Alumni Unand Gagas Diskusi Panel: Soroti Masalah Krusial Sumbar Jelang Kongres VII

oleh -533 Dilihat
oleh

Padang — Kongres VII DPP IKA Unand 2025 belum digelar, tapi para alumni sudah tancap gas. Prihatin dengan dinamika Sumbar hari ini, mereka mulai mengumpulkan gagasan lewat diskusi panel yang dijadwalkan berlangsung di Convention Hall Unand, dengan tajuk: mencari solusi, bukan hanya bicara soal masalah.

“Kita prihatin. Salah satunya soal LGBT. Data menunjukkan Sumbar termasuk provinsi dengan kasus tertinggi di Indonesia. Ini harus jadi perhatian bersama,” ujar Koordinator Bidang Acara, Arina Widya Murni, dalam rapat persiapan kongres, Sabtu (20/7).

Rapat dipimpin oleh Ketua Panitia, Muhammad Riendra. Dalam forum itu, nama-nama calon panelis mulai muncul. Prof. Henmaidi diusulkan sebagai pemantik diskusi. Untuk sektor politik, Gamawan Fauzi diminta turun panggung. Di bidang kesehatan, hadir nama Dr. Armen Ahmad. Adat dan budaya diwakili Prof. Raudhah Taib. Isu agama dipercayakan ke Ketua UPZ, Rahmadi Kurnia. Ekonomi? Prof. Elfindri. Tak ketinggalan unsur mahasiswa, lewat ketua BEM dan anggota MWA. Pemimpin Redaksi Padang TV, Nashrian Bahzein, digadang sebagai moderator.

Tak hanya diskusi, panitia juga merancang kegiatan lain: dari tabligh akbar bersama ustad nasional, sterilisasi kucing kampus Unand Limau Manih, sampai sesi berbagi kiat lolos ke PTN bagi siswa SMA sederajat.

“Awalnya kita jadwalkan kongres pada 4 Oktober, tapi setelah melalui pembahasan, disepakati 8 November. Puncaknya adalah pemilihan ketua umum DPP IKA Unand untuk periode 2025–2029,” ujar Riendra, yang juga menjabat Ketua Harian DPP IKA Unand.

Nama-nama calon ketua mulai ramai dibicarakan. Di antaranya Wakil Menteri BUMN Dony Oskarya, Wakil Menteri ESDM Yuliot, Wakil Menteri UMKM Helvy Yuni Moraza, Direktur Utama Pertamina International Shipping Surya Tri Harto, serta dua anggota DPR RI: Shadiq Pasadigoe dan Rahmat Saleh.

Kongres belum dimulai, tapi arus ide dan aspirasi sudah mengalir deras. IKA Unand tampaknya tak ingin sekadar merayakan reuni, tapi benar-benar mengarahkan bidik ke masa depan Sumatera Barat. (***)