Magot Jadi Solusi, Padang Dilirik ASEAN

oleh -447 Dilihat
oleh

Padang,Kliksiar— Dari sisa dapur yang membusuk dan tak terpandang, Kota Padang menemukan emas dalam rupa larva. Maggot larva dari lalat Black Soldier Fly menjadi kunci utama dalam transformasi pengelolaan sampah organik yang kini membawa kota ini masuk nominasi ASEAN Environmentally Sustainable Cities (ESC) Award 2025.

Sejak 2024, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang meluncurkan pusat dekomposisi maggot pertama. Setiap hari, lebih dari 22 ton sisa makanan diubah menjadi pakan ternak melalui proses biologis yang cepat dan efisien. Bukan hanya menekan beban tempat pembuangan akhir (TPA), tapi juga menghasilkan nilai tambah ekonomi baru.

“Kita sedang bergeser dari paradigma membuang menjadi memanen,” kata Kepala DLH Kota Padang, Fadelan Fitra Masta. “Maggot bukan hanya solusi teknis, tapi juga simbol bahwa cara kita melihat sampah harus berubah.”

Transformasi itu tidak berdiri sendiri. Padang juga membentuk asosiasi penggiat maggot, memperluas edukasi warga tentang manfaat BSF, dan melibatkan komunitas hingga tingkat kelurahan melalui Lembaga Pengelola Sampah (LPS). Secara perlahan, kota ini menanamkan nilai bahwa sisa makanan hari ini adalah sumber daya besok.

Dari total 750 ton sampah harian, 75 persennya masih dikirim ke TPA Aie Dingin. Dengan proyeksi kapasitas penuh pada 2026, strategi Padang tak bisa setengah hati. Program-program lain pun ikut menopang seperti “Nabuang Sarok” dan kolaborasi dengan PT Semen Padang dalam penyediaan bahan bakar alternatif dari plastik dan kain bekas.

Namun maggot tetap jadi jantung inovasi. Larva kecil ini diam-diam menjadi solusi besar, menopang ambisi Padang untuk mengurangi timbulan sampah hingga 30 persen dan meningkatkan pengelolaan sampai 70 persen sesuai Rencana Induk Sampah 2024.

Di tingkat ASEAN, Padang mewakili Indonesia dalam kategori Circular Economy. Dengan pendekatan pentahelix yang merangkul pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan media, kota ini tak hanya bicara gagasan tapi praktik nyata yang kini diakui kawasan.

Dari kandang maggot di pinggir kota hingga penghargaan regional, Padang sedang membuktikan: yang kecil, bila dirawat, bisa jadi tumpuan perubahan besar.  (***)