Percikan Hikmah dalam Sepotong Kebab

oleh -188 Dilihat
Kebab jajanan popular yang makin diminati
Kebab jajanan popular yang makin diminati

Oleh: Ade Faulina

Kebab akhir-akhir ini menjadi salah satu jajanan popular yang digemari banyak orang. Kebab sendiri berasal dari wilayah Timur Tengah, khususnya Persia dan Turki. Sedangkan kata “kebab” berasal dari bahasa Arab kabab, yang berarti “daging goreng” atau “daging panggang.” Tradisi memasak daging dengan cara memanggang di atas api terbuka sudah ada sejak zaman kuno. Dulu, kebab biasanya dibuat dari daging domba atau kambing yang dipanggang di atas api terbuka. Sementara itu di Indonesia kebab mulai masuk ke negara ini pada tahun 1990-an, yang dibawa oleh imigran dari Timur Tengah. Lalu semakin dikenal karena kehadiran waralaba besar seperti Kebab Turki Baba Rafi di Surabaya pada tahun 2005. Kehadiran kebab ini terus berlanjut hingga sekarang. Citarasa kebab di sini pun telah disesuaikan dengan selera lokal dan keberadaannya dapat ditemukan dengan mudah di berbagai tempat. Baik itu yang berupa gerobak pinggir jalan, kedai hingga restoran mewah.

Kebab jajanan popular yang makin diminati
Kebab jajanan popular yang makin diminati

Citarasanya yang menggugah selera membuat siapa saja dapat menyukainya. Sepotong kebab menyajikan rasa gurih, manis, pedas maupun yang sedikit berbumbu. Citarasa inilah yang membuat kebab menjadi jajanan yang begitu mudah disukai. Tak terkecuali oleh saya sendiri. Jajanan satu ini selalu menjadi pilihan apabila saya menikmati sajian kuliner ataupun jajanan murah meriah yang semakin marak di kota Padang. Namun ada satu pengalaman yang membuat saya tersentil, berpikir dan tercenung sendiri oleh makanan yang kini juga tersedia dalam banyak varian.

Sudah jamak kita ketahui jika satu jajanan atau makanan digemari, maka seperti wabah kita akan dapat menemukan deretan penjual makanan yang menjual menu serupa. Pada dua kesempatan yang berbeda saya pun membeli kebab dari dua pedagang yang masih berada di satu lokasi. Di kesempatan pertama saya mulanya ingin membeli kebab dari kedai langganan saudari saya. Namun sayangnya saya tidak bisa menemukannya. Sepanjang lingkungan gedung gelanggang olahraga yang tak jauh dari rumah memang tersedia jajanan yang dijual oleh banyak pedagang. Mulai dari yang tua maupun muda menggelar jajanan, membuka lapak dan berusaha untuk menarik pembeli sebanyak-banyaknya. Saya pun tak tahu kedai mana yang menjual kebab enak versi saudari saya tersebut.

Saya dan suami pun menelusuri satu per satu kedai yang mengelilingi gelanggang olahraga itu. Saya pun berusaha cermat melihat satu per satu kedai-kedai tersebut, karena posisi mereka yang berdekatan, bentuk kedai yang hampir serupa dan bahkan terkadang menjual jenis makanan yang hampir sama. Awalnya saya sempat melihat kedai kebab sederhana (kecil) dengan seorang penjual. Bahan-bahan kebab yang dijual diletakkan di satu meja kecil, sebuah kompor dan tulisan kecil yang merupakan nama/ merk kebab yang ia jual. Pedagangnya pun tampak biasa-biasa saja. Saya pun berasumsi sendiri, bukan itu kebab yang dimaksud oleh kakak perempuan saya. Kebab enak yang jadi langganannya. Kami pun terus berkendara ke depan hingga menemukan kedai kebab dengan penampakan yang lebih luas, nama kedai yang disablon lebih besar, suara musik yang terdengar jelas dari speaker dan si penjual yang merupakan dua anak muda berpenampilan cukup trendi. Tanpa pikir panjang saya pun turun dari motor dan segera memesan kebab. Yakin bahwa itu yang dimaksud oleh saudari saya.

Ketika mengecek daftar menunya, saya hendak memesan dua potong kebab. Namun, karena di menu disebutkan beli satu dapat dua, saya pun hanya memesan satu kebab. Saya memang tidak memesan banyak. Karena saya sudah mencicipi jajanan lain juga sebelumnya. Kebab yang saya pesan rencananya sebagai buah tangan pulang ke rumah. Harga yang tertera di situ Rp.16.000,- untuk satu kebab. Ada sedikit tanda tanya di kepala saya. Apakah ini memang harga yang sepadan untuk satu kebab dengan ukuran kecil dan sedikit bahan lainnya? Sang penjual pun kemudian menyiapkan pesanan saya. Kulit kebab (tortilla) tampak kecil dan tipis, isian daging dan sayuran secukupnya. Setelah selesai saya pun membayar seharga yang tertera. Dua kebab mini itu lalu saya pulang. Sesampainya di rumah kami pun menyicipi kebab itu. Meskipun rupanya bukan itu kebab yang dimaksud oleh saudari saya. Rasanya cukup enak walaupun tidak terlalu istimewa.

Pada kesempatan berikutnya karena penasaran saya pun kembali mencari kebab yang dijelaskan oleh kakak saya itu. Sesuai petunjuk saudari saya akhirnya saya sampai di kedai yang dimaksud. Ternyata kedai kebab tersebut memang kedai kebab sederhana yang saya lihat di awal waktu itu. Semua bahan kebab baik itu berupa tortilla yang kali ini lebih lebar, sayuran dan daging diletakkan dalam kotak pada sebuah meja kecil. Mulanya saya hanya memesan dua kebab, tetapi mengingat ada beberapa orang di rumah, saya pun memesan empat kebab. Saya pun melihat bagaimana si penjual yang juga seorang pemuda itu dengan telaten menyiapkan semua bahan kebab. Tak berapa lama empat potong kebab itu pun sudah berada di tangan saya. Dan untuk empat potong kebab itu saya hanya membayar Rp.20.000,-.

Sepanjang perjalanan pulang dan setelah berada di rumah saya pun terasa disentil dengan semua asumsi dan prasangka saya yang sebelumnya. Kedai sederhana, penjual yang biasa-biasa saja dan merk dengan tulisan kecil, saya kira juga “sederhana” (tidak begitu enak) dalam citarasa. Ternyata saya salah. Sepotong kebab dari kedai sederhana itu ternyata lebih enak dan si penjual tampak “lebih serius” dalam menyajikan dagangannya. Tortillanya pun lebih lebar dan tebal, daging dan sayurannya pun lebih banyak. Saya pun teringat kedai kebab mini yang memberikan pilihan beli 1 dapat 2.

Saya pun menyadari saya tidak adil dalam menilai kedai kebab itu sejak dalam pikiran. Seharusnya saya bersikap netral dan tidak membiarkan pikiran negatif mengambil alih dan berasumsi yang tidak baik. Dalam banyak hal kita tentu pernah bersikap selayaknya saya terhadap sepotong kebab itu. Kita melakukan penilaian negatif yang sebenarnya tidak perlu terhadap sesuatu ataupun seseorang. Saya ataupun Anda tentu pernah menilai segala sesuatu hanya dari tampilan luarnya saja. Kita tidak ingin bersusah payah untuk melakukan pengecekan lebih lanjut terhadap sesuatu ataupun seseorang itu.

Kita sering menilai hal-hal dari sesuatu yang bersifat materi dan melupakan hal-hal non-materi yang ada dibaliknya. Kedua pedagang kebab itu sama-sama mencari rezeki. Namun secara kasat mata kita akan cenderung berduyun-duyun ke pedagang yang pertama dibandingkan yang kedua. Tanpa kita tahu proses pembuatan dan rasa kebab yang kedua justru lebih baik. Kita lebih memilih asumsi sepintas lalu tersebut. Begitupula dalam banyak hal di hidup ini. Kita acapkali lebih melihat kekayaan, pekerjaan, pangkat, gelar, strata sosial, pendidikan dan hal-hal abstrak yang justru mudah untuk dimanipulasi. Ketika orang itu memiliki hal-hal tersebut, maka dalam pandangan kita mereka sangat berkualitas dan pantas untuk dihormati. Begitupun sebaliknya. Padahal tanpa disadari masih banyak hal lain yang patut kita perhatikan, telaah, baru kemudian kita beri nilai ataupun apresiasi.

Barangkali sepotong kebab menjadi pelajaran berharga dalam menelisik kembali sisi humanis di dalam diri sendiri. Bahwa tidak semua hal dapat langsung kita ketahui baik dan buruknya dengan hanya sepintas lalu. Sesungguhnya belumlah cukup mengapresiasi sesuatu atau seseorang dari kualitas yang hanya ingin kita lihat dan ketahui saja. Kita tidak menelusurinya secara kaffah (sempurna). Sebab jika demikian pandangan kita tidak objektif dan pada akhirnya kita akan cenderung melewatkan banyak kualitas baik dari sesuatu atau seseorang tersebut. Maka tak heran jika hari demi hari, kita makin banyak melihat, mendengar dan menyaksikan pemberitaan yang hanya mengulas borok-borok dari banyak hal pun orang-orang di negeri ini. Sebab kita sering mengabaikan hal-hal yang tak sesuai dengan standar kita maupun lingkungan sosial tempat kita berada. Tak ubahnya seperti pencitraan dalam banyak hal yang justru lebih mudah diterima, diapresiasi dan mendapatkan tempat di dalam pikiran dan hati kita. (*)
Penulis menetap di Padang dan dapat dihubungi melalui adefaulina@gmail.com