Randang Seribu Tungku di Hari Bhayangkara: Polda Sumbar Memasak, Budaya Memeluk Bangsa

oleh -403 Dilihat
oleh

*Padang,Kliksiar– Aroma kelapa sangrai dan daging sapi yang dimasak perlahan membubung ke udara Minggu pagi itu, 22 Juni 2025. Di Jalan Sudirman, tepat di depan Markas Kepolisian Daerah Sumatera Barat, 100 tungku menyala serentak, masing-masing dijaga oleh regu-regu Bhayangkari dengan tangan terlatih. Mereka tak sekadar menanak rendang. Mereka menulis ulang sejarah dapur sebagai ruang budaya, bahkan mungkin diplomasi.

Sebanyak 1.000 anggota Bhayangkari dari seluruh jajaran Polda Sumbar berkumpul dalam momen yang langka dan berani: memasak 1 ton daging sapi menjadi randang Minangkabau. Bukan untuk dijual, bukan untuk pesta elite melainkan untuk dihidangkan kepada siapa saja yang datang. Masyarakat umum, instansi, tamu kehormatan, bahkan pengendara yang melintas.

Kapolda Sumatera Barat, Irjen Pol Gatot Tri Suryanta, berada di balik ide besar ini. Ia bukan sekadar pencinta kuliner, melainkan penyair strategi sosial dalam bentuk uap panas dan wajan besi. “Ini bukan soal rekor, tapi tentang bagaimana budaya bisa mempererat institusi dengan rakyat,” katanya, sambil sesekali menyapa peserta yang sibuk mengaduk kuali.

Dua kategori rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pun jadi target: jumlah Bhayangkari terbanyak yang marandang dalam satu waktu, dan jumlah rendang berbahan daging sapi terbanyak yang dimasak secara bersamaan. Tapi ini bukan kompetisi, melainkan manifestasi. Bahwa dapur bisa lebih bergema dari podium.

Susmelawati Rosya, Kepala Bidang Humas Polda Sumbar, menyebut kegiatan ini sebagai penguat jati diri. “Kami ingin Bhayangkari ikut merawat nilai-nilai lokal. Randang bukan hanya kuliner, ia adalah narasi kolektif,” ujarnya.

Tak berlebihan. Sebab randang bukan hidangan cepat saji. Ia dimasak pelan, sabar, dengan tahapan penuh keharmonisan bumbu yang tak akan didapat dari masakan instan. Seperti hubungan ideal antara institusi dan rakyat: tidak tergesa, tidak saling membakar, tapi saling menjaga hingga matang.

Di balik 100 tungku, ada 10.000 porsi randang lengkap dengan nasi yang menanti dibagikan. Di balik 1 ton daging, ada upaya membangun citra Polri yang lebih membumi. Dalam semangat Hari Bhayangkara ke-79, tradisi Minang tak sekadar jadi ornamen, tetapi diperlakukan setara dengan peraturan dan strategi sebagai perekat sosial.

Irjen Gatot bukan sekali ini menggandeng nilai lokal. Di bawah kepemimpinannya, Polda Sumbar juga menggalakkan Subuh berjamaah di Polres, program Khatam Al-Qur’an, gerakan Zero Tawuran dan Balap Liar, hingga membentuk komunitas “Sahabat Kapolda” di daerah-daerah. Semua upaya itu bukan untuk pencitraan belaka, tapi membentuk atmosfer bahwa polisi bisa hadir dengan senyum dan sapaan.

Ketika ribuan tangan perempuan Bhayangkari mengaduk rendang di tengah terik dan asap pekat, di situ barangkali tersimpan makna yang lebih luas dari sekadar masak massal bahwa di negeri ini, keamanan tidak hanya dibangun lewat pagar kawat dan rotan panjang, tapi juga dari kehangatan dapur, resep leluhur, dan semangat kebersamaan yang direbus dalam wajan besar bernama Indonesia.  (***)