“Atlet Padang Panen 9 Emas, Website Porprov Masih 6: Ada Apa dengan Data Resmi?”

oleh -18 Dilihat
oleh

PADANG, KLIKSIAR — Ada jarak antara lapangan dan layar resmi. Ketika para atlet Kota Padang sudah menyelesaikan pertandingan dan mengoleksi sembilan medali emas pada Sabtu (3/10), website resmi Porprov Sumbar 2026 masih mencatat Kota Padang baru mengantongi enam emas hingga pembaruan terakhir, Minggu (4/10) sore pukul 17.03 WIB.

Perbedaan data tersebut tentu menimbulkan tanda tanya. Bukan soal siapa yang paling cepat mencatat angka, melainkan soal seberapa cepat hasil perjuangan atlet dapat diketahui publik melalui kanal resmi penyelenggara.

Berdasarkan rekap sementara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Padang, sembilan emas yang diraih pada Sabtu berasal dari tiga cabang olahraga.

Rinciannya,panahan menyumbang lima emas, taekwondo tiga emas, dan balap sepeda satu emas.

Tidak hanya emas, kontingen Padang juga mengoleksi 12 medali perak dan tujuh medali perunggu dari cabang olahraga tersebut. Medali perak terdiri dari tiga dari panahan dan lima dari taekwondo, sementara medali perunggu masing-masing empat dari panahan, dua dari taekwondo dan satu dari balap sepeda.

Artinya, berdasarkan pencatatan internal KONI Padang, perolehan medali atlet Padang sebenarnya sudah bergerak lebih cepat dibanding angka yang tampil pada laman resmi Porprov.

Ketua KONI Kota Padang, Erianto, mengakui adanya perbedaan antara rekap internal dengan data yang telah ditampilkan secara resmi.

Menurutnya, KONI Padang setiap malam tetap melakukan rekap berdasarkan laporan dari masing-masing cabang olahraga yang telah menyelesaikan pertandingan.

“Memang panpel tidak langsung serta-merta mengeluarkan hasil, karena pada cabang olahraga tertentu ada waktu jeda ketika tim lain yang tidak puas dengan hasil mengajukan banding ke panitia,” kata Erianto.

Penjelasan tersebut memang dapat dipahami. Namun, di sisi lain, keterlambatan pembaruan data resmi tetap menjadi persoalan komunikasi publik.

Porprov bukan pertandingan kecil yang hasilnya hanya diketahui oleh atlet dan ofisial. Ini adalah pesta olahraga terbesar di Sumatera Barat yang menyangkut nama daerah, prestasi atlet, sekaligus perhatian masyarakat.

Sebelumnya, Kabid Humas Porprov Sumbar, Hendri Parjiga, menjelaskan bahwa panitia masih menunggu laporan dari Technical Delegate (TD) sebelum hasil pertandingan diunggah ke website resmi. Proses tersebut membutuhkan waktu karena hasil pertandingan harus melalui tahapan pelaporan dan verifikasi.

Persoalannya kemudian sederhana ketika hasil di lapangan sudah diketahui dan KONI daerah telah melakukan rekap, mengapa publik masih harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan angka resmi?

Di era keterbukaan informasi, website resmi semestinya menjadi rujukan utama yang cepat, akurat dan mutakhir. Apalagi perolehan medali menjadi salah satu informasi yang paling banyak diburu masyarakat selama pelaksanaan Porprov.

Hingga pembaruan terakhir website resmi Porprov Sumbar, Minggu (4/10) pukul 17.03 WIB, Kota Padang tercatat baru mengoleksi enam medali emas, enam perak dan lima perunggu.

Sementara itu, rekap internal KONI Padang menunjukkan angka yang lebih tinggi.

Perbedaan tersebut tentu tidak serta-merta berarti salah satu pihak keliru. Bisa jadi, data KONI merupakan hasil rekap cepat berdasarkan laporan cabang olahraga, sementara data website resmi menunggu proses verifikasi dan pengesahan panitia.

Tetapi justru di sinilah pentingnya sinkronisasi data.

Jangan sampai atlet sudah berdarah-darah mengejar podium, emas sudah dikalungkan, tetapi di ruang publik prestasinya masih tertinggal di belakang angka yang belum diperbarui.

Padang sendiri datang ke Porprov Sumbar 2026 dengan target ambisius, yakni 233 medali emas.

Target sebesar itu membutuhkan bukan hanya kerja keras atlet di arena, tetapi juga sistem pendataan yang cepat, transparan dan presisi.

Sebab, bagi atlet yang bertanding, satu medali emas bukan sekadar angka di tabel klasemen. Di baliknya ada latihan berbulan-bulan, pengorbanan keluarga, keringat pelatih dan nama daerah yang mereka bawa ke arena.

Karena itu, data perolehan medali seharusnya bergerak secepat prestasi para atlet.

(Adh)