PNM dan Pemkab Solok Jajaki Pengelolaan Sampah Bernilai Ekonomi, Libatkan Nasabah Mekaar

oleh -17 Dilihat
oleh

SOLOK,KLIKSIAR — PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bersama Pemerintah Kabupaten Solok menjajaki kerja sama pengelolaan sampah terpadu yang bernilai ekonomis. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengurangi persoalan limbah sekaligus membuka peluang pendapatan bagi masyarakat.

Langkah tersebut muncul sebagai respons terhadap meningkatnya tantangan pengelolaan sampah di Sumatera Barat, termasuk di Kabupaten Solok. Pertumbuhan aktivitas masyarakat, berkembangnya kawasan wisata, serta keterbatasan kapasitas tempat pembuangan akhir mendorong perlunya solusi yang berkelanjutan.

Wakil Bupati Solok, Chandra, mengatakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat menjadi kebutuhan penting seiring perkembangan sektor pariwisata di daerahnya. Menurutnya, kerja sama dengan PNM dapat membantu menciptakan sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi.

“Kita memulai untuk memikirkan dan melaksanakan pengelolaan sampah ini di lingkungan masyarakat. Kita berharap bisa berkolaborasi dengan PNM untuk program ini agar pengolahan sampah itu bisa bernilai ekonomis dan membantu perekonomian masyarakat,” ujar Chandra, Rabu (12/8/2026).

Ia menilai pengalaman PNM dalam mendampingi masyarakat di tingkat akar rumput menjadi modal penting untuk mengembangkan program tersebut. Dengan pendekatan pemberdayaan, sampah diharapkan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual.

PNM sendiri telah menjalankan berbagai program berbasis lingkungan melalui kelompok nasabah Mekaar di sejumlah daerah. Dalam penjajakan kerja sama ini, perusahaan berpeluang memberikan edukasi pemilahan sampah rumah tangga, pendampingan kelompok masyarakat, hingga dukungan infrastruktur melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Pemimpin Cabang PNM Padang, Hendra Julius, mengatakan tahap awal program akan diawali dengan pemetaan wilayah dan kelompok nasabah yang memiliki potensi untuk terlibat dalam proyek percontohan.

“Kami akan melihat potensi di masing-masing wilayah dan memetakan kelompok nasabah yang siap terlibat. Harapannya, pilot project ini nantinya tidak hanya membantu mengurangi persoalan sampah, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Hendra.

Jika terealisasi secara berkelanjutan, program pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini berpotensi menjadi model pemberdayaan yang menggabungkan kepedulian lingkungan dan penguatan ekonomi keluarga. Melalui sinergi antara pemerintah daerah, PNM, dan nasabah Mekaar, sampah diharapkan tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sumber daya yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. (***)