PADANG,KLIKSIAR— Pada pagi yang biasa-biasa saja bagi banyak orang, Maidarni melangkah dengan hati yang luar biasa. Di tangannya map lusuh, tapi di dadanya penuh harap. Ia datang bukan sekadar untuk menghadiri seremoni, tapi untuk menjemput janji yang sudah dua dasawarsa lebih ditanam dalam sepi.
Hari itu, 1 Juli 2025, Gedung Balai Kota Padang menjadi saksi bisu atas doa yang tak pernah padam. Maidarni (57), perempuan kelahiran Solok, datang bersama rekan-rekan seperjuangannya untuk menerima Surat Keputusan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya pengangkatan administratif. Tapi bagi Maidarni, ini adalah pengakuan atas kesetiaan yang selama ini disandarkan hanya kepada Tuhan dan keteguhan hati.
“Sejak 1999 saya mengabdi sebagai tenaga honorer,” tuturnya lirih. Tiada dendam di suara itu. Yang tersisa hanya syukur dan kesabaran yang telah ia sulam bertahun-tahun lamanya.
Buya Hamka pernah menulis bahwa hidup adalah ladang amal, tempat manusia menanam, dan kelak menuai. Maka di ladang bernama SDN 43 Rawang Timur hingga SDN 02 Pampangan, Maidarni telah menanam dengan cinta. Ia terima honor Rp75 ribu bukan dengan keluh, tapi dengan keikhlasan. Ia jalani tiap tugas bukan dengan berharap lebih, tapi dengan keyakinan bahwa kerja yang jujur akan dibalas, entah oleh siapa, entah kapan, asal tetap percaya.
Ia menikah dengan penjaga sekolah lelaki sederhana yang punya cita-cita: hidup dengan cukup, dan membesarkan anak dengan kasih. Dari tanah kecil di belakang sekolah, mereka membangun rumah; dari sisa-sisa gaji kecil, mereka menabung mimpi untuk anak semata wayang.
Kini anak itu kuliah di Universitas Negeri Padang. Lima juz Alqur’an sudah dihafalnya. Dan sang ibu, meski masa kerjanya sebagai PPPK hanya tinggal setahun sebelum pensiun, tidak menyesali keterlambatan pengangkatan itu. Sebab bagi orang-orang seperti Maidarni, bekerja adalah ibadah, dan sabar adalah kekuatan.
“Senang rasanya ada perhatian dari pemerintah. Saya merasa benar-benar menjadi pegawai,” katanya sambil menggenggam erat SK itu kertas yang bagi orang lain mungkin tak berat, tapi baginya adalah penanda: bahwa ketekunan tidak sia-sia.
Ia masih berharap: akan ada uang pensiun untuk membiayai kuliah anaknya. Tapi lebih dari itu, ia ingin anaknya kelak tumbuh berguna bagi orang banyak karena, begitu katanya, hanya ilmu yang menjadi warisan kekal setelah raga tiada.
Ketika langkahnya meninggalkan Balai Kota sore itu, tak terdengar sorak atau peluk haru. Tapi semesta tahu: seorang ibu telah menang dalam sunyi. Dan langit Padang mencatatnya dengan tenang. (***)








