeda, tetapi benang merahnya sama: membangun konektivitas ekonomi.

Dari Renovasi menjadi Rekonstruksi

Di pusat Kota Padang, Stadion Gelanggang Olahraga Haji Agus Salim sedang memasuki babak baru. Stadion yang dibangun pada dekade 1980-an itu bukan sekadar bangunan olahraga. Di sana tersimpan sejarah sepak bola Sumatera Barat, kenangan para pemain, riuh suporter, serta kebanggaan masyarakat Ranah Minang.

Awalnya, pemerintah merencanakan renovasi. Namun, setelah melalui evaluasi dan kajian teknis, keputusan berubah. Bukan lagi sekadar memperbaiki bagian yang rusak, melainkan membangun kembali stadion tersebut secara menyeluruh.

Ada pesan penting di balik pembangunan ini. Stadion tidak cukup hanya tampak megah dari luar. Ia harus dibangun dengan perencanaan matang, struktur yang kuat, dan standar keselamatan yang sesuai. Apalagi Sumatera Barat berada di wilayah rawan gempa.

Ketika meninjau pembangunan stadion, Dony Oskaria mengingatkan pentingnya menjaga kualitas pekerjaan dan memastikan kontraktor serta subkontraktor memiliki kompetensi yang memadai. Kerjakanlah dengan sepenuh hati. Pesan itu patut digarisbawahi. Sebab, membangun stadion bukan hanya urusan mengejar target penyelesaian, tetapi juga menyiapkan warisan bagi generasi mendatang.

GOR Haji Agus Salim bagi masyarakat Ranah Minang jauh melampaui pembangunan fisik. Ia merupakan ruang ingatan kolektif. Karena itu, rekonstruksi ini semestinya tidak berhenti pada lahirnya stadion yang lebih modern. Ia juga harus menjadi pemantik kebangkitan sepak bola, pembinaan atlet, penyelenggaraan pertandingan, dan pertumbuhan ekonomi di sekitarnya.

Sitinjau Lauik, Memangkas Risiko dan Jarak

Beranjak ke pinggiran Kota Padang, Flyover Sitinjau Lauik juga menjadi simpul penting koneksasi. Jalan layang ini dibangun untuk menjawab persoalan lama di jalur Padang–Solok. Tanjakan curam, tikungan tajam, serta risiko kecelakaan yang selama bertahun-tahun menghantui pengendara.

Jalur Panorama I dan Panorama II bukan nama yang asing bagi pengemudi yang melintasinya. Ada kendaraan berat yang harus mengambil ancang-ancang. Ada mesin yang meraung keras ketika menaklukkan tanjakan. Ada pula pengemudi yang menahan napas saat kendaraan berpapasan di tikungan tajam.

Di situlah persoalan koneksasi terasa nyata. Jalan bukan sekadar penghubung dua kota. Jalan yang sulit dilalui juga dapat menjadi penghambat arus barang, meningkatkan biaya angkutan, memperpanjang waktu perjalanan, dan memperbesar risiko kecelakaan.

Flyover Sitinjau Lauik I dirancang sepanjang sekitar 2,77 kilometer. Proyek ini memiliki nilai investasi sekitar Rp2,793 triliun, sedangkan nilai konstruksi dan nilai kontrak dapat berbeda sesuai cakupan pekerjaan dan tahapan proyek. Pelaksanaannya menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan masa kerja sama yang mencakup pembangunan dan layanan operasional.

Panjang ruas tersebut mungkin hanya beberapa kilometer. Namun, manfaatnya bisa melampaui angka di atas kertas. Dengan geometri jalan yang lebih aman, perjalanan Padang–Solok diharapkan menjadi lebih lancar. Risiko kendaraan kehilangan kendali, rem blong, atau tergelincir di jalur ekstrem dapat ditekan. Arus kendaraan barang pun berpeluang bergerak lebih efisien.

Ingat, Flyover bukan sekadar jembatan layang yang megah. Ia adalah investasi untuk memangkas risiko dan memperlancar pergerakan manusia serta barang. Di situlah nilai ekonominya.

Menghidupkan rel, Menggerakkan Ekonomi

Menarik sekali memdalami pesan, Kepala BP BUMN, Dony Oskaria. Reaktivasi kereta api tidak cukup hanya menghadirkan kembali layanan transportasi. Konektivitas merupakan simpul pergerakan ekonomi. Konektivitas bukan sekadar menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Konektivitas harus membuat hubungan tersebut menghasilkan nilai tambah.

Bagi saya, di sinilah makna konektivitas itu menjadi lebih luas. Kita tidak sedang membicarakan rel kereta api semata. Kita sedang membicarakan hubungan antara pelabuhan, jalan raya, jalur kereta api, kawasan pergudangan, sentra pertanian, pusat perdagangan, dan kawasan industri. Semua harus terhubung dalam satu sistem yang saling mendukung.

Konektivitas bukan hanya memperpendek jarak di atas peta. Ia harus memperpendek jarak antara produsen dan pasar, mengurangi hambatan distribusi, membuka kesempatan usaha, serta memperluas pemerataan kesejahteraan.

Padang Panjang Bersiaplah

Saya tak tahu apakah rencana reaktivasi kereta api Kayu Tanam–Padang Panjang sudah dibaca sebagai sebuah peluang ekonomi besar oleh Kota Padang Panjang atau belum.

Status sebagai kota perlintasan sudah lama melekat pada kota dingin dan kota serambi ini. Menurut saya, menjadi kota perlintasan saja tidak cukup. Padang Panjang jangan hanya menjadi tempat lewat. Kota ini harus mencari akal agar setiap arus perjalanan yang melintas bisa menghasilkan nilai tambah.

Di sinilah saya melihat reaktivasi kereta api Kayu Tanam–Padang Panjang sebagai peluang besar. Padang Panjang berpotensi mengubah perannya, dari sekadar kota perlintasan menjadi kota transit sekaligus pusat distribusi barang dan manusia. Padang Panjang sangat berpeluang menjadi titik temu arus barang dari dua kawasan ekonomi yang saling membutuhkan.

Pergudangan, Kunci Ekonomi Kota Perlintasan

Padang Panjang sudah saatnya serius memikirkan pembangunan kawasan pergudangan yang terencana dan terintegrasi dengan jalur transportasi.

Pergudangan bukan sekadar tempat menyimpan barang. Dalam sistem logistik modern, kawasan pergudangan merupakan simpul penting yang menghubungkan produsen, distributor, pedagang, dan konsumen. Di sana barang diterima, disimpan, disortir, dikemas, dikonsolidasikan, lalu dikirim kembali sesuai tujuan.

Bagi sebuah kota perlintasan, keberadaan kawasan pergudangan dapat mengubah arus perjalanan menjadi arus ekonomi. Kendaraan yang selama ini hanya melintas bisa memiliki kepentingan untuk berhenti. Barang yang sebelumnya sekadar melewati kota dapat menjadi sumber kegiatan usaha.

Kawasan pergudangan akan menciptakan kegiatan ekonomi turunan. Ada tenaga kerja, jasa angkutan, bongkar muat, usaha makanan, perawatan kendaraan, hingga tumbuhnya usaha perdagangan di sekitarnya. Sederhananya, pergudangan bisa menjadi salah satu mesin ekonomi baru bagi Padang Panjang.

Padang Panjang jangan sampai terlambat. Ketika Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia mulai mendorong reaktivasi jalur kereta api Kayu Tanam–Padang Panjang, pemerintah kota seharusnya bergerak cepat menyiapkan diri.

Kesempatan membangun ekosistem ekonomi harus dipersiapkan sejak sekarang. Pemerintah kota perlu mengidentifikasi lahan potensial, menyusun kajian kelayakan, memetakan kebutuhan logistik, dan membuka komunikasi dengan KAI, pemerintah provinsi, pelaku usaha angkutan, distributor, serta pengusaha perdagangan.

Pembangunan kawasan pergudangan juga tidak harus langsung berskala besar. Bisa dimulai secara bertahap, sesuai kebutuhan pasar dan kemampuan investasi. Yang penting, arah pengembangannya jelas dan terhubung dengan rencana reaktivasi kereta api.

Saya membayangkan Padang Panjang seperti sebuah tim sepak bola. Selama ini, ia mungkin lebih banyak menjadi pemain yang dilewati bola. Kini, Padang Panjang harus berani mengambil peran sebagai gelandang pengatur permainan. Ia menghubungkan pertahanan dan penyerangan, mengatur aliran bola, lalu mendistribusikannya kepada pemain yang tepat.

Begitu pula dalam ekonomi. Padang Panjang bisa menjadi pengatur arus barang dari pesisir menuju darek dan sebaliknya. Jadi Singapura minilah perannya. Barang masuk, dikonsolidasikan, lalu didistribusikan ke tujuan masing-masing. Arus manusia yang datang juga dapat menghidupkan perdagangan, jasa, kuliner, dan pariwisata.

Tangkaplah sinyal konektivitas itu. Reaktivasi kereta api bukan sekadar menghidupkan kembali rel tua yang lama tertidur. Ini adalah momentum untuk membangun kembali hubungan ekonomi antarkawasan.

Padang Panjang harus membaca sinyal itu sebagai kesempatan untuk menaikkan kelasnya. Bukan lagi hanya kota yang dilewati kendaraan dan kereta api, melainkan kota yang menjadi tempat barang dikumpulkan, disimpan, dipertukarkan, dan didistribusikan. ***