Tabur Bunga di Makam Seorang Wali yang Tak Pernah Tunduk

oleh -854 Dilihat
oleh

Bukittinggi,Kliksiar— Di bawah langit yang teduh di Gulai Bancah, ketika waktu seakan menahan napasnya, rombongan dari Kota Padang tiba dengan langkah perlahan. Mereka datang bukan sekadar bertamu, melainkan menziarahi jejak perjuangan seorang wali kota yang memilih mati terhormat daripada hidup dalam penaklukan: Bagindo Aziz Chan.

Pada Sabtu itu, 19 Juli 2025, Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, berdiri di hadapan pusara yang berbeda dari yang lain—sebuah nisan yang dihiasi bendera merah putih, seolah tanah pun ingin ikut mengibarkan lambang kemerdekaan. Di sana, Maigus menabur bunga dengan tangan yang tak hanya membawa kelopak, tetapi juga rasa hormat dan kesadaran sejarah.

“Terima kasih kepada Pemerintah Kota Bukittinggi yang telah menjaga pusara ini dengan sepenuh hati,” ucapnya lirih, namun mengandung gemuruh jiwa bangsa yang tak boleh lupa pada pahlawannya.

Makam Bagindo Aziz Chan berada di barisan kanan setelah gerbang utama taman makam pahlawan nasional Kusuma Bhakti. Dulu tempat ini hanya taman biasa. Kini, sejak Bagindo diberi gelar pahlawan nasional, taman itu naik derajatnya. Sebab tempat bagi orang-orang yang memilih kehormatan dalam hidupnya, tak bisa disamakan dengan tempat bagi yang sekadar meninggal.

Menurut sang penjaga taman, Fuadri, makam tersebut dirawat secara khusus setiap hari. Ada seorang abdi negara bernama Efrijon dari Kementerian Sosial yang tak pernah alpa membersihkan tiap sisinya—seperti merawat kenangan yang tak boleh lusuh dimakan waktu.

Sebelum prosesi tabur bunga, rombongan Padang disambut hangat oleh Pemerintah Kota Bukittinggi. Ada jamuan sederhana tapi penuh makna, sebab bukan menu yang menjadi utama, melainkan kebersamaan dalam mengenang seorang pejuang yang dalam diamnya masih berbicara.

Upacara penghormatan berlangsung dengan Tanda Upacara Militer oleh prajurit Kodim Bukittinggi. Barisan berdiri tegak, bunga diletakkan pelan-pelan, dan sunyi menyelimuti langit—karena kadang diam lebih lantang dari sorak.

“Bagindo Aziz Chan bukan hanya wali kota, ia adalah pelita dalam gelap pendudukan. Ia tegas, tak pernah tunduk, dan memilih untuk tidak bernegosiasi dengan penjajah,” tutur Maigus dengan nada yang tak bisa disangkal keharuannya.

Dalam rombongan tersebut turut hadir keluarga besar Bagindo Aziz Chan. Putrinya, Ineke Aziz Chan, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Padang atas perhatian yang tak putus-putus, seolah mereka menjaga bukan hanya makam, tetapi juga martabat.

“Terima kasih atas pengakuan dan penghormatan yang terus diberikan,” ujarnya singkat, namun mengandung ribuan rasa.  (Grp)