Dari Keraguan Menuju Kepercayaan, Saat Danantara Mulai Menunjukkan Hasil

oleh -82 Dilihat
oleh

JAKARTA,KLIKSIAR – Ketika Danantara resmi hadir sebagai badan pengelola investasi negara, respons publik terbelah. Sebagian melihatnya sebagai terobosan besar dalam pengelolaan aset negara. Sebagian lainnya memilih menunggu, bahkan menyimpan keraguan. Pertanyaan yang muncul saat itu sederhana namun mendasar: apakah aset negara yang selama ini tersebar di berbagai BUMN benar-benar bisa dikelola lebih produktif melalui satu payung pengelolaan?

Setahun kemudian, sejumlah indikator mulai memberikan jawaban.

Dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD di Gedung Parlemen Senayan, Jumat (14/8/2026), Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa laba agregat BUMN sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp326 triliun. Angka tersebut menjadi salah satu capaian terbesar dalam sejarah pengelolaan perusahaan negara.

Namun, bagi banyak kalangan, makna capaian itu tidak hanya terletak pada besarnya laba. Yang lebih menarik justru perubahan yang terjadi di balik angka tersebut.

Transformasi BUMN tidak lagi hanya diukur dari siapa yang mencatatkan keuntungan terbesar. Fokus kini bergeser pada seberapa efisien perusahaan bekerja, seberapa produktif aset yang dimiliki, serta seberapa profesional manajemen menjalankan bisnis. Dengan kata lain, keberhasilan tidak lagi semata-mata dilihat dari ukuran perusahaan, tetapi dari kemampuannya mengubah aset menjadi keuntungan, arus kas, dan nilai tambah yang berkelanjutan.

Perubahan itu mulai terlihat di berbagai perusahaan pelat merah.

Data yang dipaparkan Presiden menunjukkan sejumlah BUMN mencatatkan pertumbuhan laba signifikan. PT Timah membukukan kenaikan laba hingga 804,7 persen. Pupuk Indonesia tumbuh 253 persen, Semen Indonesia 196,5 persen, Pegadaian 84,6 persen, Pertamina 80 persen, Pelindo 60,4 persen, BTN 40,8 persen, dan Bank Mandiri 24,3 persen.

Tidak hanya perusahaan yang selama ini sudah kuat. Kisah kebangkitan juga datang dari BUMN yang sebelumnya menghadapi tekanan berat. Krakatau Steel dan Kimia Farma, yang sempat mencatatkan kerugian, kini berhasil kembali membukukan laba. Arah perbaikannya menunjukkan satu pola yang sama: efisiensi, fokus bisnis, dan pengelolaan aset yang lebih disiplin.

Di sinilah peran Danantara mulai mendapat perhatian.

Pengamat Komunikasi Hendri Satrio menilai Danantara bukan hanya berhasil memperbaiki kinerja sejumlah BUMN, tetapi juga mulai mengembalikan optimisme publik terhadap kemampuan negara mengelola aset strategisnya.

“Jadi memang sudah jelas Danantara mengambil peranan sangat penting dan utama dalam pembangunan Indonesia di masa mendatang. Minimal di periode pertama pemerintahan Presiden Prabowo dan sangat mungkin akan diteruskan di masa depan mengingat peran penting dan strategis yang saat ini dijalani oleh Danantara,” ujarnya.

Apresiasi serupa datang dari Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade. Menurutnya, berbagai langkah pembenahan yang dilakukan Danantara mulai menunjukkan hasil nyata, mulai dari penyederhanaan struktur BUMN hingga peningkatan kinerja perusahaan negara.

“Itu menunjukkan bahwa kemitraan Komisi VI DPR RI dengan Danantara Aset Manajemen sukses. Sukses bagaimana kita bermitra, saling dukung untuk membenahi BUMN-BUMN yang ada,” kata Andre.

Sejumlah pengamat menilai keberhasilan yang mulai terlihat saat ini tidak lahir dari kebijakan jangka pendek. Danantara mendorong perusahaan negara untuk kembali fokus pada bisnis inti, memperkuat sinergi antarbisnis, mengurangi aktivitas yang tidak menciptakan nilai tambah, dan mengoptimalkan aset agar menghasilkan return yang lebih besar bagi negara.

Perubahan tersebut juga mencerminkan pergeseran paradigma yang lebih mendasar. Selama bertahun-tahun, negara sering dipandang hanya sebagai pemilik aset. Kini pendekatan itu mulai bergeser. Negara tidak lagi sekadar memiliki aset, tetapi aktif mengelolanya agar lebih produktif.

Konsep ini dikenal sebagai pergeseran dari passive ownership menuju active ownership. Dalam pendekatan baru tersebut, aset negara tidak cukup hanya tercatat dalam neraca, tetapi harus bekerja, menghasilkan keuntungan, membuka peluang investasi, dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata.

Anggota DPR RI Bambang Soesatyo menilai reformasi BUMN merupakan langkah penting agar perusahaan negara semakin sehat, profesional, dan produktif. Namun, ia mengingatkan bahwa restrukturisasi harus tetap dijalankan secara transparan dan akuntabel agar tujuan akhirnya benar-benar tercapai.

Pada akhirnya, yang sedang diuji hari ini bukan hanya kinerja Danantara sebagai sebuah lembaga baru. Yang sedang diuji adalah model baru pengelolaan kekayaan negara Indonesia.

Jika tren positif ini terus berlanjut, maka capaian laba Rp326 triliun bukan sekadar catatan keuangan tahunan. Angka tersebut dapat menjadi penanda lahirnya cara baru dalam mengelola aset negar. Cara yang menempatkan produktivitas, efisiensi, dan penciptaan nilai sebagai ukuran utama keberhasilan.

Seperti yang ditegaskan Presiden Prabowo dalam pidatonya, kekayaan Indonesia harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dan bagi banyak pihak, perjalanan Danantara saat ini mulai menunjukkan bahwa cita-cita tersebut bukan lagi sekadar konsep, melainkan arah yang perlahan sedang dibangun menjadi kenyataan. (***)