Politik

Stabilisasi Harga Buah Jeruk di Gunung Omeh Menjadi Contoh Tantangan Pemerintah Untuk Kesejahteraan Petani di Daerah

0
Spread the love

50 Kota, — Anggota DPR RI komisi VI, Hj. Nevi Zuairina ketika berkunjung di kebun jeruk gunung omeh, 50 Kota, Sumatera Barat, menemukan fenomena keluhan petani buah-buahan terutama jeruk yang menghadapi ketidak stabilan harga. Pada saat panen, harga sangat jatuh hingga pada titik di bawah biaya produksi sehingga mengancam kerugian besar. Sedangkan ketika tidak musim panen, harga sangat tinggi sehingga membuat resah para konsumen yang akan membeli produk buah untuk di konsumsi secara rumah tangga.

“Hingga saat ini belum ada jalan keluar untuk masalah harga buah ini. Terutama Jeruk di gunung omeh ketika panen melimpah sampai harga murah sekali. Meski ada koperasi yang berinisiasi membantu menstabilkan harga, tetapi tidak cukup kuat sehingga tidak signifikan untuk menemukan solusi di kalangan petani”, tutur Nevi Zuairina.

Politisi PKS ini mengatakan, pelaku pasca panen di daerah gunung Omeh atau dalam bahasa Indonesia di artikan Gunung Emas, sebuah kecamatan yang berada di kabupaten limapuluh kota, Sumatera Barat, mayoritas adalah industri skala rumah tangga. Dalam dunia usaha masuk pada kategori skala mikro atau kecil. Pendampingan dan Bantuan pemerintah saat ini, belum signifikan mengentaskan para petani jeruk sebagai pelaku usaha UMKM untuk mendapatkan kesejahteraannya.

Nevi melanjutkan, Kecamatan Gunung Omeh yang terkenal sebagai penghasil jeruk siam gunuang omeh (biasa disebut jesigo) seharusnya dapat menjadi sebuah kearifan lokal yang dapat dikembangkan sehingga menjadi salah satu icon Indonesia dalam memproduksi produk hortikultura pada kategori buah jeruk. Kecamatan Gunuang Omeh memiliki luas wilayah 156,54 km² dan terletak pada ketinggian 700-1100 mdpl ketika dikembangkan menjadi agrowisata yang baik, akan berpotensi menarik wisatawan untuk mencicipi produk buahnya sekaligus menikmati keindahan alamnya. Bahkan untuk Eduwisata bagi anak-anak sekolah, belajar bagaimana bercocok tanam jeruk hingga bagaimana mengolah sirup jeruk sendiri menjadi daya tarik yang baik untuk pendidikan.

“Pada tahun 2017 saja, produksi jeruk dari kecamatan Gunung Omeh ini telah mencapai 24.600 ton. Dengan dukungan peternakan di antaranya sapi, kambing, kerbau, ayam kampung, dan itik, juga dapat dikembangkan saling bersinergi untuk mensuplai pupuk organiknya. Sehingga ada integrasi pertanian dan peternakan yang dapat membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraannya”, jelas Nevi.

Legislator asal Sumatera Barat ini meminta kepada pemerintah pusat, agar semakin intensif bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk mengendalikan proses pasca panen produk hortikultura ini terutama jeruk. Stabilisasi harga akan terjadi manakala ada serapan signifikan pada saat panen. Serapan akan signifikan ketika industri pasca panen sudah baik yang berada pada lokasi produksi.

“Saya kira permasalahan petani di setiap daerah hampir sama ketika menghadapi masa panen. Jeruk di Gunung Omeh ini hanya salah satu contoh. Bahkan pekan lalu saya mendengar ada petani tomat di probolinggo menghadapi panen tomat dengan harga 500 rupiah per kilogram. Ini kan kasian petani, sudah susah menanam akhirnya rugi. Campur tangan pemerintah untuk menstabilkan harga akan memberi semangat petani untuk menanam yang dalam jangka panjang akan menekan angka impor produk pangan secara keseluruhan”, tutup Nevi Zuairina. (nzcenter)

 

Facebook Comments

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Politik