Padang,Kliksiar– Pemerintah Kota Padang mulai bicara dengan nada lebih tinggi. Bukan karena euforia, tapi karena tanggung jawab yang makin besar. Kota ini menempati peringkat pertama nasional dalam penilaian sementara Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk kategori kota besar. Nilainya 66,25. Tapi Maigus Nasir tahu, angka itu belum cukup.
Dalam pertemuan di Masjid Agung Nurul Iman, Kamis (21/8), Wakil Wali Kota Padang itu tak sekadar menyampaikan laporan. Ia mengajak semua pihak untuk bersiap menghadapi penilaian tahap kedua.
“Alhamdulillah, Kota Padang saat ini dilirik KLH. Berdasarkan hasil penilaian sementara, kita menempati peringkat pertama untuk kategori kota besar seluruh Indonesia dengan nilai 66,25. Ini modal besar bagi kita, namun perjuangan belum selesai. Target nilai yang harus kita capai ialah 75 hingga 85 agar bisa meraih Piala Adipura,” ujarnya.
Maigus tak bicara basa-basi. Ia menyebut syarat mutlak: tidak ada TPS liar, tidak ada pembakaran sampah, dan penerapan sanitary landfill. Tanpa itu, mimpi meraih Adipura hanya akan jadi piagam lagi seperti tahun lalu.
“Tahun sebelumnya kita hanya mendapat piagam. Tahun ini target kita adalah piala. Minimal nilai 75, bahkan kalau bisa lebih. Kalau tahun ini kita bisa meraih Piala Adipura, maka di 2026 kita menargetkan Piala Kencana,” tegasnya.
Ia meminta seluruh elemen, dari camat hingga RT/RW, dari LPS hingga warga biasa, untuk fokus penuh selama dua bulan ke depan. Karena mulai Senin, 25 Agustus 2025, tim penilai KLH akan kembali turun ke Padang. Mereka akan menyisir TPA, sekolah, pasar, kantor pemerintah, hingga lingkungan warga.
“Kami mohon dukungan semua pihak. Pastikan tidak ada TPS liar. Lurah silakan koordinasi dengan RT/RW masing-masing. Operator sampah juga harus sigap mengangkut sampah. Yang penting jangan ada sampah menumpuk, apalagi sampai dibakar. Mari kita buktikan Padang mampu memboyong Piala Adipura,” pesan Maigus.
Pertemuan itu dihadiri Kabag Pemerintahan Eka Putra Buhari, camat dan lurah se-Kota Padang, Ketua LPS seluruh kelurahan, dan para operator kebersihan. Semua tahu, piala bukan sekadar lambang. Ia adalah cermin dari kerja kolektif yang tak boleh berhenti di tengah jalan. (***)







