JAKARTA,KLIKSIAR — Senator RI Sumatera Barat Irman Gusman mendorong tradisi merantau masyarakat Minangkabau diberi makna baru sebagai kekuatan brain circulation.
Gagasan itu disampaikan mantan Ketua DPD RI ke 2 itu saat menjadi Keynote Speech dalam Seminar Nasional Rangkayo Minang Indonesia (RMI) bertajuk “Tokoh Minangkabau yang Mengubah Indonesia” di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Sebagai informasi, kegiatan tersebut dihadiri antara lain Gubernur DKI yang diwakikioleh Asisten Pemeruntahan Sekda DKI Jakarta Bpk Sigit Wiajatmoko dan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah.
Menurut Irman Gusman, gagasan brain circulation pada dasarnya menekankan bahwa mobilitas sumber daya manusia tidak harus berujung pada hilangnya talenta dari daerah asal. Sebaliknya, ilmu, pengalaman, jejaring, investasi, dan gagasan yang diperoleh di perantauan dapat terus mengalir dan kembali memberi manfaat bagi daerah.
Gagasan tersebut, menurut Irman, sesungguhnya memiliki akar yang kuat dalam falsafah Minangkabau.
Hal itu tercermin dalam pepatah: “Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun; Marantau bujang dahulu, Di rumah baguno balun.”
Pepatah tersebut menggambarkan bahwa merantau merupakan bagian dari proses pendewasaan.
Anak muda didorong keluar dari lingkungan asal untuk belajar, mencari pengalaman, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan diri agar kelak memiliki manfaat yang lebih besar bagi keluarga dan kampung halaman.
Lebih lanjut, menurut Irman Gusman, tradisi merantau bukan sekadar meninggalkan kampung halaman, tetapi merupakan proses pendewasaan untuk menambah ilmu, memperluas pengalaman, membangun jaringan, mengasah keberanian, dan belajar mandiri.
“Bagi tradisi Minangkabau, brain circulation terasa paling dekat: orang boleh bergerak ke mana saja, tetapi hubungan, pengetahuan, dan kontribusinya tetap berputar kembali untuk nagari,” ujar Irman.
Ketua Dewan Pakar Bidang Ekonomi UMKM PP Muhammadiyah itu juga menilai Sumatera Barat memiliki modal besar melalui jaringan perantau yang tersebar di berbagai daerah dan negara.
Karena itu, lanjut Irman, perantau Minang di Jakarta, Singapura, Melbourne, New York, maupun tempat lainnya dapat terus berkontribusi melalui ilmu, investasi, peluang, jaringan, dan kepedulian terhadap nagari.
“Pergi untuk tumbuh, terhubung untuk berbagi, dan berkontribusi kembali,” katanya.
Irman menegaskan, kembali ke ranah tidak selalu berarti pulang dan menetap. Dokter di Melbourne dapat membimbing tenaga kesehatan di kampung, engineer di Singapura membuka akses teknologi bagi mahasiswa Sumbar, pengusaha di Jakarta membantu UMKM nagari memperluas pasar, atau akademisi di luar negeri membangun kolaborasi riset dengan perguruan tinggi di Sumatera Barat.
Dalam konteks itu, Irman Gusman yang saat ini juga diberi amanah sebagai Ketua Dewan Pengawas DPP IKM itu menilai Rangkayo Minang Indonesia dapat mengambil peran sebagai ruang temu antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi perantau, dan nagari agar potensi diaspora Minangkabau dapat disalurkan secara lebih terarah dan berdampak bagi kemajuan Sumatera Barat.
Di akhir sesi, Irman juga mengingatkan bahwa tradisi merantau merupakan salah satu faktor yang ikut membentuk karakter kepemimpinan tokoh-tokoh Minangkabau yang berkontribusi dalam perjalanan Indonesia.
Tradisi tersebut perlu diwariskan kepada generasi muda dalam bentuk kemandirian, kemampuan beradaptasi, keberanian berpikir, serta kemauan membangun jejaring.
Seminar Nasional RMI diarahkan untuk menggali nilai kepemimpinan dari tokoh-tokoh Minangkabau sekaligus menghubungkannya dengan kebutuhan generasi masa kini dan masa depan. (*)








