Padang,Kliksiar—Di sebuah lorong sempit di Kampung Dalam, tempat angin lembut menggamit kenangan dan masa, berdiri sebuah rumah mungil berlantai semen, dindingnya masih wangi pembangunan. Rumah itu bukan istana, namun di sananya tersimpan rasa syukur mendalam dari sepasang suami istri bernama Novrida dan Muharjen. Lima anak mereka kini tak lagi tidur berdesakan, tak lagi menadah bocor langit di malam gerimis.
Sebelumnya, keluarga ini bernaung dalam pusako tinggi—rumah adat Minangkabau yang diwariskan, bukan dipilih, dihuni dengan segala derita yang tak pernah merintih di koran pagi. Rumah itu lapuk, dindingnya diam menahan cerita, dan di sanalah, kehidupan dijalani tanpa keluhan. Hanya diam dan doa.
Dalam langkah mencari obat bagi anaknya yang celaka, Novrida bertemu jalan terang: UPZ BAZNAS Semen Padang. Di sanalah kepedulian bukan sekadar wacana, tapi aksi yang hadir tanpa sorak-sorai. Lewat program Bedah Rumah Layak Huni, mereka diberi sesuatu yang lebih dari bata dan semen—mereka diberi martabat, ruang untuk tumbuh, dan dinding yang melindungi mimpi.
Ketua UPZ, Iskandar S. Taqwa, tidak menepuk dada. Ia hanya mengatakan, “Alhamdulillah.” Sebab dalam pengabdian, kata itu lebih berarti dari tepuk tangan dunia. Rumah Novrida adalah satu dari belasan rumah yang telah dibangun—buah dari zakat para karyawan Semen Padang, yang tak sekadar bekerja, tapi beramal melalui rezeki mereka.
Iskandar Z. Lubis dari Semen Padang pun tak berbicara dengan angka, tapi dengan hati. “Ini bukan sekadar tanggung jawab. Ini jejak langkah perusahaan yang berjalan bersama masyarakat.” Karena zakat bukan cuma angka di neraca, tapi pelita kecil di sudut gelap kehidupan.
Dan ketika malam datang, rumah itu berdiri melawan dingin. Anak-anak Novrida kini tertidur dengan damai. Dari dinding rumah yang baru itu, tumbuh harapan besar—seperti lilin di malam gelap yang menyinari bukan hanya keluarga, tapi sebuah bangsa yang ingin peduli, ingin mengerti arti gotong royong yang sebenar-benarnya. (***)






