Perhutani Berjibaku Padamkan Kebakaran di Lereng Lawu, 34,55 Hektare Hutan Hangus

oleh -13 Dilihat
oleh

KARANGANYAR,KLIKSIAR — Perhutani bergerak cepat menangani kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah. Sejak api terdeteksi pada 15 Oktober 2026, petugas bersama TNI, Polri, BPBD dan relawan berjibaku memadamkan api yang merambat di kawasan hutan hingga mendekati jalur pendakian.

 

Kebakaran pertama kali terdeteksi di lima titik pada petak 28 dan 32 RPH Blumbang, BKPH Lawu Utara, KPH Surakarta. Petugas langsung melakukan pemadaman secara manual menggunakan gepyok dan jet shooter.

 

Di tengah medan terjal dan angin kencang, petugas berompi oranye berupaya membatasi pergerakan api yang melahap semak-semak kering. Asap mengepul di antara tegakan pohon, sementara kobaran api terus mengancam kawasan hutan di sekitarnya.

 

Meski menghadapi kendala cuaca, api yang membakar kawasan hutan Perhutani seluas 34,55 hektare berhasil dipadamkan sehari kemudian. Petugas selanjutnya melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.

 

Namun, api yang telanjur merembet ke kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Mangkunegoro I justru membesar. Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian kebakaran harus terus dilakukan.

 

Pada 16 hingga 18 Oktober, kebakaran mulai mereda. Kendati demikian, petugas tetap menyisir kawasan terdampak, terutama di RPH Blumbang pada ketinggian sekitar 1.900 meter di atas permukaan laut.

 

Di kawasan Gondosuli, Karanganyar, petugas memeriksa tanah dan pangkal pohon yang masih mengeluarkan asap. Bara tersembunyi di akar dan tumpukan serasah menjadi ancaman karena dapat memicu kebakaran kembali.

 

Sejumlah petugas juga menggendong tangki air untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses. Di sisi lain, helikopter dikerahkan untuk menjatuhkan air ke lokasi kebakaran.

 

Angin Kencang, Api Kembali Membesar

 

Upaya pemadaman kembali menghadapi tantangan pada 19 Oktober. Angin kencang menyebabkan api membesar ke arah Pos 4 Cokro Suryo dan menyebar menuju jalur Segorogunung.

 

Sehari berikutnya, pemantauan mencatat 12 titik panas di wilayah Perhutani. Sebanyak 11 titik berada di petak 63A-1 dan satu titik lainnya di petak 63A-2.

 

Peta pantauan satelit dimanfaatkan untuk memonitor persebaran titik panas sekaligus membantu petugas menentukan lokasi yang perlu mendapat penanganan segera.

 

Dalam upaya mencegah api meluas, Perhutani berkoordinasi dengan TNI, Polri, BPBD dan sukarelawan. Selain melakukan pemadaman, petugas turut mengamankan jaringan pipa air bersih yang berada di kawasan terdampak.

 

Perhutani juga menerjunkan tim khusus beranggotakan 15 orang untuk membuat ilaran atau sekat bakar selebar lima meter di sepanjang lokasi kebakaran. Langkah ini dilakukan guna menghambat pergerakan api agar tidak menjalar ke kawasan hutan lainnya.

 

Pendinginan Terus Dilakukan

 

Kerja keras petugas mulai membuahkan hasil. Berdasarkan laporan dari lapangan, api mulai padam sejak 23 Oktober.

 

Pada 24 Oktober, petugas Perhutani bersama relawan melanjutkan proses pendinginan di bekas lokasi kebakaran. Mereka menggunakan jet shooter dan cairan fire ade bantuan Damkar Solo untuk memastikan bara yang tersisa, terutama pada tunggak pohon, benar-benar padam.

 

Di Tawangmangu, langit mendung dan hujan ringan mulai membasahi kawasan tersebut. Jalanan terlihat basah, dengan air menggenang di sejumlah tepi jalan.

 

Hujan diharapkan membantu mempercepat proses pendinginan sekaligus mengurangi risiko munculnya kembali titik api di kawasan hutan yang telah terbakar.

 

Meski api dilaporkan mulai padam, penyisiran dan pendinginan tetap menjadi bagian penting dari penanganan. Bara yang tertinggal di dalam tanah, akar dan serasah dapat kembali menyala apabila kondisi cuaca kembali panas dan kering.

 

Sekretaris Perusahaan Perhutani, Jerry Purwo Nugroho, mengatakan pihaknya terus memastikan seluruh titik terdampak diperiksa dan didinginkan untuk mencegah kebakaran kembali terjadi. “Petugas tetap melakukan penyisiran dan pendinginan di lokasi bekas kebakaran, terutama pada titik-titik yang masih berpotensi menyimpan bara,” ujarnya. (*)