Eka Putra: “Terima Kasih Pak Dony” atas Hibah Lahan Sekolah Rakyat

oleh -45 Dilihat
oleh

JAKARTA—Tanah Datar menjadi sorotan nasional setelah membawa sesuatu yang tak dimiliki banyak daerah lain dalam pengajuan pembangunan Sekolah Rakyat: sebuah lahan hibah.

Tanah seluas 9,5 hektare di Tanjung Alam itu dihibahkan keluarga besar COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, untuk pembangunan Sekolah Rakyat di kampung halamannya. Hibah tersebut langsung menarik perhatian Kementerian Sosial saat Bupati Tanah Datar Eka Putra memaparkan rencana pembangunan, Rabu (25/2).

“Ini rasanya hibah satu-satunya di Indonesia,” ujar Sekjen Kemensos Robben Rico, sebagaimana dikutip Eka Putra. Tak lama berselang, persetujuan pun diberikan. Tanah Datar resmi menjadi salah satu lokasi pembangunan Sekolah Rakyat yang akan dimulai 2026.

Bagi Eka Putra, keputusan itu bukan sekadar keberhasilan administratif. Seusai pemaparan, ia langsung menemui Dony Oskaria di Jakarta. “Terima kasih Pak Dony,” ucapnya singkat, sarat makna.

Sekolah Rakyat di atas lahan hibah itu dirancang menampung hingga 3.000 siswa dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Sistem asrama, fasilitas rumah ibadah, klinik kesehatan, lapangan olahraga, hingga akses air bersih akan melengkapi kawasan pendidikan tersebut.

“Ini untuk memutus rantai anak kelompok rentan agar bisa bersekolah seperti yang lain. Negara mesti hadir untuk anak bangsa,” kata Dony Oskaria.

Pembangunan di Jorong Duo Baleh Koto dan Koto Gadih, Nagari Tanjung Alam, Kecamatan Tanjung Baru, diperkirakan menelan anggaran Rp250–300 miliar. Selain sekolah, Dony juga berencana membangun ulang masjid, pasar, serta kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN).

Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan inisiatif nasional Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia. Hingga Januari 2026, sebanyak 166 sekolah telah diresmikan, dengan tambahan 104 titik baru menuju target 500 sekolah pada 2029.

Di antara ratusan rencana itu, Tanah Datar kini memiliki cerita berbeda: sebuah sekolah lahir bukan hanya dari kebijakan negara, tetapi dari sebidang tanah yang dihibahkan dengan kepercayaan bahwa pendidikan mampu mengubah nasib generasi berikutnya.

Dan di balik persetujuan itu, terselip kalimat sederhana penuh syukur:

“Terima kasih, Pak Dony Oskaria.”