PADANG,KLIKSIAR— Di kala mentari mulai condong ke barat, tidak sedikit yang merasa masa telah berlalu dan tubuh tinggal menunggu reda. Namun di Banuaran, Lubukbegalung, ada seorang Bhabinkamtibmas yang melihat senja bukan sebagai akhir, melainkan awal: Aipda Dian Wihendro Ratno, atau yang oleh warga akrab disapa Dian Pitok, menghidupkan harapan melalui Sekolah Lansia.
Program itu lahir bukan karena seruan kebijakan, tetapi tumbuh dari rasa iba dan cinta yang Dian rasakan saat bersua dengan para ibu lansia yang dulu ia rangkul lewat kegiatan pembagian sembako. Ia memahami, mereka bukan hanya butuh bantuan fisik, tapi juga penghidupan batin. Maka pada 25 Juni 2025, ia menjejakkan langkah pertama dalam mendirikan Sekolah Lansia sebuah taman belajar bagi para ibu yang dahulu diam, kini mulai berkarya.
“Lansia pun berhak bergembira, berhak tahu tentang kesehatan dan agama,” tuturnya lirih penuh kasih, malam itu di Padang.
Dengan menggandeng BKKBN, Dian membawa Sekolah Lansia keluar dari ruang gelap ketidakpedulian. Ia ingin para ibu tak sekadar menanti hari, tapi menanam harapan secara harfiah dan ruhani. Mereka mulai bertanam cabai, mengenali hakikat kebersihan lingkungan, bahkan berbincang soal kemuliaan hidup meski usia telah renta.
“Saya hanya berharap, di sisa waktu mereka, ada senyum yang tumbuh dari rasa dihargai dan dibutuhkan,” katanya.
Sewaktu masih menjabat sebagai anggota Buser, Dian telah menunjukkan bahwa jiwa pengabdian tak mesti menunggu pangkat tinggi. Ia menjangkau anak yatim, membantu penanganan anak stunting, dan membina para lansia dengan sepenuh jiwa. Sekolah Lansia kini jadi warisan kasih yang ia titipkan untuk Padang, sebagai penanda bahwa usia senja bukan penutup cerita, melainkan pembuka bab kebijaksanaan. (Grp)







