SUARA PERANTAU YANG TERABAIKAN DI KAMPUNG HALAMAN Saatnya Berhenti Mengabaikan, Saatnya Berani Bersuara!

oleh -69 Dilihat
oleh

Oleh : Oki Parlin

IKBJ

Kami adalah perantau. Kami pergi bukan karena tidak mencintai kampung halaman, melainkan karena kehidupan menuntut kami berjuang di tanah orang. Kami meninggalkan keluarga, kenangan, dan kenyamanan demi masa depan yang lebih baik. Namun, sejauh apa pun kami melangkah, kampung halaman tetap menjadi bagian dari diri kami.

Jangan pernah menganggap kepergian kami sebagai hilangnya hak untuk peduli, berpendapat, dan ikut memikirkan masa depan tanah kelahiran!

Kami menyaksikan sebuah ironi: ketika kampung halaman membutuhkan bantuan, tenaga, dukungan, dan kontribusi perantau, pintu sering kali terbuka lebar. Namun, ketika kami datang membawa gagasan, menyampaikan kritik, atau mempertanyakan kebijakan yang dianggap tidak tepat, suara kami justru kerap diabaikan.

Apakah kepedulian kami hanya dihargai ketika membawa keuntungan? Apakah pendapat kami baru dianggap penting ketika sesuai dengan kepentingan kelompok tertentu?

Jika memang kampung halaman dibangun atas nama kebersamaan, maka jangan hanya kebersamaan yang diucapkan, tetapi juga kebersamaan yang diwujudkan dalam tindakan!

Kami tidak meminta hak istimewa. Kami menuntut ruang yang adil untuk didengar dan dihargai.

Kami tidak mengklaim paling benar hanya karena pernah melihat kehidupan di luar daerah. Namun, pengalaman, pengetahuan, dan gagasan yang kami bawa pantas dipertimbangkan secara objektif, bukan ditolak hanya karena kami tidak setiap hari berada di kampung halaman.

Kritik bukan penghinaan. Pertanyaan bukan pemberontakan. Perbedaan pendapat bukan permusuhan. Jangan jadikan loyalitas sebagai alat untuk membungkam suara yang tidak sejalan dengan kehendak penguasa atau kelompok tertentu.

Kepada siapa pun yang diberi amanah untuk mengurus kepentingan masyarakat, ingatlah: *jabatan adalah amanah, bukan kepemilikan atas kampung halaman. Tidak seorang pun berhak memonopoli kebenaran, menutup ruang dialog, atau memperlakukan aspirasi masyarakat seolah-olah tidak memiliki arti.

Kampung halaman bukan milik segelintir orang. Masa depannya bukan hak eksklusif kelompok tertentu. Setiap warga yang memiliki kepedulian dan hak yang sah harus mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi.

Karena itu, kami menyerukan keterbukaan, transparansi, dan keberanian untuk mengevaluasi setiap kebijakan demi kepentingan bersama. Bukalah ruang musyawarah. Dengarkan aspirasi. Jawab kritik dengan argumentasi, bukan dengan stigma. Nilailah gagasan berdasarkan manfaatnya, bukan berdasarkan siapa yang menyampaikannya.

Jangan hanya memanggil kami ketika membutuhkan kontribusi. Libatkan kami ketika keputusan tentang masa depan kampung halaman dibuat!

Kami tidak ingin menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri. Kami tidak ingin kepedulian diperlakukan sebagai gangguan. Kami ingin menjadi bagian dari perubahan, dengan cara yang bermartabat, terbuka, dan bertanggung jawab.

Hari ini, suara ini kami tegaskan: kami tetap peduli, kami berhak menyampaikan aspirasi, dan kami tidak akan berhenti mengingatkan selama masih ada persoalan yang perlu diperbaiki.

Kami boleh jauh secara geografis, tetapi tidak pernah menyerahkan kepedulian kami terhadap kampung halaman.

Jangan abaikan suara perantau. Jangan remehkan gagasan mereka. Jangan tutup pintu bagi mereka yang ingin ikut membangun.

Kampung halaman bukan milik mereka yang paling berkuasa, melainkan tanggung jawab bersama semua pihak yang mencintainya.

Saatnya berhenti mengabaikan. Saatnya membuka ruang. Saatnya membangun bersama!