PADANG,KLIKSIAR— Sepekan setelah penertiban di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Mega Mendung, Lembah Anai, gema dukungan mengalir dari pelaku pariwisata Sumatra Barat. Salah satunya datang dari Muhammad Zuhrizul, praktisi sekaligus General Manager Geopark Nasional.
Menurutnya, langkah tegas aparat gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementerian Kehutanan patut diapresiasi. “Kita sepakat soal pentingnya konsep alam yang lestari sekaligus bermanfaat,” ujar Zuhrizul, Jumat, 27 Juni 2025, di Padang.
Baginya, sebagian besar destinasi eksotis di Sumbar memang berada di zona rawan hutan, sungai, laut, dan pegunungan. Tapi tak semua wilayah bisa diperlakukan sama. Ia menekankan pentingnya klasifikasi risiko: rendah, menengah, dan tinggi. “Pemerintah tak selalu menertibkan demi kepentingannya sendiri. Justru untuk kepentingan masyarakat dan pengunjung,” katanya.
Memori Galodo dan Ketegasan yang Terlambat
Tragedi galodo setahun silam masih melekat di ingatan publik. Terjangan air bah memakan korban jiwa dan meluluhlantakkan bentang alam Lembah Anai. Penertiban Mega Mendung, menurut Zuhrizul, adalah respons terhadap memori pahit itu langkah preventif demi menyelamatkan nyawa warga dan wisatawan.
“Bencana alam tak bisa diprediksi. Bisa datang siang saat ramai pengunjung, atau malam ketika semua terlelap. Karena itu, pemerintah memang harus bertindak tegas,” ujar sosok yang akrab disapa Ma Etek itu.
Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tak semata menertibkan. Ada warga yang menggantungkan hidup di sekitar Lembah Anai. “Solusi harus disiapkan. Jangan sampai masyarakat kehilangan mata pencaharian tanpa arah baru,” katanya.
Bangun Pariwisata yang Tangguh
Zuhrizul mengusulkan paradigma baru: pariwisata berbasis mitigasi bencana dan ketahanan pangan. “Ketahanan pangan adalah bagian dari bencana juga. Kalau masyarakat kekurangan makanan, itu bentuk krisis,” ujarnya.
Ia juga menekankan perlunya pengawasan ketat dan berkelanjutan di kawasan wisata rawan bencana. Tak cukup dengan papan peringatan dan patroli sesekali. “Kita butuh sosialisasi masif untuk mengubah cara pandang pengelola dan wisatawan. Peradaban harus diletakkan di atas kesadaran risiko,” katanya lugas.
Sumatra Barat, dengan kekayaan lanskap alamnya, menyimpan potensi pariwisata luar biasa. Tapi potensi itu bukan tanpa bahaya. Di titik inilah, menurut Zuhrizul, ketegasan regulasi menjadi garis pemisah antara destinasi yang menyenangkan dan tragedi yang mengintai.
“Penertiban tak boleh setengah hati. Kita sedang bicara soal keselamatan,” pungkasnya. (***)








