Dari Nagari Menuju Harapan, Tanjung Alam Bersiap Menjadi Sekolah Rakyat Terbesar di Indonesia

oleh -14 Dilihat
oleh

TANAH DATAR,KLIKSIAR– Ribuan anak mungkin belum pernah mendengar nama Nagari Tanjung Alam. Namun, beberapa tahun mendatang, kawasan di kaki Gunung Marapi itu diproyeksikan menjadi rumah bagi Sekolah Rakyat terbesar di Indonesia. Di balik rencana besar tersebut, tersimpan sebuah keputusan yang lahir dari kepedulian. Keluarga Dony Oskaria menghibahkan tanah seluas 19 hektare agar ribuan anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih baik.

Keputusan itu bukan hadir dalam sekejap. Pada awalnya, keluarga Dony Oskaria hanya menghibahkan lahan seluas sekitar 9,5 hektare. Namun, setelah pemerintah meningkatkan kapasitas Sekolah Rakyat hingga mampu menampung sekitar 3.000 siswa, keluarga kembali memperluas hibah hingga total mencapai 19 hektare.

Tahapan penting hibah tersebut berlangsung pada Jumat (26/6/2026). Ketua DPRD Tanah Datar, Anton Yondra, yang dipercaya keluarga besar Dony Oskaria mengurus seluruh proses hibah, menyerahkan surat hibah kepada Bupati Tanah Datar Eka Putra di rumah dinas bupati. Penyerahan itu menandai resminya lahan tersebut menjadi aset Pemerintah Kabupaten Tanah Datar sebagai lokasi pembangunan Sekolah Rakyat.

Anton Yondra menilai langkah keluarga Dony Oskaria layak menjadi teladan. Menurutnya, di tengah masih munculnya penolakan terhadap sejumlah rencana pembangunan di berbagai daerah, keluarga tersebut justru memilih menyerahkan tanah miliknya secara sukarela demi mendukung kemajuan pendidikan dan masa depan generasi muda.

Apresiasi juga disampaikan Bupati Eka Putra. Ia menyebut hibah itu sebagai bentuk ketulusan sekaligus pengabdian kepada daerah. Menurutnya, manfaat dari keputusan tersebut tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga oleh masyarakat dalam jangka panjang.

Program Sekolah Rakyat merupakan salah satu program strategis Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Pemerintah menargetkan pembangunan 200 Sekolah Rakyat di berbagai daerah di Indonesia. Dari keseluruhan proyek tersebut, Tanjung Alam diproyeksikan menjadi Sekolah Rakyat dengan kapasitas terbesar, yakni sekitar 3.000 siswa.

Letak Tanjung Alam juga dinilai mendukung pengembangan kawasan pendidikan. Nagari ini berjarak sekitar 30 kilometer dari Batusangkar, 35 kilometer dari Payakumbuh, 40 kilometer dari Bukittinggi, dan sekitar 120 kilometer dari Padang. Posisi tersebut membuat akses menuju kawasan relatif mudah dari berbagai wilayah di Sumatera Barat.

Pembangunan sekolah ini diperkirakan membawa dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar menghadirkan fasilitas pendidikan. Selama proses pembangunan, proyek akan membuka peluang kerja bagi pekerja konstruksi, penyedia material bangunan, operator alat berat, hingga pelaku usaha lokal yang memasok berbagai kebutuhan proyek.

Saat kampus pendidikan itu mulai beroperasi, kehidupan ekonomi masyarakat sekitar diperkirakan ikut bergerak. Ribuan siswa yang tinggal di asrama akan membutuhkan pasokan bahan pangan, air minum, listrik, air bersih, transportasi, layanan kesehatan, perlengkapan kebersihan, hingga berbagai kebutuhan operasional lainnya.

Berdasarkan perhitungan sederhana, kebutuhan harian sekitar 3.000 siswa diperkirakan menghasilkan perputaran uang sekitar Rp200 juta hingga Rp270 juta setiap hari. Dalam sebulan, nilainya dapat mencapai sekitar Rp6 miliar hingga Rp8 miliar. Angka tersebut belum termasuk belanja pembangunan, pemeliharaan fasilitas, maupun pembayaran gaji guru, tenaga kependidikan, pengasuh asrama, petugas keamanan, tenaga kebersihan, dan tenaga kesehatan.

Artinya, Sekolah Rakyat Tanjung Alam berpotensi tumbuh menjadi pusat aktivitas baru yang tidak hanya melahirkan sumber daya manusia berkualitas, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat di kawasan kaki Gunung Marapi.

Di balik langkah besar itu, terdapat jejak pengabdian seorang putra daerah. Dony Oskaria, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, memilih meninggalkan warisan yang dapat dirasakan lintas generasi melalui dunia pendidikan.

Kelak, ketika ribuan anak datang dari berbagai daerah untuk belajar dan meraih cita-cita di Tanjung Alam, mereka mungkin tidak hanya mengenal nagari ini sebagai lokasi Sekolah Rakyat terbesar di Indonesia. Mereka juga akan mengenangnya sebagai tempat lahirnya sebuah contoh bahwa kepedulian terhadap pendidikan dapat menjadi investasi paling berharga bagi masa depan bangsa. (***)