Peserta IMLF Telusuri Jejak Sejarah Kota Padang, Mengenal Minangkabau Lebih Dekat

oleh -650 Dilihat
oleh

Padang,kliksiar– Waktu seakan berputar, membawa langkah-langkah kecil itu menyusuri lorong-lorong museum, di mana lembaran masa lalu tersimpan rapi dalam arsip dan dokumentasi yang tak terhitung jumlahnya. Sabtu, 10 Mei 2025, peserta International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 2025 menelusuri jejak sejarah Kota Padang melalui kunjungan ke Museum dan Galeri Arsip Statis.

Di tempat ini, sejarah tidak sekadar ditatap dari balik kaca atau sekadar deretan angka yang dicetak pada kertas tua. Ia berbicara. Ia berbisik dalam guratan foto lama, dalam aksara yang dulu menghidupkan narasi tentang perjuangan dan perubahan.

Festival ini berlangsung di tiga kota: Padang, Padang Panjang, dan Bukittinggi. Kepala Bidang Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang, Elvi, menyebut bahwa IMLF bukan sekadar pertemuan akademik atau ajang pertukaran gagasan, tapi sebuah ruang yang memperkuat akar budaya Minangkabau melalui literasi, seni, dan dialog lintas budaya.

“IMLF tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga wadah membangun koneksi antarbangsa melalui literasi,” ujarnya.

Bagi para peserta terutama yang berasal dari luar negeri kunjungan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ia adalah pengalaman langsung dalam mengenal sebuah masyarakat yang bertahan dengan sejarahnya, dengan nilai-nilai luhur yang menjadikan mereka bangsa yang hidup, bukan hanya nama dalam buku sejarah.

Saat kunjungan berlangsung, waktu kembali membuat kejutan. Rombongan siswa SMPN 31 Kota Padang tiba, membawa keceriaan mereka sendiri dalam perjalanan belajar di museum yang sama. Percakapan pun terjalin, tidak dibuat-buat, tidak dipaksakan.

Beberapa siswa bertanya, beberapa peserta IMLF menjawab. Ada hadiah kecil yang berpindah tangan, bukan sebagai transaksi, melainkan sebagai bentuk ingatan. Sebuah pengalaman yang menyeberangi batas usia dan bahasa, lalu menemukan titik temu dalam keingintahuan dan kebersamaan.

IMLF 2025, yang berlangsung dari 8 hingga 12 Mei, menghadirkan 30 pembicara dari berbagai negara. Dengan tema _Language, Literature and Culture for Peace_, festival ini bukan hanya tentang kata-kata, tapi tentang bagaimana literasi bisa menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan sejarahnya, dan manusia dengan manusia lainnya.

Di museum itu, di antara arsip yang mengabadikan jejak masa lalu, orang-orang menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar dokumen. Mereka menemukan percakapan, hubungan, dan pemahaman hal yang menjadikan sejarah bukan sekadar catatan, tapi sesuatu yang hidup. (***)