Padang,Kliksiar– Di sebuah sudut kota, di antara kehidupan yang senantiasa berputar, pagi itu di Desaku Menanti terasa berbeda. Tidak sekadar rutinitas menanti bantuan atau tangan-tangan yang datang memberi, tetapi sebuah peristiwa yang menyentuh hati: dua ekor sapi dan dua ekor kambing yang dikurbankan, bukan hanya sebagai persembahan ibadah, tetapi sebagai tanda bahwa harapan itu masih ada.
Di tengah warga yang berkumpul, Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, hadir bersama istrinya, Ny. Sri Hayati. Langkahnya bukan hanya sekadar kunjungan, tetapi wujud kepedulian. Satu per satu warga disapa, tangan-tangan dijabat, dan bersama mereka ia menyaksikan penyembelihan hewan kurban.
“Kurban ini bukan sekadar menyembelih dan berbagi daging. Ia adalah peringatan bagi kita semua bahwa kehidupan adalah perjuangan. Hari ini mereka menerima, tetapi esok, insya Allah, mereka yang akan memberi,” ucap Maigus Nasir, matanya memandang jauh ke arah para warga yang tengah menjalani pembinaan.
Desaku Menanti bukan sekadar tempat tinggal sementara. Ia adalah ladang ujian bagi mereka yang tengah membangun kembali kehidupan yang sempat goyah. Tiga hingga empat tahun mereka tinggal, dibimbing, dibantu, dan diberi kesempatan agar kelak mampu berdiri tegak sebagai pribadi yang mandiri.
Maka keputusan Dinas Sosial membawa hewan kurban ke tempat ini bukanlah sekadar tradisi tahunan. Ini adalah pesan bahwa perjuangan mereka tidak sendiri. Bahwa dari setiap ujian, ada tangan-tangan yang siap menopang.
“Kita belajar dari Nabi Ibrahim AS. Di tengah kesulitan, beliau tetap teguh. Dari lembah yang tandus, Allah membangkitkan kehidupan yang menghidupi jutaan orang setiap tahunnya. Begitu pula dengan warga di sini. Selama ada usaha dan kesabaran, selalu ada harapan,” lanjutnya.
Kepala Dinas Sosial Kota Padang, Heriza Syafani, melihat peningkatan jumlah hewan kurban tahun ini sebagai pertanda baik.
“Tahun lalu hanya satu ekor sapi. Alhamdulillah, sekarang ada dua ekor sapi dan dua ekor kambing, berkat keikhlasan 16 pejabat struktural yang berkurban bersama,” ujarnya penuh syukur.
Daging kurban pun dibagikan kepada 36 kepala keluarga di Desaku Menanti serta 30 KK dari warga sekitar. Bahkan pegawai non-ASN turut mendapat bagian, karena kebahagiaan tidak pernah mengenal sekat.
Heriza berharap tahun depan lebih banyak yang ikut serta. Karena kurban bukan hanya ibadah, ia adalah lambang solidaritas manusia, tentang berbagi bukan karena berlebih, tetapi karena peduli.
Camat Koto Tangah, Fizlan Setiawan, serta jajaran ASN dan non-ASN Dinas Sosial turut menghadiri acara itu. Namun bagi warga Desaku Menanti, ini lebih dari sekadar seremoni. Ini adalah tanda bahwa langkah yang mereka jalani tidaklah sia-sia. Bahwa di tengah perjalanan yang penuh ujian, selalu ada cahaya yang menerangi.
(***)







