Padang,Kliksiar– Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas resmi meluncurkan dua produk bioteknologi terbaru pada 2 Juni 2025. Produk ini merupakan hasil riset kolaboratif antara peneliti PDRPI dan mahasiswa S2 Biomedik FK Unand, menambah daftar inovasi laboratorium yang telah berkembang sejak 2012.
Dua produk yang diluncurkan, Taq Polimerase dan Reverse Transcriptase, merupakan bahan baku utama dalam diagnosis molekuler berbasis deteksi materi genetik atau DNA. Produk ini memiliki peran krusial dalam berbagai uji diagnostik, termasuk deteksi Human Papilloma Virus (HPV), Tuberkulosis, infeksi paru (Pneumonia), Thypoid, Covid-19, dan lainnya.
Ketua Tim Peneliti PDRPI FK Unand, Dr. dr. Andani Eka Putra, MSc, menjelaskan bahwa hingga saat ini, kedua enzim tersebut masih diimpor dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, China, dan Eropa. Dengan hadirnya produk lokal ini, biaya reagen PCR akan semakin murah, sekaligus meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari 40-50 persen menjadi 65-80 persen.
Produk ini dikembangkan dengan pendekatan bioteknologi penuh, menggunakan metode kloning untuk menghasilkan protein rekombinan. Gen yang menyandi protein ini disisipkan ke dalam bakteri seperti E. coli, yang kemudian dimanipulasi untuk menghasilkan protein berkualitas tinggi.
Menariknya, produksi Taq Polimerase menggunakan bakteri indukan yang ditemukan di sumber air panas di Solok, seperti Bukit Kili Kecil, Bukik Gadang, dan Batu Bajanjang, dengan spesies Anoxybacillus flavithermus dan Tepidimonas ignava. Sementara itu, Reverse Transcriptase dikembangkan melalui sintesis DNA di laboratorium tanpa menggunakan bakteri indukan.
Keberhasilan ini menjadi pencapaian besar bagi PDRPI FK Unand, mengingat tidak banyak laboratorium riset yang mampu mengembangkan produk protein rekombinan secara mandiri.
“Semua pembiayaan ditanggung oleh industri, yaitu PT Crown Teknologi Indonesia, dan akan digunakan secara penuh oleh mereka. Ini adalah bentuk kerja sama erat antara perguruan tinggi dan industri,” ujar Dr. Andani.
Selain itu, dua produk riset PDRPI juga sedang diuji coba oleh Kementerian Kesehatan, termasuk skrining Tuberkulosis di 8 provinsi dan validasi panel infeksi paru di 3 rumah sakit. TKDN kedua produk otomatis akan meningkat seiring dengan penggunaan protein rekombinan ini.
Ke depan, PDRPI FK Unand semakin agresif dalam pengembangan produk bioteknologi, termasuk vaksin untuk Tuberkulosis dan HPV, serta berbagai produk diagnostik berbasis molekuler dan antibodi.
“PDRPI untuk Indonesia, menuju kemandirian bangsa. Itu tekad dan semangat kami,” tutup Dr. Andani.
(***)







