Padang Hidupkan Kota Tua, Menuju Kota Kreatif Gastronomi

oleh -481 Dilihat
oleh

PADANG,KLIKSIAR— Pemerintah Kota Padang mempercepat langkah revitalisasi kawasan Kota Tua sebagai bagian dari strategi besar menjadikan kota ini sebagai pusat budaya, ekonomi kreatif, dan gastronomi berkelas dunia.

Dalam Forum Pentahelix bertajuk “Pengembangan Kawasan Kota Tua dan Padang Menuju Kota Kreatif Gastronomi” yang digelar di Rumah Dinas Wali Kota Padang, Kamis (3/7/2025), Guru Besar Departemen Arsitektur dan Perencanaan UGM, Wiendu Nuryanti, menekankan pentingnya rebranding Kota Padang agar memiliki citra kuat di panggung global.

“Revitalisasi Kota Tua bukan sekadar memperindah bangunan. Ia harus menjadi ruang hidup, inklusif, dan menggeliat secara ekonomi,” ujar Wiendu. Ia menyebut program “Jelajah Padang” menjadi kendaraan utama untuk menghidupkan potensi lokal dan sejarah kota secara terpadu.

Selain arsitektur kolonial yang unik, potensi budaya dan keberagaman etnis disebut sebagai aset utama. Kota Padang tengah berupaya menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network_ untuk kategori Gastronomy City.

James Hellyward, Guru Besar Universitas Andalas, menyebut atmosfer budaya di Kota Tua Padang sebagai magnet pariwisata Sumatera Barat. “Bangunan bersejarah dan karakter lokal menjadi alasan wisatawan datang, tinggal, dan kembali,” ujarnya.

Dosen Universitas Bung Hatta, Jonny Wongso, melihat kawasan Kota Tua sebagai awal denyut ekonomi kota. Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan Padang didorong oleh batu bara, semen, pelabuhan, serta budaya pesisir yang berpadu dengan pedalaman.

Menanggapi hal ini, Wali Kota Padang, Fadly Amran, menegaskan komitmen pemerintah dalam mewujudkan kawasan yang hidup dan berdampak. “Kota Tua bukan monumen diam. Kita ingin masyarakat bisa tinggal, belajar, berwisata, dan berkarya di sana,” kata Fadly.

Ia menyebut pendekatan Pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media  sebagai strategi kunci dalam memadukan warisan sejarah dengan ambisi kreatif menuju kota gastronomi dunia.

“Revitalisasi ini adalah gerakan bersama, bukan hanya pembangunan fisik, tetapi penguatan nilai-nilai lokal yang memberi manfaat nyata bagi warga,” tutupnya.  (***)