Santri Riau Duduk di Kursi Dewan: DPRD Sumbar Buka Pintu, Buka Wawasan

oleh -225 Dilihat
oleh

PADANG,KLIKSIAR— Gedung DPRD Sumatera Barat hari itu tak hanya jadi tempat sidang, tapi juga ruang belajar. Rabu (17/9), puluhan santri kelas XII dari MAS Al-Ihsan Boarding School, Riau, datang bukan untuk demo, tapi untuk belajar demokrasi dari jantungnya langsung.

Mereka disambut hangat oleh Anggota Komisi I, Irsyad Safar, dan Sekretaris Dewan, Maifrizon. Bukan sekadar kunjungan, ini adalah edukasi politik yang nyata bukan dari buku, tapi dari praktik.

Di ruang sidang utama, para santri menyimak paparan Irsyad tentang tiga fungsi utama DPRD legislasi, anggaran, dan pengawasan. Tapi Irsyad tak berhenti di teori. Ia bicara tentang bagaimana perda lahir, bagaimana aspirasi masyarakat dijaring, dan bagaimana DPRD tak mengenal jam kerja karena tugasnya justru ada di tengah rakyat.

“Selamat datang di rumah rakyat. Semangat belajar kalian adalah harapan kami. DPRD bukan hanya tempat bicara, tapi tempat mendengar,” kata Irsyad, membuka sesi.

Ia menjelaskan bahwa perda bisa lahir dari dua pintu eksekutif dan legislatif. “Kalau dari DPRD, itu namanya hak inisiatif. Dan itu bukan sekadar hak, tapi tanggung jawab,” ujarnya.

Soal anggaran, Irsyad mengurai proses panjang dari Musrenbang kecamatan hingga kabupaten/kota. “Kami tidak hanya menyusun angka. Kami menyusun harapan,” katanya.

Pengawasan pun tak luput. Komisi-komisi di DPRD rutin mengevaluasi kinerja OPD. “Kami bukan pengamat, kami pengawal,” tegasnya.

Salah satu santri bertanya soal jam kerja dewan. Irsyad menjawab lugas, “Tak ada jam masuk kantor. Karena tugas kami adalah menjaring aspirasi. Dan itu tak kenal waktu.”

Pertemuan ditutup dengan penjelasan teknis soal jenjang pembentukan perda, badan-badan di DPRD, dan proses pengesahan di rapat paripurna. Para santri pulang bukan hanya dengan catatan, tapi dengan pengalaman.

Hari itu, demokrasi tak hanya dipelajari. Ia dirasakan. (***)