“Kepergian Kwik Kian Gie, Bangsa Kehilangan Pemikir Berkarakter”

oleh -1017 Dilihat
oleh

Jakarta,Kliksiar 30 Juli 2025 —Di tengah arus berita yang meluncur deras dan kadang kehilangan arah, Indonesia hari ini berhenti sejenak. Diam, merenung. Kwik Kian Gie, salah satu anak bangsa yang pemikirannya menembus sekat zaman, telah berpulang. Usianya 90 tahun, tetapi gagasan-gagasannya tetap segar seperti pagi yang baru tiba.

Ia bukan sekadar ekonom dan pejabat negara. Ia adalah suara nalar di tengah gemuruh kekuasaan. Ketika menjabat sebagai Menko Ekuin di era Gus Dur, dan kemudian memimpin Bappenas di masa Presiden Megawati, Kwik menjaga jarak dari gemerlap kekuasaan, tetapi mendekat pada nurani rakyat. Ia bukan pejabat yang sibuk mengejar pencapaian statistik, tetapi yang memikirkan bagaimana angka-angka itu bermakna bagi rakyat kecil.

Presiden Prabowo Subianto, usai melayat di Rumah Duka Sentosa RSPAD Gatot Soebroto, memberikan kesaksian yang menggetarkan. “Pak Kwik seorang tokoh bangsa yang sangat berjasa. Pemikiran-pemikirannya sangat mempertahankan ekonomi Pancasila, ekonomi Pasal 33,” tuturnya lirih. “Beliau banyak kasih nasihat ke saya… bahkan beberapa hari lalu masih kirim WhatsApp memberi saran.”

Di situ tersimpan kisah: bahkan di ujung usianya, Kwik masih berusaha menyalurkan kebijaksanaan, bukan sekadar kepada penguasa, tetapi kepada bangsa yang terus ia rawat lewat pikirannya.

Senator Irman Gusman pun mengenangnya sebagai tokoh yang menjunjung tinggi prinsip, bukan kedudukan. “Kami sering berbincang. Ia selalu memikirkan Indonesia dari sisi manusia, bukan sekadar konsep dan teori,” katanya.

Apa yang membuat Kwik berbeda adalah keberanian intelektual dan kesetiaan pada moral politik. Ia tidak menjadikan nasionalisme sebagai slogan, tetapi sebagai pengabdian diam-diam: memperjuangkan ekonomi yang berpihak, pembangunan yang membumi, dan kepemimpinan yang berakal sehat.

Kini, bangsa menangis. Tapi air mata itu bukan hanya tanda kehilangan, melainkan penghormatan. Dalam jagat pikiran dan sejarah republik ini, nama Kwik Kian Gie akan terus bergema—sebagai pemikir yang jernih, sebagai sahabat rakyat, dan sebagai teladan yang tak mudah tergantikan. (*)