Teheran/Jerusalem,Kliksiar– Krisis di Timur Tengah kembali memanas. Pada Sabtu dini hari (14/6/2025), Iran dikabarkan meluncurkan gelombang baru serangan rudal yang ditujukan ke wilayah Israel. Serangan ini terjadi setelah sejumlah target di Republik Islam tersebut sebelumnya dilaporkan terkena serangan udara yang diduga dilancarkan oleh militer Israel.
Menurut laporan stasiun televisi pemerintah Iran yang dikutip oleh kantor berita AFP, peluncuran rudal berasal dari beberapa titik, termasuk Teheran dan provinsi Kermanshah. Sirene peringatan pun dilaporkan terdengar meraung di sejumlah wilayah di Israel sebagai respons terhadap ancaman tersebut.
Menteri Pertahanan Iran menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bentuk balasan atas “agresi militer Israel yang melanggar kedaulatan nasional.” Sementara itu, pemerintah Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait serangan balik Iran, namun sistem pertahanan udara Iron Dome diketahui telah diaktifkan secara luas dalam menanggapi ancaman tersebut.
Situasi ini menambah panjang daftar eskalasi yang telah menimbulkan kekhawatiran global. Sejumlah negara, termasuk anggota Dewan Keamanan PBB, menyerukan kepada kedua belah pihak untuk menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi guna mencegah konflik yang lebih luas.
Seorang analis politik regional menilai serangan rudal dari Iran ini merupakan sinyal kuat bahwa ketegangan geopolitik di kawasan tak bisa dipisahkan dari konflik yang lebih kompleks, termasuk dinamika antara aliansi Timur dan Barat, serta pengaruh terhadap stabilitas energi dan perdagangan global.
Belum ada laporan resmi mengenai korban atau kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan tersebut. Namun, lembaga kemanusiaan internasional menyatakan keprihatinan atas potensi dampak terhadap warga sipil di kedua negara.
Konflik antara Iran dan Israel selama ini memang berada dalam tensi tinggi, terutama terkait isu nuklir, operasi intelijen, dan dukungan terhadap kelompok-kelompok milisi di kawasan. Dengan insiden terbaru ini, banyak pihak berharap langkah-langkah deeskalasi segera ditempuh sebelum situasi berkembang menjadi konflik berskala penuh.
(***)







