Siswi Diduga Jadi Korban Perundungan di SMAN 4 dan SMAN 2 Padang, Orang Tua Desak Investigasi Menyeluruh

oleh -193 Dilihat
oleh

PADANG,KLIKSIAR — Dugaan kasus perundungan terhadap seorang siswi berinisial SA kembali mencuat di dunia pendidikan Kota Padang, Sumatera Barat. Orang tua korban, Magdalena, SH, mengungkapkan bahwa putrinya diduga mengalami tekanan psikologis, intimidasi, hingga kekerasan fisik selama menempuh pendidikan di dua sekolah negeri, yakni SMAN 4 Padang dan SMAN 2 Padang.

Menurut Magdalena, persoalan tersebut bukan sekadar konflik antara siswa dan sekolah, tetapi diduga melibatkan sejumlah oknum pendidik yang memberikan tekanan terhadap anaknya. Ia berharap pihak terkait melakukan pemeriksaan secara objektif untuk mengungkap fakta sebenarnya.

Delapan Bulan Tekanan di SMAN 4 Padang

Magdalena menceritakan, permasalahan bermula sekitar delapan bulan lalu ketika SA masih bersekolah di SMAN 4 Padang. Saat itu, kata dia, anaknya diduga mengalami tindakan kekerasan fisik berupa penamparan yang dilakukan oleh seorang oknum guru Bahasa Inggris.

Atas kejadian tersebut, Magdalena kemudian mendatangi pihak sekolah untuk meminta klarifikasi dan penyelesaian. Dalam proses mediasi, disebutkan adanya kesepakatan tertulis agar tidak terjadi lagi tindakan yang dapat merugikan atau menekan SA.

Namun, menurut Magdalena, setelah proses mediasi berlangsung, tekanan terhadap anaknya justru berlanjut dalam bentuk dugaan perlakuan diskriminatif dan intimidasi psikologis.

Ia menyebut beberapa nama oknum guru di SMAN 4 Padang yang menurutnya tercatat dalam penelusuran keluarga terkait dugaan tekanan terhadap SA, yakni Mustika, Kurniawan, dan Ade.

Akibat tekanan tersebut, Magdalena mengatakan kondisi psikologis anaknya terganggu hingga akhirnya keluarga memutuskan memindahkan SA ke sekolah lain.

Pindah ke SMAN 2 Padang, Masalah Kembali Terjadi

Harapan keluarga agar SA mendapatkan lingkungan pendidikan yang lebih nyaman di SMAN 2 Padang ternyata belum terwujud. Magdalena mengungkapkan, anaknya hanya mampu bertahan satu hari setelah masuk sekolah tersebut.

Menurutnya, pada hari kedua, SA kembali mengalami tekanan psikologis dari sejumlah oknum guru. Berdasarkan keterangan keluarga, beberapa nama yang disebut antara lain Yessi, Dawi, Yera, dan Satria.

Magdalena menyebut salah satu dugaan persoalan muncul setelah adanya unggahan di media sosial TikTok yang kemudian memicu asumsi tertentu terhadap putrinya.

Ia menduga terdapat komunikasi antara oknum pendidik dari sekolah lama dan sekolah baru yang menyebabkan anaknya kembali mendapatkan tekanan.

“Anak saya seharusnya mendapatkan perlindungan dan rasa aman di sekolah, bukan justru merasa takut datang belajar,” ujar Magdalena.

Dampak Psikologis dan Pindah ke Sekolah Swasta

Akibat kejadian yang dialami, Magdalena menyebut SA mengalami trauma dan menolak kembali masuk sekolah negeri. Kondisi tersebut membuat keluarga mengambil keputusan untuk memindahkan anaknya ke sekolah swasta demi menjaga keberlangsungan pendidikan dan kondisi psikologisnya.

Magdalena berharap kasus ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan Sumatera Barat, agar tidak ada lagi anak yang mengalami tekanan serupa.

Desak Pemeriksaan dan Penegakan Aturan

Magdalena meminta Dinas Pendidikan Sumatera Barat membentuk tim pemeriksa independen untuk melakukan klarifikasi terhadap seluruh pihak yang disebut dalam laporan keluarga.

Selain itu, ia juga meminta agar apabila ditemukan pelanggaran, pihak yang terbukti melakukan kesalahan diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Menurutnya, dunia pendidikan harus menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk berkembang, bukan ruang yang membuat mereka mengalami ketakutan dan tekanan mental.

Kasus ini juga berpotensi menjadi perhatian terkait penerapan perlindungan anak di lingkungan sekolah, termasuk kewajiban tenaga pendidik menjaga hak peserta didik.

Hingga berita ini diturunkan, pihak media masih berupaya meminta konfirmasi kepada Dinas Pendidikan Sumatera Barat, pihak sekolah SMAN 4 Padang dan SMAN 2 Padang, serta pihak terkait lainnya guna memperoleh informasi yang berimbang.

(Tim Rakyat Sumbar)